Masa remaja sering kali menjadi fase menantang bagi banyak orang tua.
Anak mulai menarik diri karena membutuhkan privasi dan ruang untuk mandiri.
Namun, sikap tertutup ini kerap memicu ketegangan di lingkungan keluarga.
Psikolog Keluarga Pritta Tyas memberikan panduan bagi orang tua.
Ia menekankan pentingnya evaluasi diri sebelum menyalahkan sikap anak remaja.
Komunikasi yang penuh penghakiman justru akan memperburuk hubungan orang tua.
Sering kali, orang tua tanpa sadar mengeluarkan kalimat bernada menghakimi.
Contohnya seperti menyalahkan anak karena tidak mau terbuka atau bercerita.
Padahal, sikap judgmental ini justru membuat remaja semakin menutup diri.
Pritta menjelaskan bahwa keinginan memiliki privasi adalah proses wajar.
Remaja sedang belajar membangun identitas serta kemandirian mereka sendiri.
Orang tua harus memahami batasan ini agar anak merasa dihargai.
Keputusan sepihak dari orang tua juga dapat memicu resistensi remaja.
Ketika merasa tidak didengar, mereka cenderung menjauh dari komunikasi keluarga.
Oleh karena itu, pendekatan persuasif lebih disarankan daripada interogasi intensif.
Langkah konkret yang bisa dilakukan adalah melakukan aktivitas bersama.
Orang tua disarankan mengajak anak berkegiatan sederhana tanpa target tertentu.
Misalnya dengan bersepeda, jalan kaki, atau sekadar jajan bersama anak.
Dalam momen tersebut, jangan langsung menanyakan persoalan pribadi anak.
Tujuannya adalah membangun kembali kenyamanan dan kedekatan emosional terlebih dahulu.
Ketika anak merasa nyaman, komunikasi mendalam akan mengalir dengan sendirinya.
Pritta menegaskan bahwa hubungan orang tua tidak perlu dikejar target.
Hindari memberikan tekanan atau tuntutan performa seperti layaknya di kantor.
Fokuslah pada kehadiran fisik dan emosional di tengah kesibukan harian.
Setelah hubungan kembali cair, obrolan bisa diarahkan ke hal-hal positif.
Mulailah bertanya mengenai minat atau hobi yang sedang mereka sukai.
Pendekatan sabar ini terbukti lebih efektif membangun kepercayaan antara generasi.
Menghadapi remaja memang membutuhkan ketenangan serta konsistensi yang tinggi.
Refleksi diri menjadi kunci utama dalam memperbaiki hubungan yang renggang.
Dengan pendekatan yang tepat, relasi orang tua dan anak akan membaik.











