Bank Dunia secara resmi telah meningkatkan status ekonomi Vietnam dan Filipina menjadi negara berpendapatan menengah atas.
Keputusan ini diambil setelah kedua negara tersebut mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang sangat kuat selama beberapa tahun terakhir.
Langkah strategis ini dinilai akan meningkatkan kepercayaan investor global terhadap stabilitas kawasan Asia Tenggara.
Dalam laporan terbarunya yang dirilis pada Rabu (1/7), Bank Dunia mengonfirmasi perubahan kategori tersebut.
Vietnam sebelumnya terjebak dalam kategori negara berpendapatan menengah bawah sejak tahun 2009.
Sementara itu, Filipina telah berada di kategori menengah bawah sejak akhir tahun 1980-an.
Keberhasilan Vietnam dinilai berkat model pertumbuhan yang sangat kuat berbasis ekspor ke pasar internasional.
Sedangkan Filipina sukses melakukan ekspansi ekonomi yang merata di berbagai sektor industri utama mereka.
Dengan pembaruan ini, kini lima ekonomi utama di Asia Tenggara telah naik kelas.
Kelima negara tersebut mencakup Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Filipina.
Seluruhnya kini telah masuk dalam kategori negara berpendapatan menengah atas atau bahkan lebih tinggi.
Menteri Perencanaan Ekonomi Filipina, Arsenio Balisacan, menanggapi positif pencapaian tersebut.
Menurutnya, keberhasilan ini adalah hasil dari kerja keras pemerintah dalam menjaga agenda pembangunan.
"Meski menghadapi berbagai guncangan global dan domestik, kami terus mendorong pertumbuhan inklusif," ujar Arsenio seperti dikutip dari Bloomberg, Jumat (3/7/2026).
Pihaknya juga berkomitmen untuk terus memperkuat fundamental ekonomi negara demi menjaga keberlanjutan pembangunan.
Kenaikan status ini secara tidak langsung menyoroti persaingan ekonomi yang semakin ketat di kawasan ASEAN.
Di sisi lain, posisi Indonesia dalam klasifikasi Bank Dunia ini kembali menjadi sorotan publik.
Indonesia saat ini masih berjuang untuk keluar dari kategori negara berpendapatan menengah bawah menuju level yang lebih tinggi.
Pemerintah Indonesia menghadapi tantangan besar untuk meningkatkan daya saing industri dan nilai tambah domestik.
Terlebih lagi, ekonomi nasional saat ini sedang menghadapi tekanan eksternal yang cukup signifikan.
Sebelumnya, Bank Dunia juga telah memberikan peringatan keras terkait kondisi nilai tukar Rupiah.
Mata uang nasional sempat terpuruk hingga menyentuh level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat.
Kondisi makroekonomi ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemangku kebijakan di dalam negeri.
Pencapaian Vietnam dan Filipina menjadi pengingat bagi Indonesia untuk mempercepat transformasi ekonomi.
Harapannya, fundamental ekonomi Indonesia dapat segera menguat agar tidak tertinggal lebih jauh dari negara tetangga.
Transformasi struktural menjadi kunci agar Indonesia bisa segera menyusul masuk ke jajaran negara berpendapatan menengah atas.











