Langkah Senegal di Piala Dunia 2026 harus ternoda oleh sebuah keputusan krusial wasit di pengujung laga. Tim berjuluk Singa Teranga tersebut menelan hasil pahit setelah keunggulan mereka sirna akibat penalti Belgia.
Pelatih Senegal, Pape Thiaw, memilih bersikap dingin menanggapi insiden tersebut. Ia enggan melontarkan kritik tajam terhadap keputusan wasit Said Martinez di lapangan.
Thiaw menilai perdebatan mengenai keputusan penalti adalah hal yang sangat subjektif. Baginya, setiap orang memiliki tafsir berbeda mengenai insiden yang melibatkan Lamin Camara dan Youri Tielemans.
Ia menegaskan bahwa keputusan wasit di lapangan adalah mutlak. Meskipun banyak pihak merasa keputusan itu keliru, Thiaw memilih menghormati otoritas pengadil pertandingan.
Insiden kontroversial tersebut terjadi pada menit ke-90+19. Wasit Martinez sempat meninjau tayangan VAR berulang kali sebelum akhirnya menunjuk titik putih.
Kontak fisik antara kaki Camara dan Tielemans dianggap sebagai pelanggaran. Namun, tayangan ulang menunjukkan kontak tersebut tidak melibatkan benturan yang cukup keras.
Keputusan ini langsung memicu reaksi keras dari berbagai kalangan pengamat sepak bola dunia. Legenda Manchester United, Gary Neville, menyebut penalti itu tidak seharusnya diberikan.
Neville berpendapat bahwa kontak tersebut sangat wajar dalam dinamika permainan bola. Ia menilai Tielemans lebih dulu menyentuh bola sebelum kaki mereka bersinggungan.
Senada dengan itu, Roy Keane turut melayangkan kritik pedas terhadap wasit. Ia menyoroti keraguan wasit saat memantau layar VAR yang memakan waktu cukup lama.
Keane merasa keputusan wasit yang tampak ragu-ragu justru menurunkan kredibilitas pertandingan. Ia menganggap penalti tersebut terlalu dipaksakan dan merugikan pihak Senegal.
Di luar drama penalti, Thiaw mengakui adanya kelengahan dari anak asuhnya. Ia menyesalkan kegagalan timnya dalam mempertahankan keunggulan 2-0 hingga laga usai.
Setelah Belgia mencetak gol pertama, pertahanan Senegal terlihat mulai goyah. Kondisi tersebut dimanfaatkan lawan untuk terus menekan hingga akhirnya menyamakan kedudukan.
Thiaw mengaku sudah berusaha memberikan suntikan energi tambahan kepada para pemainnya. Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil hingga peluit panjang dibunyikan.
Kekalahan ini menjadi pelajaran berharga bagi skuad Senegal di turnamen akbar ini. Fokus mereka kini beralih untuk memperbaiki moral tim agar kembali bangkit di laga berikutnya.
Situasi ini menjadi pengingat betapa krusialnya peran teknologi dalam sepak bola modern. Keputusan VAR tetap menyisakan ruang perdebatan panas di panggung Piala Dunia.











