Sirkuit Assen, Belanda, yang dikenal sebagai "Katedral Kecepatan" bagi para penggemar MotoGP, kembali menyuguhkan drama balap yang intens. Namun, perhatian khusus tertuju pada strategi ban yang diambil oleh seluruh pembalap Honda, yang secara mengejutkan memilih ban belakang kompon soft. Keputusan ini kontras dengan hampir seluruh pembalap lain di grid yang mengandalkan ban medium untuk balapan sepanjang 26 lap tersebut, memunculkan pertanyaan besar mengenai performa motor RC213V Honda.
Luca Marini, salah satu pembalap Honda HRC, secara blak-blakan mengungkapkan bahwa mereka "tidak punya banyak pilihan" dalam menentukan ban belakang. Menurut Marini, penggunaan ban belakang kompon medium pada motor Honda RC213V justru menghasilkan "grip nol" dan membuat motor "meluncur ke mana-mana terlalu banyak." Kondisi ini memaksa tim dan para pembalap untuk mengambil risiko dengan ban soft sebagai "satu-satunya opsi" yang memungkinkan mereka bersaing.
Pilihan ban adalah salah satu elemen krusial dalam strategi balap MotoGP, menentukan keseimbangan antara kecepatan awal, daya tahan, dan performa di lap-lap akhir. Umumnya, ban soft menawarkan cengkeraman maksimal di awal balapan namun cenderung cepat aus dan kehilangan performa di paruh kedua. Sebaliknya, ban medium atau hard lebih tahan lama meski membutuhkan waktu lebih untuk mencapai suhu kerja optimal dan menawarkan grip yang lebih moderat. Keputusan Honda untuk memilih ban soft secara seragam, termasuk Marc dan Alex Marquez yang mengendarai motor Honda (meskipun Alex di tim satelit Gresini Racing), menandakan adanya masalah mendasar pada adaptasi motor mereka terhadap kondisi lintasan atau karakteristik kompon ban yang tersedia.
Hasil balapan menunjukkan gambaran yang kompleks dari strategi ini. Meskipun Marc dan Alex Marquez berhasil finis di posisi enam besar, menunjukkan adaptasi dan manajemen ban yang impresif dari kedua bersaudara tersebut, performa terbaik dari pembalap Honda HRC, Luca Marini, hanya mencapai posisi ke-11. Marini bahkan finis di belakang kedua motor Yamaha pabrikan, yang secara tradisional juga menghadapi tantangan di beberapa sirkuit. Ini mengindikasikan bahwa meskipun ban soft adalah "satu-satunya pilihan," itu bukanlah solusi sempurna untuk Honda.
Marini sendiri mengalami balapan yang penuh tantangan. Ia terlibat dalam insiden di Tikungan 5 pada awal balapan, yang diakuinya membuatnya kesulitan untuk menyalip. Insiden ini, yang melibatkan sentuhan antara empat hingga lima motor, membuat Marini bertanya-tanya apakah ada bagian kecil dari motornya yang rusak, seperti winglet. "Saya tidak tahu apakah saya kehilangan beberapa bagian, beberapa sayap kecil atau semacamnya," ungkapnya, menggambarkan ketidakpastian awal balapan.
Setelah insiden tersebut, Marini merasa memiliki kecepatan yang lebih baik dibandingkan pembalap di depannya, namun ia terjebak di posisi tersebut. Ia kehilangan banyak waktu di belakang Jack Miller dan, setelah berhasil menyalip, ia sempat percaya diri bisa mengejar Fabio Quartararo. Namun, ketika berhadapan dengan Alex Rins, Marini kembali menemui kesulitan. Ia merasa tidak bisa menyalip dengan efektif dan terpaksa "mendorong terlalu keras pada ban belakang," yang mempercepat degradasi ban soft-nya.
"Ketika saya menyalipnya, saya cukup percaya diri dengan kecepatan saya untuk mengejar Fabio [Quartararo]. Tetapi ketika saya menyusul Rins, sulit untuk menyalip," jelas Marini. "Saya mendorong ban belakang terlalu keras dan saya menggunakan ban soft, jadi saya berkata ‘Oke, sekarang saya harus mengelola sedikit untuk bertahan sampai akhir’." Kondisi ini mengonfirmasi kekhawatiran umum tentang daya tahan ban soft untuk balapan penuh. Marini menambahkan bahwa di lap-lap akhir, ia kekurangan cengkeraman ban belakang untuk mencoba menyalip. Ia sangat kesulitan, terutama saat berbelok di belakang Alex Rins, dan sering terlambat dalam mengangkat motor, sehingga kehilangan banyak waktu di akselerasi.
Pernyataan Marini bahwa mereka "tidak punya banyak pilihan" dan bahwa ban medium tidak memberikan "grip sama sekali" menyoroti masalah fundamental yang sedang dihadapi Honda dengan motor RC213V mereka. Dalam beberapa musim terakhir, Honda memang telah berjuang untuk menemukan performa kompetitif, terutama dalam hal cengkeraman ban belakang dan kemampuan motor untuk berbelok. Kondisi ini seringkali memaksa para pembalap mereka untuk mengambil risiko lebih besar atau mengadopsi strategi yang tidak konvensional, seperti yang terlihat di Assen.
Meskipun Marc dan Alex Marquez mampu memaksimalkan potensi ban soft dan finis di posisi yang lebih baik, fakta bahwa pilihan ban ini adalah hasil dari keterbatasan, bukan keunggulan, tetap menjadi sorotan. Ini menunjukkan bahwa tim Honda masih memiliki pekerjaan rumah besar untuk dilakukan dalam pengembangan motor RC213V agar dapat bersaing secara konsisten dengan pabrikan lain tanpa harus mengorbankan pilihan ban yang optimal. Strategi ban di Assen mungkin menjadi gambaran nyata dari perjuangan mereka saat ini, di mana pilihan terbaik seringkali datang dari minimnya opsi lain.











