Minions & Monsters: Tawa Tanpa Logika, Nostalgia Era Hollywood Klasik

Danu Eko

Jakarta, CNN Indonesia — Film terbaru "Minions & Monsters" kembali membuktikan pesona para Minion tak lekang oleh waktu. Aksi-aksi konyol mereka tetap mampu mengundang gelak tawa penonton. Film ini menawarkan konsep unik yang membawa nuansa era keemasan Hollywood, membangkitkan nostalgia bagi para penggemar setia.

Disutradarai oleh Pierre Coffin dan Patrick Delage, cerita film ini mengalir cepat. Pierre Coffin dan Brian Lynch selaku penulis naskah, menyajikan petualangan seru khas Minion yang mudah dinikmati penonton cilik. Formula cerita yang mirip dengan film-film Minion sebelumnya kembali digunakan.

Fokus utama film ini adalah sajian aksi kocak para Minion. Namun, formula ini terkadang meninggalkan catatan bagi penonton dewasa. Alur cerita yang bergerak cepat dari satu adegan ke adegan lain, dalam durasi 90 menit, minim ruang untuk pencernaan drama. Penonton seolah dipaksa menelan cerita tanpa jeda.

Film ini juga terasa kurang memberikan ruang bagi perkembangan karakter. Meskipun ada beberapa karakter yang mendapat sorotan, seperti alien Dort dengan kisah cintanya yang unik, karakter lain seperti Ed, yang memiliki peran penting, kurang tergarap.

Karakter antagonis Goomi, dengan penampilannya yang meragukan, juga menjadi poin menarik. Film ini mencoba menyampaikan pesan tentang penampilan yang menipu. Namun, latar belakang dan motivasi Goomi minim penjelasan. Monster bernama Irene pun seharusnya mendapat porsi cerita lebih banyak.

Keputusan sutradara dan penulis naskah ini mungkin didasari oleh gaya penceritaan film lawas yang tegas memisahkan karakter baik dan jahat. Atau bisa jadi terkait anggaran produksi yang mencapai US$85 juta.

Kehadiran teknologi alien canggih di latar Los Angeles era 1920-an terasa sedikit janggal. Namun, mengingat tujuan utama film ini adalah hiburan dan tawa dari tingkah Minion, hal tersebut dapat dikesampingkan.

Secara visual, "Minions & Monsters" menyajikan kualitas animasi yang memukau. Illumination membuktikan diri sebagai studio animasi papan atas. Desain karakter yang ekspresif dan penuh warna memanjakan mata. Kreativitas tim animasi terlihat jelas pada setiap monster yang unik.

Dari sisi audio, John Powell kembali berhasil menciptakan musik yang menghidupkan suasana. Aransemen orkestranya membangkitkan nuansa Hollywood klasik. Melodi komedi khas Minion pun tak ketinggalan.

Pierre Coffin, putra sastrawan NH Dini, turut menyisipkan kekayaan budaya Indonesia. Beberapa kosakata bahasa Indonesia seperti "terima kasih" dan "sate ayam" terdengar di sela ucapan Minion.

Dibandingkan "Despicable Me 4" (2024), "Minions & Monsters" menunjukkan konsistensi yang lebih baik dalam menghibur. Film ini menegaskan kembali kekuatan para Minion. Namun, Illumination perlu berani menggali kedalaman cerita agar penonton tak hanya tertawa, tetapi juga membawa pulang kesan mendalam.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All