Lamine Yamal kini menjadi pusat perhatian di Piala Dunia 2026. Di usia yang baru menginjak 18 tahun, bintang muda Spanyol ini memikul harapan besar negaranya.
Sorotan publik tertuju padanya setelah kemenangan Spanyol atas Austria di babak 32 besar. Momen emosional terekam saat adik laki-lakinya yang berusia tiga tahun bersorak kegirangan.
Bagi Yamal, keluarga adalah segalanya. Ia mengaku merasa emosional melihat kebahagiaan sang adik dan ibunya. Baginya, sang adik sudah seperti anaknya sendiri.
Tekanan sebagai pemain bintang sudah dirasakan Yamal sejak usia 13 tahun. Ia sering merasa harus mengambil tanggung jawab yang jauh melampaui usianya.
Bahkan, aktivitas sederhananya seperti berbelanja di Walmart sempat viral dan menjadi perbincangan luas. Baginya, itu adalah momen langka untuk merasakan kehidupan normal.
Di dalam skuad Spanyol, sosok Yamal memiliki pengaruh yang sangat besar. Rekan setimnya sering menjadikan performa Yamal sebagai tolok ukur permainan tim.
Setelah sempat absen karena cedera sejak April, kembalinya Yamal memberikan energi baru. Ia menyebut fase grup hanyalah pemanasan dan kini saatnya unjuk gigi di babak gugur.
Dalam laga kontra Austria, Yamal tampil memukau dengan aksi dribel dan umpan-umpan krusialnya. Ia bahkan menyabet gelar pemain terbaik dalam pertandingan tersebut.
Meski demikian, Yamal tetap rendah hati. Ia merasa bahagia bisa kembali menemukan ritme permainan terbaiknya di lapangan hijau.
Ia menegaskan kesiapannya untuk bermain selama apa pun yang diinginkan pelatih Luis de la Fuente. Baginya, Piala Dunia adalah mimpi setiap anak yang mencintai sepak bola.
Yamal mengaku tidak takut menghadapi tim mana pun. Ia sangat percaya pada kekuatan timnas Spanyol yang solid dan penuh kepercayaan diri.
Menghadapi ekspektasi publik yang begitu besar, Yamal punya cara khusus untuk tetap tenang. Ia memilih fokus pada sepak bola dan menghabiskan waktu bersama keluarga.
Keluarga menjadi satu-satunya tempat di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri. Mereka adalah orang-orang yang mengenalnya hanya sebagai Lamine, bukan sebagai ikon sepak bola.
Bagi sang bintang muda, berada di Piala Dunia pada usia 18 tahun adalah kesempatan emas. Ia berjanji akan menikmati setiap momen dalam turnamen bergengsi ini.
Kini, seluruh dunia menantikan aksi Yamal selanjutnya. Spanyol berharap magis dari kaki remaja ini mampu membawa mereka melangkah lebih jauh hingga partai puncak.











