Rupiah Kian Terpuruk, Tembus Level Rp17.995 per Dolar AS Jelang Akhir Perdagangan

Rini Widiyarti

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menunjukkan tren pelemahan yang signifikan pada perdagangan hari ini, Kamis (2/7/2026). Mata uang Garuda terpaksa harus tunduk setelah terkoreksi cukup dalam di pasar valuta asing.

Berdasarkan data perdagangan, rupiah ditutup melemah 43 poin atau setara dengan 0,24 persen. Posisi penutupan ini membawa mata uang dalam negeri bertengger di level Rp17.995 per dolar AS.

Kondisi serupa juga terpantau pada data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR yang dirilis Bank Indonesia. Rupiah tercatat berada di level Rp17.994, lebih rendah dibandingkan posisi pada sesi perdagangan sebelumnya yang berada di angka Rp17.961.

Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menyoroti adanya sentimen eksternal yang memicu tekanan pada pergerakan mata uang rupiah. Salah satu faktor utama yang mendominasi pasar adalah dinamika geopolitik terkait Selat Hormuz.

Qatar melaporkan adanya kemajuan positif dalam pembicaraan tidak langsung antara Iran dan Amerika Serikat yang berakhir pada Rabu kemarin. Fokus utama pembicaraan tersebut adalah stabilitas lalu lintas maritim di kawasan Selat Hormuz serta isu pencairan dana Iran.

Menurut Ibrahim, para negosiator dari kedua negara telah menghabiskan waktu dua hari di Doha. Diskusi tersebut dilakukan di tengah ketegangan yang sempat meningkat akibat saling serang antara kapal kargo Iran dan pihak terkait pada akhir pekan lalu.

Meski lalu lintas di jalur strategis tersebut dilaporkan mulai berangsur pulih, Iran tetap bersikap tegas. Teheran bertekad untuk mendapatkan pengakuan internasional atas kendali penuh mereka terhadap selat tersebut, bahkan jika harus menggunakan tindakan keras.

Rencananya, Iran akan mulai memberlakukan bea masuk pada pengiriman kapal mulai pertengahan Agustus mendatang. Hal ini menyusul berakhirnya periode bebas bea masuk yang sebelumnya disepakati dalam perjanjian awal.

Di sisi lain, Wakil Presiden AS, JD Vance, memberikan keterangan bahwa aliran minyak melalui jalur air tersebut sudah kembali normal. Vance menyebut volume pengiriman telah kembali ke tingkat sebelum pecahnya perang, meskipun ia tidak merinci angka pasti terkait pemulihan tersebut.

Sentimen ketidakpastian geopolitik ini membuat pelaku pasar cenderung menahan diri dan memilih aset aman, sehingga menekan posisi rupiah di pasar global. Investor kini masih terus memantau perkembangan negosiasi lanjutan antara Washington dan Teheran untuk melihat arah kebijakan ekonomi ke depan.

Kondisi rupiah yang semakin mendekati level Rp18.000 per dolar AS ini menjadi perhatian serius bagi pelaku pasar. Stabilitas ekonomi domestik ke depannya akan sangat bergantung pada bagaimana respons pemerintah dan otoritas moneter dalam meredam gejolak eksternal tersebut.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All