AS Kuasai Pasar Senjata Global, Indonesia Jadi Pembeli Terbesar Amunisi Bernilai Miliaran Dolar

Emanuel

Jakarta, CNBC Indonesia – Di tengah perayaan 250 tahun kemerdekaannya, Amerika Serikat (AS) semakin mengukuhkan posisinya sebagai raja ekspor senjata dunia. Data terbaru menunjukkan bahwa AS tidak hanya unggul dalam kekuatan militer, tetapi juga mendominasi pasar perdagangan alutsista global, termasuk memasok amunisi bernilai miliaran dolar ke Indonesia.

Lembaga penelitian independen Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) melaporkan bahwa AS menjadi eksportir senjata terbesar di dunia pada periode 2021-2025. Nilai ekspor senjata Paman Sam melonjak 27% dibandingkan periode lima tahun sebelumnya. Pangsa pasar AS dalam ekspor senjata global kini mencapai 42%, sebuah angka yang menunjukkan dominasi signifikan.

SIPRI mencatat bahwa AS mengekspor produk pertahanannya ke 99 negara. Luasnya jangkauan pasar ini mencerminkan kekuatan industri pertahanan AS yang merambah berbagai belahan dunia. Dominasi ini juga sangat terasa dalam catatan perdagangan Indonesia.

Data Satu Data Kementerian Perdagangan menunjukkan lonjakan tajam impor senjata Indonesia dari AS pada tahun 2025. Nilai impor untuk lima kelompok produk Harmonized System (HS) yang berkaitan dengan senjata mencapai US$12,31 miliar. Angka ini meroket drastis dibandingkan tahun 2024 yang hanya sebesar US$41,98 juta. Kenaikan ini setara dengan hampir 293 kali lipat dalam kurun waktu satu tahun.

Rincian data menunjukkan bahwa kontribusi terbesar berasal dari kelompok HS 9306, yang mencakup amunisi, rudal, bom, dan ranjau. Nilai impor Indonesia untuk kategori ini dari AS mencapai US$9,263 miliar pada 2025. Padahal, pada tahun 2024, nilainya baru sekitar US$10,84 juta.

Kenaikan signifikan lainnya terlihat pada kelompok HS 9305, yang meliputi suku cadang dan aksesori senjata. Nilainya mencapai US$1,914 miliar pada 2025, melonjak dari hanya US$640.700 di tahun sebelumnya. Ini mengindikasikan bahwa impor Indonesia tidak hanya terbatas pada produk jadi, tetapi juga komponen penting. Kelompok HS 9302, yang mencakup pistol dan revolver, juga mengalami lonjakan, mencapai US$1,118 miliar pada 2025 dari US$238.800 di 2024.

Namun, tidak semua kategori impor senjata dari AS mengalami kenaikan. Kelompok HS 9301, yang mencakup senjata militer selain pistol dan revolver, justru mengalami penurunan. Nilainya tercatat US$14,2 juta pada 2025, lebih rendah dari US$30,23 juta pada 2024.

Hubungan pertahanan Indonesia dengan AS memiliki sejarah panjang yang tidak hanya sebatas transaksi impor. Pengadaan pesawat tempur F-16 sejak tahun 1989 menjadi bukti kerja sama strategis yang mencakup pelatihan pilot, dukungan teknis, perawatan, hingga modernisasi jangka panjang. Hibah 24 pesawat F-16 di periode berikutnya semakin memperkuat armada udara Indonesia dan menegaskan kemitraan pertahanan kedua negara.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All