Upaya menekan angka kematian akibat kanker serviks di Indonesia terus diperkuat melalui langkah preventif berbasis masyarakat. Terbaru, Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (FK UWKS) menggelar program edukasi komprehensif dan skrining Pap Smear bagi puluhan perempuan di Kecamatan Batang-Batang, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, pada Sabtu (27/6/2026). Kegiatan ini menjadi wujud nyata pengabdian civitas academica dalam memberikan akses kesehatan yang lebih luas bagi masyarakat di daerah.
Program yang diusung oleh tim dosen FK UWKS ini mengusung tajuk Deteksi Dini Kanker Serviks Melalui Integrasi Edukasi CINTA, yang merupakan akronim dari Cegah, Identifikasi, Tanggap, dan Atasi. Inisiatif ini tidak hanya sekadar memberikan penyuluhan, tetapi juga menyediakan layanan pemeriksaan langsung bagi kelompok perempuan yang memiliki risiko tinggi terkena penyakit mematikan tersebut.
Ketua tim pengabdian, dr. Jimmy Hadi Widjaja, Sp.PA, menegaskan bahwa kanker serviks hingga saat ini masih menjadi salah satu momok menakutkan bagi kesehatan perempuan di Indonesia. Meski demikian, dr. Jimmy menekankan bahwa penyakit ini sebenarnya sangat bisa dicegah jika deteksi dilakukan lebih awal.
Menurutnya, kanker serviks memiliki peluang kesembuhan yang sangat tinggi apabila ditemukan pada stadium dini. Oleh karena itu, edukasi berkelanjutan dan pemeriksaan Pap Smear secara rutin menjadi dua pilar utama untuk menekan angka kesakitan maupun kematian akibat kanker serviks di tingkat akar rumput.
Dalam pelaksanaannya, tim pengabdian yang beranggotakan Sri Lestari dan dr. Sianny, Sp.Rad ini bekerja sama erat dengan Puskesmas Batang-Batang. Sebanyak 30 peserta yang hadir diberikan pemahaman mendalam mengenai faktor risiko kanker serviks, mulai dari pola hidup, tanda-tanda awal yang sering kali tidak disadari, hingga urgensi vaksinasi HPV sebagai langkah perlindungan primer.
Para peserta tidak hanya mendapatkan materi teoretis, tetapi juga terlibat dalam diskusi interaktif yang hangat. Isu kesehatan reproduksi yang sering kali dianggap tabu atau sensitif di kalangan masyarakat pedesaan, berhasil dikupas secara tuntas oleh tim dokter. Sesi tanya jawab menjadi momen krusial di mana para ibu dapat berkonsultasi mengenai keluhan reproduksi mereka tanpa rasa cemas.
Metode CINTA yang diperkenalkan oleh tim FK UWKS diharapkan mampu mengubah paradigma masyarakat terhadap skrining kesehatan. Pendekatan ini mendorong perempuan untuk tidak lagi takut atau merasa malu melakukan pemeriksaan secara berkala. Dengan memahami langkah Cegah, Identifikasi, Tanggap, dan Atasi, diharapkan kesadaran kolektif untuk menjaga kesehatan reproduksi dapat tumbuh subur di tengah masyarakat.
Selain edukasi, kegiatan ini juga memfasilitasi pemeriksaan Pap Smear secara langsung bagi para peserta. Proses skrining dilakukan oleh tenaga medis profesional sesuai dengan standar prosedur operasional yang berlaku, sehingga memberikan rasa aman dan nyaman bagi setiap perempuan yang menjalani pemeriksaan.
Antusiasme peserta selama kegiatan berlangsung menjadi indikator positif bahwa edukasi kesehatan masih sangat dibutuhkan di wilayah Kabupaten Sumenep. Banyak warga yang memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memeriksakan diri sekaligus mendapatkan pemahaman baru mengenai pentingnya menjaga kesehatan organ reproduksi sebagai investasi jangka panjang bagi keluarga.
Evaluasi pasca-kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman yang signifikan di kalangan peserta. Mereka kini tidak hanya mengenali gejala awal kanker serviks, tetapi juga lebih tanggap terhadap pilihan penanganan yang tersedia apabila ditemukan kelainan. Hal ini membuktikan bahwa edukasi yang tepat sasaran mampu memicu perubahan perilaku kesehatan yang lebih baik.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini merupakan implementasi dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yang difokuskan pada peningkatan kualitas hidup masyarakat melalui program promotif dan preventif. Dukungan pendanaan internal dari Universitas Wijaya Kusuma Surabaya menjadi tulang punggung terlaksananya program ini, sekaligus memperkuat kolaborasi antara akademisi dan fasilitas kesehatan tingkat pertama.
Tim pelaksana menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UWKS yang telah memberikan dukungan penuh, mulai dari tahap perencanaan hingga eksekusi di lapangan. Sinergi dengan Puskesmas Batang-Batang sebagai mitra strategis juga menjadi kunci keberhasilan acara ini dalam menjangkau masyarakat secara efektif.
Ke depan, FK UWKS berkomitmen untuk menjadikan program ini sebagai kegiatan yang berkelanjutan. Tim pelaksana berharap bahwa model edukasi CINTA dapat direplikasi di wilayah lain, sehingga akses terhadap informasi dan deteksi dini kanker serviks tidak lagi menjadi barang mewah bagi masyarakat pedesaan.
Melalui kolaborasi lintas sektoral antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan tenaga kesehatan, diharapkan angka kejadian kanker serviks di Indonesia dapat ditekan secara signifikan. Investasi dalam bentuk edukasi dan skrining dini ini diyakini menjadi kunci utama dalam melindungi kesehatan perempuan Indonesia, sekaligus meningkatkan kualitas hidup keluarga secara menyeluruh.
Kegiatan ini pun ditutup dengan harapan besar agar budaya deteksi dini dapat melekat kuat di tengah masyarakat. Dengan semakin banyaknya perempuan yang sadar akan pentingnya menjaga kesehatan reproduksi, masa depan yang lebih sehat dan bebas dari ancaman kanker serviks bukan lagi menjadi sekadar impian, melainkan target yang bisa diwujudkan bersama.











