Dari IPO Fenomenal Hingga Akuisisi Raksasa: Mengupas Tuntas Bending Spoons, Sang Penguasa Baru Dunia Digital

Herfansyah

Milan – Perusahaan teknologi asal Milan, Italia, Bending Spoons, baru-baru ini menjadi sorotan utama setelah berhasil melantai di bursa saham Nasdaq. Langkah ini tidak hanya mengukuhkan posisinya sebagai pemain global, tetapi juga membuka tabir kiprahnya yang terbilang singkat namun fenomenal. Bending Spoons, yang kini dikenal sebagai pemilik merek-merek ternama seperti AOL dan Vimeo, sukses menarik perhatian investor dengan strategi akuisisinya yang unik.

Awalnya, Bending Spoons membuka perdagangan dengan lonjakan nilai kapitalisasi pasar yang sempat menyentuh angka fantastis lebih dari 25 miliar dolar AS. Meski ada sedikit penurunan pasca-IPO, valuasi perusahaan kini dua kali lipat dari penilaian sebelumnya saat masih swasta, yaitu 11 miliar dolar AS. Hal ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap model bisnis dan portofolio Bending Spoons yang terus berkembang.

Strategi Bending Spoons seringkali disamakan dengan private equity. Perbedaannya, perusahaan ini cenderung mempertahankan merek-merek yang diakuisisinya. Fokus utamanya adalah meningkatkan kesuksesan finansial melalui inovasi teknologi, kecerdasan buatan (AI), hingga penyesuaian harga dan restrukturisasi tim, yang terkadang menuai kontroversi.

Matteo Danieli, salah satu pendiri dan chief product officer, mengakui adanya kritik terhadap beberapa akuisisi, seperti Evernote yang memiliki basis pengguna setia. Namun, ia mengklaim bahwa tingkat retensi pelanggan tetap stabil meskipun ada perubahan signifikan.

Selama 13 tahun eksistensinya, Bending Spoons telah membangun basis pengguna yang masif. Hingga Maret 2026, portofolio mereka melayani lebih dari 500 juta pengguna aktif bulanan dan lebih dari 9 juta pelanggan berbayar. Angka ini membantah narasi bahwa Bending Spoons hanya mengakuisisi perusahaan yang sedang kesulitan.

"Merek ‘internet lama’ adalah cara pandang yang keliru," ujar Joe Hyrkin, pendiri platform penerbitan digital Issuu yang diakuisisi Bending Spoons pada 2024. "Mereka mengakuisisi produk dengan perilaku pelanggan yang nyata, lalu mengintegrasikannya ke dalam sistem terpusat." Strategi ini terbukti berhasil, dengan Bending Spoons melaporkan pendapatan 1,31 miliar dolar AS pada 2025.

Perjalanan Bending Spoons dimulai dari sisa-sisa Evertale, startup asal Kopenhagen yang gagal mengembangkan aplikasi berbagi foto bernama Wink. Para pendiri dan beberapa karyawan Evertale kemudian membentuk Bending Spoons dan memulai perjalanannya dengan mengakuisisi produk digital.

Perusahaan ini sempat membuat pengecualian pada 2020 dengan menciptakan dan mendonasikan Immuni, aplikasi pelacak kontak COVID-19 resmi Italia. Namun, fokus utama mereka tetap pada formula identifikasi produk populer, peningkatan internal, dan akuisisi dari pemilik yang mencapai batasnya.

Bending Spoons awalnya beroperasi secara mandiri sebelum akhirnya menggalang pendanaan ekuitas pada 2022, 2024, dan 2025. Sebelum IPO, mereka mendapat dukungan dari tokoh-tokoh besar di industri teknologi seperti Eric Schmidt, Mike Krieger, dan Xavier Niel, serta para bintang seperti Andre Agassi dan The Weeknd.

Setelah akuisisi, Bending Spoons aktif melakukan perubahan pada pengalaman pengguna, fitur, strategi monetisasi, dan struktur tim. Meski beririsan dengan strategi private equity, Bending Spoons mengklaim tidak pernah menjual bisnis yang diakuisisi, melainkan membangun portofolio yang hidup.

Beberapa akuisisi paling menonjol terjadi belakangan ini. Pada 2022, mereka mengakuisisi Filmic, diikuti oleh Evernote pada awal 2023. Tahun 2024 menjadi tahun yang sangat sibuk dengan akuisisi Meetup, Mosaic Group, StreamYard, Issuu, dan WeTransfer. Bending Spoons juga mengakuisisi Brightcove, Komoot, dan Harvest. Puncaknya, mereka mengumumkan rencana akuisisi Vimeo senilai 1,38 miliar dolar AS dan AOL dari Yahoo, serta Eventbrite senilai 500 juta dolar AS.

Kini, empat pendiri Bending Spoons, Matteo Danieli, Luca Ferrari, Francesco Patarnello, dan Luca Querella, memegang kendali penuh. IPO menjadikan mereka miliarder di atas kertas. Transformasi pasca-akuisisi, terutama pada AOL, Eventbrite, dan Vimeo, akan berdampak pada pengurangan jumlah karyawan, dengan proyeksi hanya ratusan yang akan tersisa setelah 2026.

Meskipun demikian, produktivitas per karyawan meningkat pesat, sebagian didorong oleh kemajuan AI. Pendapatan per karyawan Bending Spoons melonjak dari 1,12 juta dolar AS pada 2023 menjadi 2,57 juta dolar AS pada 2025. Perusahaan ini optimis bahwa ketidakpastian ekonomi global justru membuka peluang akuisisi dengan valuasi yang lebih menarik. Bending Spoons terus memindai ribuan peluang akuisisi, menunjukkan ambisi mereka untuk terus tumbuh di kancah digital global.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All