Pesta Piala Dunia di Kanada: Siapa yang Sebenarnya Merayakan?

Danu Ilham

Toronto – Suasana riuh di The Wheatsheaf, bar tertua di Toronto, pada Sabtu siang itu terasa janggal. Di satu sudut, sekelompok penggemar GAA Irlandia tampak muram. Tim kesayangan mereka baru saja kalah telak. Namun, di tengah kekecewaan itu, ada secercah harapan lain. Mereka punya tim lain untuk didukung di Piala Dunia.

Aneh memang. Kanada menjadi tuan rumah bersama turnamen akbar ini. Namun, tim nasional mereka justru bertanding jauh di selatan, di Houston, Texas. Hal ini terjadi karena Kanada menempati posisi kedua di babak grup. Di The Wheatsheaf, lautan warna merah putih Kanada memenuhi bar. Penggemar berkumpul untuk laga babak 16 besar. Seorang pria bahkan mengenakan jersey legendaris Manchester United 1999 milik David Beckham. Semangat patriotisme Kanada terasa membuncah.

Momen kebersamaan itu sempat terpecah ketika Wayne Gretzky muncul di layar televisi. Sosok legendaris hoki es Kanada itu justru disambut cemoohan meriah dari para penggemar. Gretzky memang tengah menuai kritik di tanah kelahirannya. Salah satunya karena kedekatannya dengan Donald Trump.

Namun, momen kebersamaan itu hanya sesaat. Kecuali teriakan dukungan untuk Tani Oluwaseyi yang memaksa kiper Yassine Bounou melakukan penyelamatan ala hoki, pertandingan terasa berjalan tanpa gairah. Ada semacam kepasrahan.

Gol Azzedine Ounahi di menit kelima babak kedua semakin memadamkan optimisme. Absennya Alphonso Davies yang dinanti-nantikan semakin mengikis harapan. Saat peluit akhir berbunyi, tidak ada reaksi berlebihan. Hanya tepuk tangan pelan. Tanpa kemarahan, tanpa kekecewaan mendalam. Keramaian di bar itu mendadak sepi.

Sepanjang minggu, pertandingan Kanada – yang seharusnya menjadi laga bersejarah – justru kalah pamor. Ada tim lain yang benar-benar membuat jalanan lumpuh.

Kedatangan timnas Portugal ke Toronto disambut gegap gempita oleh diaspora yang fanatik. Ratusan penggemar nekat menghentikan kendaraan di jalan tol demi melihat bus tim dari bandara. Polisi terpaksa menutup sebagian jalan. Namun, ini belum seberapa. Ribuan pendukung memadati sesi latihan tim. Mereka juga memadati acara-acara di pusat kota. Selama tiga hari, mereka berkumpul di luar hotel tim. Cristiano Ronaldo pun muncul di balkon, melambai kepada penggemar yang mengidolakannya. Media massa turut meramaikan euforia. Mereka meliput restoran yang dikunjungi ibu dan saudara perempuan Ronaldo. Saat Portugal meninggalkan Toronto, para penggemar kembali memadati jalanan untuk memberikan sambutan perpisahan yang meriah.

Sulit untuk tidak merenungkan nasib sepak bola Kanada. Mereka adalah tuan rumah bersama Piala Dunia, namun euforia yang menyertainya terasa berbeda. Memang, ada perayaan saat Cyle Larin mencetak gol ke gawang Bosnia dan Herzegovina. Ada pula kegembiraan saat Kanada menang telak 6-0 atas Qatar. Serta emosi kemenangan gol Stephen Eustáquio melawan Afrika Selatan.

Namun, semua itu tak sebanding dengan luapan kegembiraan yang dialami Portugal. Begitu pula Mesir yang berpesta bersama penggemar usai menang 3-1 atas Selandia Baru di Vancouver. Di tengah hiruk-pikuk tim-tim lain, mengapa Kanada sulit mendapatkan euforia yang sama?

Ini bukan gaya Kanada. Batas antara riuh dan berlebihan seringkali tipis. Pelatih Jesse Marsch sempat dikritik karena merayakan kemenangan pertama Piala Dunia pria Kanada atas Qatar. Gaya khas Kanada adalah santun, bijaksana, dan terlalu pragmatis.

Kanada menjadi mitra junior dalam penyelenggaraan Piala Dunia ini. Nama mereka memang tertera, namun peran mereka tidak sepenting yang dibayangkan. Meskipun ada investasi besar, mereka belum mendapatkan sorotan utama. Mereka telah melakukan pekerjaan yang baik, menciptakan momen-momen tak terlupakan. Namun, pertanyaan besar masih menggantung: apa selanjutnya?

Bangku tambahan di Stadion Toronto akan segera dibongkar. Di Vancouver, fokus kembali pada masa depan klub profesional pria di kota itu. Nasib CF Montreal masih abu-abu. Kelangsungan liga sepak bola profesional pria domestik juga dipertanyakan. Sumber investasi dan infrastruktur masa depan belum jelas.

Di tengah euforia Piala Dunia, jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini masih minim. Semua orang menunggu dan melihat. Terlalu pragmatis. Sejarah sepak bola Kanada dipenuhi dengan kata "nyaris" dan kesempatan yang terlewatkan. Semoga Piala Dunia kali ini tidak menjadi cerita yang sama.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All