Eks Perwira Militer Ukraina Jadi Tersangka Utama Sabotase Pipa Gas Nord Stream

Heni Maulidya

Pengadilan Jerman secara resmi mendakwa seorang mantan perwira militer Ukraina atas keterlibatan dalam aksi sabotase pipa gas Nord Stream pada September 2022. Tersangka yang diidentifikasi sebagai Serhii K ini dituduh melakukan serangan terencana terhadap infrastruktur energi vital tersebut.

Jaksa penuntut umum di Hamburg mengajukan dakwaan tersebut pada Kamis (2/7). Serhii K diduga bertindak atas instruksi pihak otoritas negara Ukraina untuk melumpuhkan pasokan gas alam yang mengalir ke Eropa.

Berdasarkan dokumen dakwaan, Serhii K merupakan perwira Angkatan Darat Ukraina saat peristiwa itu terjadi. Ia diduga memimpin tim yang terdiri dari ahli bahan peledak, penyelam, dan kapten kapal.

Tim ini disebut masuk ke wilayah Jerman menggunakan paspor Ukraina palsu pada September 2022. Mereka kemudian membawa bahan peledak kelas militer melalui perairan internasional hingga mencapai area dekat Pulau Bornholm, Denmark.

Di dasar Laut Baltik, mereka memasang bahan peledak dengan sumbu waktu pada pipa gas tersebut. Aksi ini bertujuan menghentikan pengiriman gas secara permanen agar Rusia tidak bisa meraup keuntungan dari perdagangan energi untuk membiayai perang.

Serhii K sendiri telah membantah seluruh tuduhan tersebut. Ia sempat ditangkap oleh otoritas Italia pada Agustus lalu, sebelum akhirnya dipindahkan ke Jerman pada November untuk menjalani proses hukum.

Pihak pengadilan Jerman menegaskan bahwa kasus ini berada di bawah yurisdiksi mereka. Pasalnya, pipa yang rusak tersebut berakhir di Lubmin, negara bagian Mecklenburg-Vorpommern, sehingga berdampak langsung pada keamanan energi Jerman.

Hingga saat ini, pemerintah Ukraina menyatakan belum memiliki informasi yang cukup untuk menanggapi dakwaan tersebut secara resmi. Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, menyebut pihaknya masih menunggu rincian lebih mendalam sebelum memberikan komentar.

Menurut Zelensky, pihak berwenang di negaranya akan segera melakukan koordinasi terkait kasus ini. Untuk sementara, ia menilai masih terlalu dini bagi pemerintah untuk memberikan pernyataan lebih lanjut.

Sebagai informasi, ledakan Nord Stream terjadi tujuh bulan setelah Rusia melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina. Kejadian itu merusak pipa Nord Stream 1 yang menjadi jalur utama ekspor gas Rusia ke Eropa, serta merusak cabang Nord Stream 2 yang belum sempat beroperasi.

Saat serangan terjadi, Rusia memang telah menghentikan pengiriman gas dengan dalih masalah teknis dan sanksi Barat. Sebaliknya, negara-negara Eropa menuding Rusia menggunakan pasokan energi sebagai senjata politik.

Hingga kini, insiden ledakan Nord Stream masih dikategorikan sebagai aksi sabotase besar yang memicu ketegangan geopolitik berkepanjangan di kawasan Eropa dan dunia.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All