Waspada Golden Period Patah Tulang pada Anak, Jangan Asal Urut ke Tukang Pijat

Rini Widiyarti

Masa kanak-kanak yang aktif sering kali membuat si kecil rentan mengalami cedera fisik, termasuk patah tulang. Sayangnya, banyak orang tua yang kurang menyadari adanya masa krusial yang disebut sebagai golden period atau waktu emas dalam penanganan patah tulang anak. Ketidaktahuan ini kerap berujung pada penanganan yang terlambat, yang justru berisiko menimbulkan komplikasi jangka panjang bagi kesehatan fisik dan mobilitas anak di masa depan.

Dokter Spesialis Orthopedi Traumatologi dari Eka Hospital Cibubur, dr. Gabriel Klemens Wienanda, M. Ked(Surg), Sp.OT, AIFO-K, menekankan bahwa orang tua perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap gejala cedera tulang. Dalam sebuah temu media yang berlangsung di Jakarta pada Senin, 29 Juni 2026, dr. Gabriel menjelaskan bahwa golden period merupakan rentang waktu yang sangat menentukan agar penanganan medis bisa dilakukan dengan prosedur seminimal mungkin.

Menurut dr. Gabriel, pada kasus-kasus tertentu, durasi waktu emas ini hanya berlangsung sekitar tujuh hari. Jika orang tua segera membawa anak ke tenaga medis dalam rentang waktu tersebut, prosedur medis yang dilakukan cenderung lebih sederhana dengan luka tindakan yang relatif kecil. Sebaliknya, ketika melewati masa tujuh hari, penanganan cedera tulang pada anak akan menjadi jauh lebih kompleks karena proses penyambungan tulang secara alami sudah mulai terjadi.

Masalah utama yang sering muncul adalah ketika tulang menyambung sendiri tanpa posisi yang tepat. Banyak orang tua merasa tenang ketika rasa nyeri yang dirasakan anak berangsur mereda setelah melewati masa seminggu. Namun, dokter memperingatkan bahwa hilangnya rasa sakit tersebut bukanlah tanda kesembuhan total, melainkan indikasi bahwa proses penyambungan tulang sudah berjalan. Kondisi ini sangat berbahaya karena jika tulang menyambung dalam posisi yang miring atau tidak presisi, hal itu akan mengganggu fungsi pergerakan anak secara permanen.

Tindakan pertolongan pertama yang salah sering kali menjadi faktor penghambat proses pemulihan yang ideal. Salah satu kebiasaan buruk yang masih marak di masyarakat adalah membawa anak yang mengalami cedera tulang ke tukang urut atau dukun pijat. Padahal, tindakan memijat atau mengurut area yang patah tulang justru sangat dilarang karena dapat memperparah kerusakan jaringan, memicu pergeseran tulang yang lebih buruk, hingga menimbulkan komplikasi yang sulit diperbaiki di kemudian hari.

Dalam menghadapi situasi darurat cedera tulang, ada beberapa langkah strategis yang harus dipahami oleh orang tua. Pertama, penting bagi orang tua untuk selalu memantau respons nyeri pada anak dengan lebih peka. Bagi bayi atau balita yang belum mampu berkomunikasi secara verbal, deteksi dini bisa dilakukan dengan memperhatikan intensitas tangisan yang tidak wajar atau keengganan anak untuk menggerakkan anggota tubuh tertentu. Jika anak terus menangis saat bagian tubuh yang cedera disentuh atau digerakkan, segera curigai adanya cedera serius.

Kedua, segera hindari tindakan pengobatan alternatif yang melibatkan pijatan. Fokus utama orang tua setelah anak mengalami benturan keras atau kecelakaan adalah imobilisasi atau menjaga agar bagian yang cedera tidak banyak bergerak. Penggunaan bidai sederhana atau menyangga anggota tubuh yang cedera dengan posisi senyaman mungkin adalah langkah yang jauh lebih aman daripada memberikan tekanan melalui pijatan yang tidak terukur.

Ketiga, lakukan pemeriksaan fisik secara cermat pada area yang diduga mengalami cedera. Orang tua harus waspada jika mendapati tanda-tanda fisik yang mencolok seperti pembengkakan hebat, perubahan warna kulit menjadi biru atau keunguan, hingga deformitas atau bentuk tulang yang terlihat tidak wajar. Munculnya gejala-gejala ini merupakan indikasi kuat bahwa cedera tidak bisa lagi ditangani di rumah dan memerlukan intervensi medis profesional sesegera mungkin.

Langkah terakhir dan yang paling krusial adalah membawa anak langsung ke dokter spesialis orthopedi atau unit gawat darurat rumah sakit terdekat. Dokter ahli memiliki perangkat diagnostik yang tepat, seperti rontgen, untuk melihat posisi tulang secara akurat. Dengan pemeriksaan mendalam, dokter dapat menentukan langkah penanganan yang tepat, apakah cukup dengan pemasangan gips atau memerlukan prosedur bedah kecil untuk memastikan tulang tersambung dengan sempurna sesuai anatomi tubuh anak.

Penting bagi masyarakat untuk mengubah paradigma bahwa cedera pada anak akan sembuh dengan sendirinya seiring bertambahnya usia. Meskipun tulang anak memiliki kemampuan regenerasi yang lebih cepat dibandingkan orang dewasa, posisi penyambungan yang salah akan mengakibatkan disabilitas fungsional atau gangguan pertumbuhan tulang di masa depan. Edukasi mengenai pentingnya golden period ini diharapkan dapat menekan angka komplikasi patah tulang yang tidak tertangani dengan benar.

Sebagai orang tua, bersikap sigap dan tenang dalam situasi darurat adalah kunci utama. Dengan memahami langkah-langkah medis yang tepat dan menghindari mitos pengobatan yang merugikan, orang tua dapat memastikan si kecil mendapatkan perawatan terbaik. Kesadaran untuk segera mencari bantuan medis profesional bukan hanya mencegah komplikasi, tetapi juga memastikan anak tetap bisa tumbuh dengan fisik yang kuat dan aktif sebagaimana mestinya. Jangan biarkan kelalaian sesaat mengorbankan kualitas hidup anak di masa depan karena terlambat menyadari pentingnya waktu emas dalam penanganan patah tulang.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All