Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan posisi strategis Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) sebagai pilar utama dalam menjaga stabilitas nasional di tengah masa transformasi besar yang sedang dijalani bangsa. Dalam amanatnya pada upacara peringatan Hari Bhayangkara ke-80 yang berlangsung di Pusat Pelatihan Bimbob, Cikeas, Jawa Barat, Prabowo mengingatkan bahwa kepercayaan publik merupakan modal utama yang harus dijaga dengan sungguh-sungguh oleh setiap insan Bhayangkara.
Di hadapan jajaran kepolisian, Presiden menekankan bahwa Indonesia kini tengah berupaya melakukan lompatan besar di berbagai sektor krusial, mulai dari ekonomi, birokrasi, hingga ketahanan pangan dan energi. Namun, ia mengingatkan bahwa seluruh agenda pembangunan tersebut tidak mungkin dapat terlaksana tanpa adanya kepastian hukum, ketertiban, serta situasi keamanan yang kondusif. Menurut Prabowo, negara yang kuat dan peradaban yang langgeng sangat bergantung pada kualitas aparat penegak hukumnya yang mampu berdiri tegak di tengah masyarakat.
Prabowo menyoroti jati diri Polri yang lahir dari rahim perjuangan kemerdekaan. Sejarah mencatat bahwa kepolisian Indonesia selalu hadir di tengah-tengah rakyat dan merasakan langsung penderitaan serta aspirasi masyarakat. Semangat inilah yang diminta untuk terus dirawat, mengingat tantangan global saat ini semakin kompleks, mulai dari ketegangan geopolitik hingga ancaman kejahatan berbasis teknologi canggih.
Dalam kesempatan yang sama, Presiden memberikan apresiasi khusus atas kontribusi Polri yang melampaui tugas pokok penegakan hukum. Ia secara langsung memuji keterlibatan aktif kepolisian dalam mendukung program strategis nasional, seperti penguatan ketahanan pangan melalui produksi jagung, pembangunan gudang pangan, hingga pembangunan lebih dari 1.000 dapur untuk Program Makan Bergizi Gratis. Prabowo bahkan menyebut bahwa kualitas fasilitas dapur yang dibangun Polri telah mendapatkan pengakuan dari berbagai pengamat dan lembaga internasional sebagai standar yang sangat baik.
Kendati memberikan apresiasi, Prabowo tetap memberikan peringatan keras terkait ancaman yang mengintai keamanan nasional. Ia menyoroti bahaya narkotika, judi online, perdagangan orang, kejahatan siber, hingga praktik kejahatan kerah putih atau white collar crime yang dinilai merugikan perekonomian bangsa. Presiden menegaskan bahwa kemiskinan yang masih dialami sebagian rakyat Indonesia sering kali menjadi dampak langsung dari praktik korupsi dan kegiatan ekonomi ilegal. Oleh karena itu, Polri diminta untuk tidak cepat berpuas diri dengan capaian yang ada dan terus meningkatkan kewaspadaan.
Menyikapi dinamika hukum di tanah air, Prabowo menegaskan prinsip keadilan yang tidak boleh tebang pilih. Ia menekankan bahwa hukum harus menjadi pelindung bagi rakyat yang lemah dan tidak boleh dijadikan alat balas dendam politik maupun kepentingan golongan tertentu. Prinsip hukum yang tidak tajam ke bawah namun tumpul ke atas harus terus dipegang teguh. Polri, menurut Presiden, harus menjadi institusi yang mampu menjamin rasa aman bagi setiap warga negara, mulai dari petani yang menanam hingga pengusaha yang berinvestasi.
Dalam pidatonya, Prabowo menyampaikan enam instruksi khusus yang menjadi kompas moral bagi anggota kepolisian ke depan. Pertama, setiap anggota Polri wajib menjaga kepercayaan rakyat karena itulah senjata terkuat bagi penegak hukum. Kedua, polisi harus selalu hadir di tengah masyarakat dengan sikap melayani dan melindungi, bukan justru menyusahkan. Ketiga, penegakan hukum harus dilakukan dengan adil tanpa rasa takut kepada siapa pun, kecuali kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Instruksi keempat berkaitan dengan pengembangan kompetensi, di mana Polri diminta untuk terus menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, hingga kecerdasan buatan guna menghadapi modus kejahatan masa depan. Kelima, Presiden menekankan pentingnya sinergitas antara Polri, TNI, pemerintah, tokoh masyarakat, hingga elemen media dan akademisi. Terakhir, Prabowo berpesan agar Polri tetap rendah hati dan terus melakukan perbaikan diri, sebab institusi yang kuat adalah mereka yang mau mendengar kritik dan berani melakukan perubahan ke arah yang lebih baik.
Peringatan Hari Bhayangkara ke-80 ini menjadi momentum refleksi bagi institusi Polri untuk terus bertransformasi menuju kepolisian yang modern dan presisi. Presiden Prabowo menyampaikan rasa terima kasih kepada Kapolri beserta seluruh jajaran yang dinilai telah bekerja keras menjaga stabilitas nasional, termasuk keberhasilan dalam mengamankan agenda besar nasional seperti perayaan hari raya keagamaan. Kehadiran Polri di desa-desa hingga wilayah perbatasan diharapkan dapat terus dipertahankan sebagai wujud nyata negara hadir di tengah masyarakat.
Di penghujung amanatnya, Presiden Prabowo mengajak seluruh anggota Polri untuk tetap memegang teguh komitmen pengabdian kepada bangsa dan negara. Ia menegaskan kembali bahwa Polri harus selalu bersama rakyat dan terus menjadi Bhayangkara bangsa yang mampu membawa Indonesia menjadi negara modern yang makmur dalam keadilan. Peringatan hari jadi ini sekaligus menjadi pengingat bagi seluruh korps kepolisian untuk terus meningkatkan kedisiplinan dan pelayanan publik demi mendukung visi besar Indonesia Maju.











