Di Amerika Serikat, euforia Piala Dunia terasa terbatas di stadion dan area fan zone. Berbeda 180 derajat saat berada di Brasil, negara yang dijuluki "tanah sepak bola". Di sini, sepak bola bukan sekadar olahraga. Ia adalah denyut nadi kehidupan.
Rodrygo, pemain tim nasional Brasil, menggambarkan perbedaan mencolok ini. Saat mengikuti timnas di Amerika Utara, ia merasakan betapa sepak bola memiliki daya tarik terbatas. Amerika Serikat memiliki banyak olahraga populer lain. NFL, bisbol, dan bola basket bersaing ketat. Ditambah lagi, Olimpiade juga menyita perhatian.
"Pengalaman saya di sana membuat saya yakin bahwa sepak bola bukanlah hal terbesar di Amerika Serikat," ujar Rodrygo. Data pun mendukung pandangannya. Industri olahraga AS jauh lebih beragam.
Kembali ke Brasil, atmosfernya berubah total. Piala Dunia menjadi momen katarsis bagi rakyatnya. Kesempatan bagi jutaan orang untuk bangga. Menunjukkan kepada dunia kemampuan mereka. Terutama sebagai negara dengan lima bintang juara dunia.
"Ini bukan hanya tentang jumlah trofi," jelas Rodrygo. "Tetapi juga tentang intensitas koneksi kami dengan olahraga ini." Kecintaan pada ‘Seleção’, julukan timnas Brasil, begitu mendalam. Kegembiraan saat bermain sepak bola adalah segalanya.
Di Brasil, televisi selalu menyiarkan pertandingan sepak bola. Dari mana pun di dunia. Olahraga lain seperti voli, motorsport, dan basket memang populer. Namun, tak bisa menandingi dominasi sepak bola.
Ritme kehidupan di Brasil sangat dipengaruhi kemajuan timnas di Piala Dunia. Jadwal kerja dan layanan publik pun bisa beradaptasi. "Kami akan mengejar ketertinggalan setelah pertandingan," kata Rodrygo.
Semangat semakin membara seiring langkah timnas. Hasil imbang melawan Maroko, lalu kemenangan atas Haiti dan Skotlandia di fase grup. Kemenangan melawan Jepang semakin memanaskan suasana. Kini, Norwegia menanti di babak 16 besar.
Perayaan besar tak terhindarkan saat timnas bertanding. Namun, masyarakat Brasil juga menikmati turnamen secara keseluruhan. Pertandingan berkualitas tinggi, seperti Belanda vs Jepang, Ekuador vs Jerman, Uruguay vs Spanyol, Portugal vs Kroasia, Prancis vs Swedia, dan Inggris vs Kongo, selalu dinikmati.
"Baik Anda di ibu kota maupun desa kecil, sepak bola adalah matahari kami," ungkap Rodrygo. Kehidupan berputar mengelilinginya.
Obrolan sehari-hari pun mencerminkan hal ini. Ajakan menonton konser atau bioskop seringkali disesuaikan. "Bisakah kita melakukannya setelah timku/timnas/tim mana pun bermain?" adalah pertanyaan umum.
Saat Brasil melawan Norwegia, keluarga akan berkumpul. Menonton bersama di televisi atau layar besar. Dari anak-anak hingga orang tua. Ada analisis pra-pertandingan. Ada pula perdebatan 200 juta "pakar" nasional.
Sembilan puluh menit pertandingan adalah segalanya. Ekstra waktu atau adu penalti pun diharapkan. Demi memperpanjang euforia. Obrolan pasca-pertandingan bisa berlangsung tanpa batas. Terutama jika bertepatan dengan akhir pekan atau libur. Ritual ini menambah kilau tersendiri.











