Latihan Militer Rahasia Rusia dan China Terungkap, Intelijen Barat Siaga Tinggi

Emanuel

Presiden Rusia Vladimir Putin dilaporkan telah memberikan restu rahasia bagi militernya untuk mengikuti pelatihan khusus di China. Aktivitas militer terselubung ini terendus intelijen Barat dan memicu alarm kewaspadaan di seluruh Eropa.

Berdasarkan dokumen Kremlin yang bocor, kerja sama ini berlangsung intensif selama tiga pekan pada November tahun lalu. Fokus utama pelatihan tersebut adalah penguasaan taktik pertahanan radiologis, kimia, hingga ancaman biologi.

Kegiatan tersebut berlangsung di fasilitas militer strategis Beijing dengan melibatkan setidaknya empat jenderal senior kedua negara. Delegasi Rusia dipimpin langsung oleh Kolonel Jenderal Rustam Muradov, Wakil Panglima Tertinggi Angkatan Darat Rusia.

Turut hadir dalam misi tersebut Mayor Jenderal Vitaly Gerasimov dan Mayor Jenderal Rustam Khusainov. Sementara pihak Beijing diwakili oleh Mayor Jenderal Li Jinsun serta Senior Kolonel Sun Dayun sebagai penanggung jawab teknis.

Dokumen internal Rusia menunjukkan adanya pembelajaran mengenai model reaktor nuklir dan proteksi sistem ventilasi udara. Pasukan Rusia mempelajari taktik pengintaian kimia dan radiasi dari para instruktur Tentara Pembebasan Rakyat China.

Laporan evaluasi militer Rusia memuji kecanggihan peralatan dan simulator tempur milik China. Meski demikian, pihak Rusia menilai militer China masih minim pengalaman dalam pertempuran nyata di lapangan.

Rusia merasa memiliki keunggulan karena pengalaman tempur masif selama lebih dari empat tahun di Ukraina. Sebaliknya, militer China belum terlibat dalam perang terbuka secara langsung dalam beberapa dekade terakhir.

Langkah rahasia ini menuai sorotan tajam karena Beijing selama ini mengeklaim posisi netral dalam konflik Ukraina. Temuan ini memaksa Uni Eropa menggelar diskusi tertutup guna membahas potensi sanksi perdagangan yang lebih berat.

Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, mengonfirmasi pihaknya telah memverifikasi aktivitas tersebut melalui jalur intelijen. Hal ini memicu ketegangan diplomatik baru antara blok Eropa dengan pihak Beijing.

Menanggapi laporan tersebut, Kementerian Luar Negeri China membantah keras tuduhan keterlibatan militer secara rahasia. Beijing menegaskan bahwa posisi mereka terhadap krisis Ukraina tetap konsisten dan tidak berubah.

Kecaman serupa juga datang dari Ketua Komite Pertahanan Parlemen Rusia, Andrei Kartapolov. Ia menyebut laporan intelijen Barat sebagai provokasi murahan yang sama sekali tidak memiliki dasar kebenaran.

Hingga kini, isu mengenai kolaborasi militer rahasia ini terus menjadi topik sensitif bagi komunitas internasional. Ketegangan geopolitik diprediksi akan terus meningkat seiring dengan proses verifikasi data intelijen yang dilakukan berbagai negara.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All