Dolar AS Tertekan Jelang HUT Kemerdekaan, Rupiah dan Ringgit Pimpin Penguatan di Asia

Emanuel

Jakarta, CNBC Indonesia – Menjelang perayaan Hari Kemerdekaan Amerika Serikat ke-250 pada Sabtu (4/7/2026), mata uang dolar AS justru mendapatkan kado pahit. Mayoritas mata uang di kawasan Asia berhasil mencatatkan penguatan signifikan terhadap greenback pada perdagangan Jumat (3/7/2026).

Data Refinitiv per pukul 09.15 WIB menunjukkan dominasi mata uang Asia. Dari 10 mata uang utama di kawasan ini, tujuh di antaranya sukses mengungguli kekuatan dolar AS. Sementara itu, hanya tiga mata uang yang terpantau melemah.

Ringgit Malaysia muncul sebagai pemimpin penguatan dengan kenaikan sebesar 0,37%. Mata uang Negeri Jiran tersebut kini bertengger di posisi MYR 4,062 per dolar AS.

Kabar positif juga datang dari nilai tukar rupiah. Mata uang Garuda berhasil menguat 0,28% ke level Rp17.938 per dolar AS. Pergerakan ini membawa rupiah menjauh dari level psikologis Rp18.000 per dolar AS yang sempat membayangi pada penutupan sesi sebelumnya.

Sentimen positif juga dirasakan oleh Won Korea Selatan yang menguat 0,16% ke level KRW 1.537,6 per dolar AS. Yuan China menyusul dengan kenaikan 0,14% ke posisi CNY 6,779 per dolar AS.

Di sisi lain, Baht Thailand menguat 0,12%, Peso Filipina naik 0,07%, dan Dolar Singapura mencatatkan kenaikan tipis 0,05%. Sebaliknya, Dolar Taiwan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam sebesar 0,11%. Yen Jepang dan Dong Vietnam juga tertekan dengan koreksi masing-masing sebesar 0,04%.

Pelemahan dolar AS dipicu oleh indeks dolar (DXY) yang terkoreksi tipis 0,01% ke level 100,846. Tekanan terhadap mata uang Paman Sam ini sudah terjadi sejak perdagangan Kamis (2/7/2026), di mana DXY ditutup anjlok tajam 0,53%.

Kondisi ini merupakan penurunan mingguan terbesar bagi dolar AS dalam hampir tiga bulan terakhir. Faktor utamanya adalah data tenaga kerja AS periode Juni yang menunjukkan perlambatan tajam.

Laporan menunjukkan nonfarm payrolls AS hanya bertambah 57.000 pekerjaan, jauh di bawah ekspektasi pasar yang mencapai 110.000 pekerjaan. Tingkat partisipasi angkatan kerja juga anjlok ke 61,5%, level terendah dalam lebih dari lima tahun.

Data ekonomi yang lesu ini membuat pelaku pasar menurunkan ekspektasi terkait kenaikan suku bunga The Federal Reserve. Berdasarkan data CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga pada rapat September kini hanya diperhitungkan sebesar 52%, turun dari 64% pada sesi sebelumnya.

Sim Moh Siong, FX Strategist OCBC, menyatakan bahwa data tersebut memberi sinyal dovish bagi pasar. Menurutnya, hal ini membantu meredakan kekhawatiran mengenai pasar tenaga kerja yang terlalu panas. Namun, dia menilai prospek dolar AS secara umum masih cukup konstruktif selama ekspektasi pengetatan The Fed belum sepenuhnya hilang dari pasar.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All