Pemerintah Amerika Serikat dilaporkan telah melayangkan peringatan tidak langsung kepada sejumlah pejabat tinggi Iran. Langkah darurat ini diambil untuk melindungi Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf dari ancaman operasi pembunuhan yang diduga dirancang oleh Israel.
Washington mencium adanya rencana sistematis untuk menghabisi kedua negosiator ulung tersebut. Jika eksekusi itu benar terjadi, AS khawatir seluruh proses diplomasi damai yang tengah berjalan akan hancur seketika dan memicu eskalasi pertempuran bersenjata yang jauh lebih masif di kawasan Timur Tengah.
Kekhawatiran ini muncul dalam beberapa pekan setelah kesepakatan gencatan senjata pada 8 April disepakati. Meski kesepakatan tersebut tergolong rapuh, gencatan senjata ini setidaknya mampu meredam konflik langsung antara AS-Israel melawan Iran.
Indikasi ancaman terhadap petinggi Iran terlihat jelas pada insiden baru-baru ini. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, nyaris kehilangan nyawa saat pesawat yang ditumpanginya terpaksa melakukan pendaratan darurat di Mashhad, Iran bagian timur laut.
Insiden tersebut terjadi saat Ghalibaf dalam perjalanan pulang dari Islamabad, Pakistan, setelah melakukan dialog intensif dengan Wakil Presiden AS JD Vance pada 12 April. Pasukan keamanan Iran mendeteksi kehadiran dua jet tempur Israel yang diduga nekat menerobos wilayah udara melalui rute Irak untuk menyergap pesawat tersebut.
Akibat situasi kritis itu, Ghalibaf dan delegasinya harus segera dievakuasi. Mereka terpaksa menempuh perjalanan darat selama delapan jam untuk bisa mencapai ibu kota Teheran dengan selamat.
Mengingat tingginya risiko terhadap stabilitas global, AS bahkan meminta bantuan sekutu di Timur Tengah untuk meneruskan pesan peringatan rahasia ini ke Teheran. Langkah preventif ini krusial karena militer Israel sebelumnya memang kerap menargetkan kepemimpinan senior Iran, termasuk kepala keamanan nasional Ali Larijani dan mantan Menlu Kamal Kharazi.
Jauh sebelum insiden tersebut, pemerintah Pakistan telah melakukan intervensi diplomatik pada Maret lalu. Islamabad mendesak Washington agar menekan Israel supaya menghapus nama Araghchi dan Ghalibaf dari daftar target pembunuhan.
Seorang pejabat Pakistan mengungkapkan kepada Reuters bahwa pihaknya telah memberikan peringatan tegas kepada pihak Washington. Jika kedua tokoh tersebut sampai tewas, maka tidak akan ada lagi negosiator di Teheran yang tersisa untuk diajak berbicara mengenai perdamaian.
Demi menjaga keamanan, delegasi Iran sebelumnya bahkan sempat meminta jaminan internasional dan pengawalan jet tempur angkatan udara Pakistan saat mendarat di Islamabad. Langkah ini diambil untuk memastikan keselamatan mereka dari buruan intelijen Israel yang dianggap terus memburu jajaran petinggi Iran sejak perang pecah pada 28 Februari lalu.











