Mayoritas mata uang di kawasan Asia menunjukkan performa positif terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis (2/7/2026). Sentimen pasar terlihat masih menahan diri untuk mengambil posisi besar. Para investor memilih bersikap waspada menanti rilis data tenaga kerja Amerika Serikat.
Data tenaga kerja tersebut menjadi kunci arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve mendatang. Berdasarkan pantauan data Refinitiv pukul 09.15 WIB, tujuh mata uang Asia mencatatkan penguatan. Hanya dua mata uang yang melemah dan satu lainnya terpantau bergerak stagnan.
Sayangnya, tren penguatan tersebut tidak diikuti oleh mata uang Garuda. Rupiah justru tertekan cukup dalam hingga melemah 0,25 persen ke level Rp17.975 per dolar AS. Posisi ini membuat mata uang lokal kini berada di ambang batas psikologis Rp18.000.
Selain rupiah, won Korea Selatan juga mencatatkan kinerja negatif di zona merah. Won terkoreksi 0,13 persen ke posisi KRW 1.552,7 terhadap mata uang Paman Sam. Pergerakan ini kontras dengan beberapa mata uang regional lainnya.
Ringgit Malaysia menjadi pemimpin penguatan di kawasan Asia dengan kenaikan 0,24 persen. Yuan China turut menyusul dengan apresiasi 0,16 persen ke posisi CNY 6,783 per dolar AS. Baht Thailand serta dolar Singapura juga terpantau menguat tipis pagi ini.
Yen Jepang pun mencatat penguatan tipis sebesar 0,04 persen. Meski demikian, posisi yen saat ini masih berada di level terendah sejak 1986. Kondisi ini mencerminkan betapa kuatnya cengkeraman dolar AS di pasar global saat ini.
Indeks dolar AS sendiri terpantau melemah tipis ke posisi 101,350 pada waktu bersamaan. Walaupun bergerak turun, dolar AS masih tertahan di level tinggi. Pasar kini menanti data nonfarm payrolls AS untuk mencari kepastian ekonomi.
Ekonomi AS diprediksi menambah 110.000 pekerjaan sepanjang Juni kemarin. Tingkat pengangguran diperkirakan tetap stabil berada di angka 4,3 persen. Data tersebut akan menjadi indikator krusial bagi kebijakan moneter The Fed ke depan.
Analis Mitsubishi UFJ Bank, Akihiko Yokoo, memperingatkan potensi lonjakan dolar kembali. Jika data payrolls melampaui ekspektasi, dolar AS bisa kembali melaju kencang. Ekonomi AS yang tahan banting menjadi katalis utama penguatan mata uang ini.
Sentimen positif dolar AS juga datang dari aliran modal ke aset-aset berbasis dolar. Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau AI turut mendorong minat investor global. Kini, pelaku pasar terus memantau apakah ekonomi AS masih menunjukkan ketangguhan atau mulai melambat.











