Program penghijauan raksasa China yang dikenal dengan sebutan Great Green Wall kembali menyita perhatian dunia. Penelitian terbaru mengungkap fakta menarik bahwa pohon-pohon yang ditanam dalam proyek ini ternyata memiliki laju pertumbuhan daun yang jauh lebih cepat dibandingkan dengan hutan alami.
Temuan ini memberikan perspektif baru mengenai efektivitas proyek reboisasi terbesar di dunia tersebut dalam merespons perubahan iklim. Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa kecepatan pertumbuhan bukan satu-satunya indikator kualitas hutan yang lebih baik.
Great Green Wall merupakan inisiatif ambisius yang digulirkan sejak 1978. Tujuannya adalah menghambat perluasan Gurun Gobi dan Taklamakan di wilayah utara China. Hingga saat ini, sebanyak 66 miliar pohon telah berhasil ditanam. Pemerintah China bahkan menargetkan penanaman 34 miliar pohon tambahan hingga proyek rampung pada 2050.
Dalam studi tersebut, peneliti membandingkan pola pertumbuhan hutan tanaman dengan hutan alami. Mereka menggunakan kombinasi data satelit serta pengamatan lapangan. Hasilnya, pohon di Great Green Wall mampu menumbuhkan daun lebih awal dan berkembang pesat saat musim semi.
Ada beberapa faktor kunci yang memicu fenomena ini. Pertama, usia pohon yang relatif muda membuat laju pertumbuhannya berada pada fase perkembangan paling aktif.
Kedua, hutan hasil penanaman biasanya didominasi spesies seragam. Hal ini menyebabkan seluruh kawasan merespons pergantian musim secara sinkron, berbeda dengan hutan alami yang memiliki keragaman spesies lebih tinggi.
Faktor ketiga adalah sensitivitas terhadap karbon dioksida. Pohon-pohon di Great Green Wall terlihat lebih responsif menyerap CO2 sebagai bahan baku fotosintesis. Namun, para peneliti menekankan bahwa efek ini tetap bergantung pada ketersediaan air dan nutrisi di lingkungan sekitar.
Tim peneliti menjelaskan bahwa kombinasi usia pohon, komposisi spesies, dan sensitivitas terhadap karbon dioksida menjadi alasan utama perbedaan pola pertumbuhan tersebut. Informasi ini dikutip dari studi yang dimuat dalam IFL Science.
Meski tumbuh lebih cepat, para ilmuwan menegaskan hutan buatan tidak otomatis unggul dibandingkan hutan alami. Hutan alami memiliki keanekaragaman hayati yang jauh lebih kaya. Keberadaan berbagai jenis tumbuhan, serangga, burung, hingga mamalia menciptakan ekosistem yang jauh lebih stabil dan tahan terhadap perubahan lingkungan.
Sebaliknya, kawasan Great Green Wall kerap didominasi satu atau beberapa jenis pohon tertentu agar cepat tumbuh di lahan kering. Meski efektif menghalau penggurunan, pendekatan ini sering dikritik karena minim keanekaragaman hayati dan lebih rentan terhadap serangan hama.
Kendati demikian, proyek ini tetap dianggap berhasil meningkatkan tutupan vegetasi secara signifikan di China. Temuan terbaru ini diharapkan menjadi evaluasi penting agar program penghijauan di masa depan dapat dirancang dengan cara yang lebih berkelanjutan dan ekologis.











