Kementerian Pertahanan (Kemenhan) resmi melakukan revisi menyeluruh terhadap penyelenggaraan kegiatan pelatihan dasar kemiliteran (latsarmil) bagi calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP). Kebijakan ini diambil sebagai respons atas insiden meninggalnya lima peserta dalam rangkaian kegiatan tersebut, yang memicu evaluasi mendalam terhadap prosedur dan materi yang diterapkan di lapangan.
Wakil Menteri Pertahanan Donny Ermawan Taufanto menjelaskan bahwa perubahan signifikan dilakukan pada substansi kurikulum. Jika sebelumnya kegiatan latsarmil diarahkan untuk mempersiapkan peserta menjadi bagian dari Komponen Cadangan (Komcad), kini fokus utama dialihkan sepenuhnya pada pendidikan bela negara. Perubahan ini bertujuan untuk menyesuaikan beban pelatihan dengan kapasitas fisik dan kebutuhan praktis para peserta di masa depan.
Tidak hanya soal materi, Kemenhan juga memutuskan untuk memangkas durasi pelatihan secara drastis. Donny menyebutkan bahwa program yang semula dijadwalkan berlangsung selama satu bulan penuh, kini dipersingkat menjadi dua pekan. Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan masukan berbagai pihak terkait efektivitas dan keamanan selama proses pendidikan berlangsung di satuan pendidikan militer.
Terkait distribusi materi, para peserta yang terdiri dari calon manajer KDMP dan calon manajer koperasi nelayan merah putih akan menerima kurikulum yang spesifik berdasarkan bidang penugasan mereka. Donny menegaskan bahwa pemberian materi teknis nantinya akan melibatkan kementerian teknis terkait agar selaras dengan kebutuhan operasional koperasi.
Untuk calon manajer KDMP, materi pelatihan akan disusun bersama dengan Kementerian Koperasi. Sementara itu, untuk calon manajer koperasi nelayan, pihak Kementerian Kelautan dan Perikanan akan memegang kendali dalam memberikan pelatihan kompetensi yang relevan. Meskipun kurikulum dan durasi diubah, Donny memastikan bahwa lokasi pendidikan tetap berada di satuan-satuan pendidikan militer yang telah ditentukan sebelumnya.
Pihak Kemenhan tetap menekankan pentingnya latsarmil sebagai sarana pembentukan karakter dan peningkatan kedisiplinan bagi para calon pemimpin di tingkat desa dan nelayan. Menurut Donny, aspek-aspek seperti kerja sama tim, solidaritas, dan rasa kebersamaan tetap menjadi poin utama yang ingin ditanamkan melalui pendidikan bela negara tersebut.
Langkah revisi ini muncul setelah duka mendalam menyelimuti program pelatihan tersebut. Sebanyak lima calon manajer KDMP dilaporkan meninggal dunia saat menjalani serangkaian latihan militer di berbagai lokasi pendidikan. Kelima peserta tersebut adalah Nola Dya Sari, Novia Rahmadhani Sihotang, Anisa Muyassaroh, Yonanda Muhammad Taufiq, dan Muhammad Rifki Renaldi Gunawan.
Nola Dya Sari mengembuskan napas terakhir pada 26 Juni 2026 saat mengikuti pelatihan di Satuan Pendidikan Bela Negara Kalimantan. Sebelum meninggal, Nola dilaporkan sempat mengalami gejala sesak napas dan demam yang cukup berat. Di hari yang sama, Muhammad Rifki Renaldi Gunawan juga dinyatakan meninggal dunia di Satuan Pendidikan Batalyon Para Komando 465, Jakarta Timur, dengan keluhan kesehatan serupa.
Korban lainnya, Novita, meninggal saat menjalani pelatihan di Pusat Bahasa Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan, dan Latihan TNI Angkatan Udara, Jakarta. Sementara itu, Anisa Muyassaroh meninggal pada 23 Juni 2026 di Satuan Pendidikan Resimen Induk Komando Daerah Militer Mulawarman, Balikpapan, Kalimantan Timur. Berdasarkan informasi medis, Anisa mengalami heat stroke atau sengatan panas yang ekstrem saat mengikuti aktivitas di lapangan.
Satu lagi korban jiwa adalah Yonanda Muhammad Taufiq yang dinyatakan wafat akibat henti jantung atau cardiac arrest pada 17 Juni 2026. Yonanda tercatat sebagai peserta pelatihan di Satuan Pendidikan Pusat Latihan Tempur TNI Angkatan Darat yang berlokasi di Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan.
Tragedi yang menimpa kelima peserta ini menjadi catatan evaluasi krusial bagi Kemenhan dalam menyelenggarakan pelatihan yang melibatkan unsur kemiliteran bagi masyarakat sipil. Standar operasional prosedur (SOP) kesehatan dan pengawasan fisik selama kegiatan kini menjadi perhatian utama agar kejadian serupa tidak terulang kembali di masa depan.
Perubahan kurikulum dan durasi yang lebih singkat diharapkan dapat menjadi solusi jalan tengah, di mana nilai-nilai bela negara tetap bisa tersampaikan tanpa mengesampingkan faktor keselamatan peserta. Kemenhan berkomitmen untuk terus memantau perkembangan dan efektivitas kurikulum baru ini dalam mendidik calon manajer koperasi yang tangguh, disiplin, namun tetap berada dalam koridor kesehatan yang terjaga.
Hingga saat ini, pihak Kemenhan terus melakukan koordinasi dengan kementerian terkait untuk memastikan transisi sistem pelatihan ini berjalan dengan baik. Para calon manajer koperasi nantinya diharapkan dapat mengimplementasikan kedisiplinan yang telah dibentuk selama pendidikan ke dalam tata kelola koperasi di wilayah masing-masing, demi mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat desa dan nelayan di seluruh penjuru Indonesia.











