Di balik kemegahan Piala Dunia yang disponsori Aramco, terbentang kisah pilu di Port Arthur, Texas. Sebuah kota yang dihimpit oleh industri minyak raksasa, warganya hidup dalam bayang-bayang polusi dan kemiskinan, kontras dengan citra gemilang sang sponsor.
Jamal Johnson, warga Port Arthur, berjalan pulang. Ia membawa tas belanjaan di tengah keheningan. Rumah-rumah kayu sederhana berjejer di sisi jalan. Namun, pemandangan itu terganggu oleh siluet raksasa di seberang rel kereta api. Itu adalah kilang minyak Motiva, salah satu yang terbesar di Amerika Serikat.
"Banyak teman dan keluarga yang sakit aneh," ujar Johnson. Kakek dan bibinya meninggal akibat kanker. Paman mengalami komplikasi ALS. Ia menambahkan, "Gas beracun terus dilepaskan." Lingkungannya disebut sebagai "neraka."
Kilang Motiva seluas 3.600 hektar ini kini sepenuhnya dimiliki Aramco sejak 2017. Aramco adalah mitra global utama FIFA. Perusahaan minyak Arab Saudi ini mendominasi layar televisi selama Piala Dunia. Kampanye mereka terlihat di stadion dan festival penggemar di Houston.
Namun, di Port Arthur, 160 kilometer dari Houston, kemeriahan itu tak terasa. Kota dengan 55.000 penduduk ini terpuruk. Studi 2021 menyebutnya kota termiskin di Texas. Pendapatan rumah tangga median rendah. Hampir 30% warganya hidup di bawah garis kemiskinan.
Angka kasus kanker di Port Arthur jauh di atas rata-rata Texas. Tingkat kematian kanker di komunitas kulit hitamnya 40% lebih tinggi. Asma pada anak-anak hampir dua kali lipat rata-rata nasional. Penyakit jantung dan masalah kulit juga merajalela.
Greg Richard, warga lain, menyebut tempat ini "sangat menyedihkan." Port Arthur dikelilingi kilang minyak. Selain Motiva, Valero dan Total juga memiliki fasilitas di sana. Namun, warga merasa manfaat ekonomi tak pernah sampai kepada mereka. "Seharusnya jalanan di sini dilapisi emas," keluhnya.
Warga Port Arthur hidup dalam kecemasan akan dampak emisi industri. Benzena, karsinogenik, dilepaskan dalam jumlah tinggi. Metana, karbon dioksida, dan sulfur dioksida juga menjadi ancaman. Pelanggaran aturan emisi sering terjadi.
Motiva pernah didenda karena pelepasan sulfur dioksida. Tahun lalu, mereka dikenai sanksi lagi. Pada 2022, denda besar diberikan akibat kebocoran air terkontaminasi. Tiga insiden ini terjadi setelah Aramco mengambil alih. Insiden ledakan di kilang Valero tahun ini juga melepaskan ribuan kilogram bahan kimia.
Hilton Kelley, aktivis lingkungan yang tumbuh di Port Arthur, merasakan dampak langsungnya. Ia kehilangan banyak teman sebaya akibat kanker. "Jennifer Benson, dia tinggal dua blok dari Motiva, baru berusia 25 tahun. Darlene Ford, John Lando, Eddie Brown. Kanker, kanker, kanker," ia merinci.
Warga di sisi barat kota, yang dulu terpisah karena hukum rasial Jim Crow, tak lagi berani menanam sayuran di luar. Lapisan debu dan noda hitam menutupi hasil panen mereka. Anak-anak kecil pun sering menggunakan alat bantu pernapasan.
Charles, seorang tukang kayu, merasa tak punya pilihan. "Saya sudah menanam terlalu banyak akar di sini. Saya hanya berdoa agar bisa bertahan," katanya. Ia merasa tertindas oleh industri yang telah membunuh warganya.
Dulu, Houston Avenue, jalan utama menuju kilang Motiva, ramai. Disebut "Little New York." Kini, banyak lahan kosong. Bekas auditorium tempat musisi terkenal tampil, toko, dan klub malam telah rata dengan tanah. Kota yang dulunya pusat aktivitas ekonomi ini kini terpuruk.
Aramco dan perusahaan lain tak banyak merekrut warga lokal. Mereka lebih memilih pekerja dari luar, yang upahnya lebih murah. "Tenaga kerja lebih murah dari selatan perbatasan," ujar Kelley. "Mungkin mereka tidak mengeluh sebanyak pekerja Amerika jika tahu situasinya berbahaya."
John Beard Jr., mantan pekerja kilang dan aktivis, menyebutnya "rasisme lingkungan." Ia mengkritik hilangnya nilai properti akibat polusi. Rumah yang seharusnya bernilai ratusan ribu dolar, kini sulit terjual. Perusahaan minyak dituding memanfaatkan situasi ini untuk membeli properti dengan harga murah.
"Mereka ingin kita pergi dari sini," kata Johnson. "Mereka ingin membuat ini jadi lahan kilang." Shirley, yang rumahnya berdekatan dengan Motiva, mengalami banjir limbah kilang saat badai Harvey 2017. Ia tak mau menjual rumahnya dengan harga murah.
Di lapangan sepak bola Gulf Coast Youth Soccer Club, anak-anak bermain. Beard bertanya, "Di mana Aramco atau FIFA di lapangan sepak bola kami?" Ia heran mengapa sponsor besar itu tak berkontribusi di lingkungan tempat mereka berbisnis. "Ini uang darah," tegasnya.
Kelley mengakui ada perbaikan dalam pengendalian polusi di Motiva. Namun, Beard skeptis. "Ini seperti minum setengah galon racun daripada satu galon." Ia menuntut pengurangan polusi hingga nol.
Fifa mengklaim memiliki kode sumber daya berkelanjutan. Kode ini mewajibkan sponsor mengelola dampak lingkungan. Namun, tak jelas apakah Aramco mematuhinya di Port Arthur.
Bagi Port Arthur, janji dan dokumen strategi tak cukup. Perlu perubahan fundamental dalam aktivitas perusahaan energi dan hubungan mereka dengan komunitas. "Kita berada di perut binatang buas," kata Beard. "Tidak ada alasan Port Arthur harus seperti ini."











