Pembalap tim pabrikan Honda, Joan Mir, kembali menghadapi akhir pekan yang penuh frustrasi di MotoGP Assen, Belanda. Juara dunia MotoGP 2020 itu mengalami dua kali kecelakaan fatal, masing-masing pada balapan Sprint hari Sabtu dan balapan utama hari Minggu. Insiden pada balapan utama di Sirkuit TT Assen pada hari Minggu (30/6/2026) menjadi sorotan khusus, karena Mir mengaku tidak memahami penyebab pasti di balik kecelakaannya, menyoroti "realitas" yang membingungkan dalam adaptasinya dengan motor Honda RC213V.
Kecelakaan pada lap pertama balapan utama tersebut menambah daftar panjang insiden yang dialami Mir musim ini. Sebelumnya, pada hari Sabtu, ia juga terjatuh di lap pembuka balapan Sprint. Mir menjelaskan bahwa ia memahami penyebab kecelakaan di balapan Sprint, namun insiden pada balapan utama yang menimpanya adalah sebuah misteri. Situasi ini mencerminkan tantangan besar yang dihadapi Mir bersama Honda, di mana ia kerap kali merasa kesulitan mengendalikan motornya, bahkan ketika merasa telah mengeluarkan kemampuan terbaiknya.
"Jujur, kemarin saya tahu mengapa saya jatuh," ujar Joan Mir setelah balapan di Assen. "Hari ini, saya tidak tahu. Itu adalah sesuatu yang cukup sering terjadi, Anda jatuh dan Anda tidak tahu mengapa. Itu sedikit realitasnya. Ketika Anda tidak mengerti mengapa Anda jatuh, sangat sulit untuk tidak mengulangi tindakan tersebut karena Anda tidak mengerti." Pernyataan ini menunjukkan tingkat kebingungan dan ketidakpastian yang mendalam yang dialami Mir, sebuah kondisi yang tentu saja sangat menekan mental seorang pembalap kelas dunia.
Perjalanan Joan Mir sejak bergabung dengan tim Repsol Honda (sekarang Honda HRC Castrol) memang tidak mudah. Setelah sukses besar meraih gelar juara dunia bersama Suzuki, ia diharapkan mampu membawa angin segar bagi Honda yang tengah berjuang. Namun, alih-alih bangkit, Mir justru terlihat kesulitan beradaptasi dengan karakter motor RC213V yang terkenal menuntut dan sulit dijinakkan. Karakteristik motor yang kerap kehilangan cengkeraman depan tanpa peringatan menjadi salah satu keluhan umum para pembalap Honda, termasuk Marc Marquez di masa lalu.
Mir mengakui bahwa kondisi mentalnya sangat terpengaruh oleh serangkaian insiden tak terduga ini. Untuk menjaga kesehatan mentalnya, ia memilih untuk tidak terlalu memikirkannya. "Tapi saya pikir saya pernah berada dalam situasi ini berkali-kali sebelumnya, dan hal terbaik untuk kesehatan mental saya adalah tidak terlalu memikirkannya dan mencoba untuk beristirahat, bersantai, me-reset, dan di balapan berikutnya kita mencoba karena kenyataannya adalah kita cepat," jelasnya. Ini adalah upaya untuk tetap positif di tengah kesulitan, fokus pada potensi kecepatan yang ia yakini dimiliki oleh dirinya dan tim.
Meskipun kerap terjatuh, Mir tetap optimis terhadap kecepatan yang ia dan timnya miliki. Ia merasa bahwa potensi sebenarnya di balapan Assen adalah mampu bertarung di posisi lima besar, bersaing dengan pembalap seperti Alex Marquez (yang finis kelima), Enea Bastianini, bahkan Marc Marquez di akhir balapan. Keyakinan ini bukan tanpa dasar, mengingat ia berhasil finis di posisi kelima pada balapan sebelumnya di Brno, menunjukkan bahwa ia memiliki potensi untuk meraih hasil positif jika tidak mengalami kecelakaan. "Saya pikir kami menunjukkan bahwa kami bisa meraih posisi lima besar – tidak setiap akhir pekan tapi hampir – dan saya pikir hari ini bukan pengecualian," katanya.
Namun, konsistensi menjadi masalah besar. "Saya pikir saya bisa bertarung di sana dengan Alex [Marquez], dengan Bastianini, mungkin dengan Marc [Marquez] pada akhirnya, jadi saya pikir saya berada di grup itu," tambah Mir. "Tetapi masalahnya adalah saya tidak bisa mengulanginya setiap akhir pekan, dan ini menyakitkan." Frustrasi ini menggambarkan dilema yang dihadapinya: memiliki kecepatan, namun gagal menerjemahkannya menjadi hasil karena insiden yang seringkali tak terduga.
Melihat ke depan, harapan untuk bangkit di seri berikutnya di Sachsenring, Jerman, tidak terlalu tinggi bagi Mir. Sirkuit Sachsenring dikenal dengan karakteristiknya yang unik, dengan banyak tikungan panjang yang membutuhkan sudut kemiringan ekstrem dan minimnya titik pengereman keras. Kondisi ini, menurut Mir, sangat tidak cocok dengan karakter Honda RC213V yang ia tunggangi, serta gaya balapnya sendiri.
"Mungkin ini adalah akhir pekan terburuk sepanjang tahun bagi saya, mungkin," ujar pembalap Honda HRC Castrol itu dengan nada pesimis. "Ada tikungan panjang di sana, sepanjang waktu dengan sudut kemiringan, Anda tidak memiliki titik pengereman, jadi saya tidak berharap banyak." Pernyataan ini bukan sekadar keluhan, melainkan analisis realistis dari seorang pembalap berpengalaman mengenai kompatibilitas antara motor, sirkuit, dan gaya berkendaranya. Ia menambahkan, "Tapi, yah, tahun lalu saya keenam dan kemudian Ogura menendang saya keluar, jadi saya pikir akan penting di Sachsenring untuk finis, untuk pulih dari itu, dan kemudian ketika kita pergi ke trek yang lebih baik, seperti misalnya Austria, lalu balapan luar negeri, kita bisa memiliki kesempatan untuk melakukan lebih banyak."
Sachsenring memang menjadi ujian berat bagi Mir dan Honda. Meskipun ia pernah menunjukkan performa menjanjikan di sana tahun lalu sebelum insiden, tantangan untuk menyelesaikan balapan dan mendapatkan poin akan menjadi prioritas utama. Harapan Mir kini tertuju pada sirkuit-sirkuit yang lebih sesuai dengan motornya, seperti Spielberg di Austria dan seri-seri di luar Eropa, yang menawarkan karakteristik berbeda yang mungkin lebih ramah terhadap RC213V. Perjuangan Joan Mir di MotoGP musim ini adalah cerminan dari tantangan yang lebih luas yang dihadapi Honda, sebuah tim legendaris yang kini berjuang untuk menemukan kembali kejayaan mereka di tengah dominasi pabrikan lain.











