Krisis Tenaga Medis Global: Dunia Kini Terancam Kekurangan Satu Juta Bidan

Rini Widiyarti

Dunia saat ini tengah menghadapi ancaman serius dalam sektor kesehatan reproduksi seiring dengan laporan mengejutkan mengenai defisit tenaga bidan secara global. Berdasarkan riset terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Women and Birth pada awal 2026, tercatat adanya kekurangan hampir satu juta bidan yang tersebar di 181 negara. Fenomena ini bukan sekadar statistik, melainkan sebuah krisis nyata yang berdampak langsung pada 82 persen populasi perempuan usia reproduktif di seluruh dunia.

Kesenjangan akses terhadap layanan kebidanan yang berkualitas ini menjadi tantangan besar bagi sistem kesehatan global. International Confederation of Midwives (ICM) dalam rilis resminya menyoroti bahwa jutaan perempuan saat ini tidak mampu mengakses perawatan esensial sebelum, selama, hingga setelah masa kehamilan. Tanpa adanya intervensi berupa investasi yang signifikan dan segera, kekurangan tenaga kesehatan ini diprediksi akan terus berlanjut hingga dekade mendatang.

Kondisi paling memprihatinkan terjadi di benua Afrika, yang tercatat menyumbang 46 persen dari total angka kekurangan bidan secara global. Di wilayah tersebut, akses terhadap pertolongan medis saat persalinan sangat minim, di mana 9 dari 10 perempuan tinggal di area yang tidak terjangkau oleh layanan bidan profesional. Kesenjangan ini secara langsung memperburuk risiko kesehatan bagi ibu dan bayi di negara-negara berkembang.

Peran bidan sendiri sangat krusial dalam ekosistem kesehatan. Data medis menunjukkan bahwa akses yang memadai terhadap perawatan kebidanan mampu mencegah sekitar dua pertiga dari total kasus kematian ibu, kematian bayi baru lahir, serta insiden bayi lahir mati di seluruh dunia. Kehadiran bidan bukan hanya sebagai pendamping persalinan, melainkan sebagai garda terdepan dalam menjaga keselamatan dua nyawa sekaligus dalam setiap proses kelahiran.

Namun, tantangan yang dihadapi profesi ini sangat kompleks. Jika dunia tidak segera melakukan langkah strategis, proyeksi menunjukkan bahwa kekurangan bidan akan tetap berada di angka 690.000 hingga 830.000 orang pada tahun 2030. Situasi ini dipicu oleh laju pertumbuhan penduduk yang jauh lebih cepat dibandingkan dengan penambahan jumlah tenaga bidan yang terlatih dan tersertifikasi.

Krisis ini berisiko menciptakan lingkaran setan yang merugikan bagi mereka yang bertahan di profesi tersebut. Bidan yang mengalami kelelahan kronis atau burn-out akibat beban kerja berlebih cenderung memutuskan untuk meninggalkan profesi mereka. Hal ini pada gilirannya akan semakin mengurangi kapasitas tenaga kerja yang tersedia dan meningkatkan tekanan psikologis serta fisik bagi bidan lain yang masih bertahan di lapangan.

Kepala Bidan ICM, Jacqueline Dunkley-Bent, menegaskan bahwa masalah utama bukan sekadar kuantitas bidan yang terlatih, melainkan bagaimana mereka dipekerjakan dan ditempatkan di lokasi yang paling membutuhkan. Di banyak negara, banyak bidan tidak diberi kesempatan untuk mempraktikkan kompetensi mereka secara penuh. Akibatnya, perempuan kehilangan akses terhadap perawatan medis yang seharusnya bisa diberikan oleh para tenaga ahli tersebut.

Menurut Dunkley-Bent, solusi dari krisis ini sangat bergantung pada kebijakan pemerintah untuk mempekerjakan bidan agar mampu menyediakan layanan kesehatan seksual, reproduksi, serta perawatan bagi ibu, bayi, dan remaja secara optimal. Pemberdayaan bidan melalui penempatan yang tepat dan dukungan sistem kesehatan yang kuat menjadi kunci untuk memutus rantai kekurangan tenaga medis ini.

Secara medis, bidan memiliki cakupan kompetensi yang sangat luas dan spesifik. Berdasarkan data dari Cleveland Clinic, bidan adalah tenaga kesehatan profesional yang berfokus mendampingi perempuan sejak masa kehamilan hingga proses persalinan. Mereka tidak hanya berperan saat hari kelahiran, tetapi juga menyediakan layanan perawatan rutin untuk bayi baru lahir serta memberikan konseling mengenai kontrasepsi dengan pendekatan yang lebih personal dan menyeluruh.

Bagi ibu hamil yang masuk dalam kategori risiko rendah, pendampingan oleh bidan terbukti memberikan banyak keuntungan klinis. Praktik kebidanan yang tepat terbukti mampu meminimalkan kebutuhan tindakan operasi caesar yang tidak perlu. Selain itu, keterlibatan bidan juga dapat mengurangi penggunaan intervensi medis seperti penggunaan alat vakum atau forcep selama proses persalinan berlangsung.

Pendampingan bidan yang intensif juga berkontribusi besar dalam mempermudah proses persalinan alami tanpa harus bergantung pada induksi medis. Dari sisi keselamatan, keterlibatan tenaga profesional ini sangat efektif dalam menekan risiko komplikasi serius. Beberapa di antaranya meliputi pencegahan infeksi pascamelahirkan, meminimalisir risiko perdarahan hebat, hingga mengurangi kemungkinan robekan vagina pada ibu saat melahirkan.

Kebutuhan akan bidan yang terampil dan didukung oleh sistem kesehatan yang mumpuni menjadi prioritas yang tidak bisa ditunda. Investasi pada profesi bidan adalah investasi bagi keberlangsungan generasi masa depan. Tanpa adanya kebijakan yang berpihak pada penambahan tenaga bidan serta peningkatan kualitas kerja mereka, akses perempuan terhadap kesehatan reproduksi yang aman dan manusiawi akan terus terancam di berbagai belahan dunia.

Ke depannya, kolaborasi antara organisasi kesehatan internasional, pemerintah, dan lembaga pendidikan sangat diperlukan untuk menutupi celah ini. Transformasi sistem kesehatan yang menempatkan bidan sebagai pilar utama dalam perawatan ibu dan anak menjadi satu-satunya cara untuk memastikan setiap perempuan mendapatkan hak atas kesehatan yang layak. Upaya ini harus segera diimplementasikan sebelum angka kekurangan bidan semakin meluas dan dampaknya menjadi tidak terkendali bagi kesehatan masyarakat global.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All