Pasar keuangan Indonesia mengawali semester kedua tahun 2026 dengan pergerakan yang cukup variatif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bangkit, sementara nilai tukar rupiah justru melemah.
IHSG menutup perdagangan Rabu (1/7/2026) dengan penguatan 0,92% ke level 5.695,12. Indeks sempat bergerak sangat volatil sepanjang hari di tengah sentimen pasar.
Meski IHSG menghijau, aksi jual investor asing masih terus berlanjut. Tercatat, asing melakukan net sell sebesar Rp 577,8 miliar kemarin.
Di sisi lain, tekanan berat justru menimpa nilai tukar mata uang Garuda. Rupiah melemah 0,31% dan berakhir di level Rp 17.930 per dolar AS.
Pelemahan rupiah dipicu oleh data neraca perdagangan Indonesia Mei 2026 yang mengecewakan. Indonesia mencatat defisit sebesar US$ 1,61 miliar.
Ini merupakan defisit pertama dalam enam tahun terakhir. Tren surplus perdagangan selama 72 bulan berturut-turut pun akhirnya harus terhenti.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan lonjakan impor migas menjadi pemicu utama. Impor sektor tersebut melonjak signifikan hingga 70,78% secara tahunan.
Sentimen negatif juga datang dari dalam negeri terkait inflasi Juni 2026. Inflasi tercatat sebesar 0,44% bulanan atau 3,34% secara tahunan.
Kelompok transportasi menjadi penyumbang inflasi terbesar yakni sebesar 2,29%. Hal ini menambah beban bagi daya beli masyarakat domestik.
Tekanan global juga memperburuk kondisi pasar keuangan tanah air. Ketidakpastian geopolitik kembali mencuat setelah Iran menolak pertemuan dengan utusan Amerika Serikat.
Iran tetap mempertahankan kontrol ketat atas Selat Hormuz. Kondisi ini memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas pasokan energi global.
Di saat bersamaan, dolar AS terus menguat di pasar global. Indeks dolar (DXY) naik 0,16% ke level 101,351 kemarin sore.
Penguatan dolar didorong ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral AS. Data tenaga kerja AS yang solid memperkuat peluang pengetatan moneter lanjutan.
Berdasarkan data CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga 25 basis poin kini berada di angka 33,7%. Peluang suku bunga tetap bertahan mencapai 66,3%.
Sementara itu, pasar obligasi menunjukkan sinyal yang berbeda. Imbal hasil Surat Berharga Negara tenor 10 tahun melandai ke 7,153%.
Penurunan yield menandakan harga obligasi sedang diburu investor. Pasar keuangan diperkirakan masih akan menghadapi tekanan cukup berat hari ini.
Investor kini menanti respons pasar terhadap data ekonomi terbaru. Ketidakpastian global dan domestik masih menjadi bayang-bayang utama bagi pelaku pasar.











