Kualitas Udara di Sekitar TPA Jatiwaringin Tembus Level Berbahaya Akibat Kebakaran Hebat

Wibowo

Kualitas udara di kawasan TPA Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, kini berada dalam status berbahaya. Kebakaran yang melanda area pembuangan sampah tersebut sejak Selasa (30/6) menyebabkan konsentrasi polutan PM2,5 melonjak drastis hingga menembus angka 1.000 mikrogram per meter kubik.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menyatakan bahwa tingkat polusi ini memaksa pemerintah untuk membatasi akses warga ke sejumlah area terdampak. Langkah tersebut diambil semata-mata demi melindungi keselamatan masyarakat dari paparan asap pekat.

Dalam keterangan tertulis yang dirilis Jumat (3/7), KLH/BPLH menegaskan akan terus memantau kualitas udara secara intensif. Konsentrasi PM2,5 yang melampaui 1.000 µg/m3 dinilai sangat tidak sehat bagi saluran pernapasan manusia.

Kebakaran yang bermula pada pukul 07.30 WIB ini telah membakar area seluas lebih dari 15 hektare. Hingga Kamis (2/7), kobaran api masih terus berusaha dipadamkan oleh tim gabungan. Pemerintah Kabupaten Tangerang bahkan telah menetapkan status tanggap darurat melalui Keputusan Bupati Tangerang Nomor 609 Tahun 2026.

Proses pemadaman dilakukan secara simultan melalui jalur darat serta dukungan udara. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah mengerahkan helikopter water bombing untuk menjinakkan api. Rencana operasi teknologi modifikasi cuaca atau hujan buatan juga disiapkan, namun terhambat kondisi awan yang belum memenuhi syarat teknis.

Dugaan awal KLH menyebut cuaca panas ekstrem menjadi pemicu utama munculnya titik api pada timbunan sampah. Proses pemadaman pun tergolong sulit karena tumpukan sampah mencapai ketinggian 20 hingga 30 meter.

Gubernur Banten, Andra Soni, mengungkapkan bahwa tantangan terbesar adalah menjangkau titik api di puncak tumpukan sampah yang tingginya setara bangunan tujuh lantai. Pihaknya bersyukur pemerintah pusat menambah bantuan dua helikopter tambahan guna mempercepat proses pemadaman.

Andra menambahkan bahwa kondisi kemarau saat ini merupakan yang terpanjang dan terpanas dalam 30 tahun terakhir menurut data BMKG. Selain itu, terdapat kekhawatiran mengenai gas metana yang terperangkap di dalam gunungan sampah karena berisiko memperumit penanganan api.

Sebagai langkah mitigasi, sebanyak 32 kepala keluarga telah dievakuasi ke tempat yang lebih aman. Tim medis juga diterjunkan ke lapangan untuk menyiagakan layanan kesehatan darurat serta membagikan masker kepada warga yang terdampak langsung oleh kepulan asap tebal.

Pemerintah terus mengimbau masyarakat untuk mengikuti arahan petugas di lapangan. Masyarakat diharapkan tetap waspada dan mengurangi aktivitas luar ruangan hingga kualitas udara kembali ke level normal.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All