Drama tak Terduga di Piala Dunia 2026: Aljazair dan Austria Lolos, Iran Tersingkir di Tengah Bayang-bayang ‘Aib Gijon’

Danu Ilham

Kansas City, AS – Sebuah drama sepak bola yang mengingatkan pada insiden kontroversial empat dekade lalu kembali mewarnai gelaran Piala Dunia 2026. Laga penentu Grup J antara Aljazair dan Austria berakhir imbang 3-3 secara menegangkan pada Minggu (waktu setempat), sebuah hasil yang memastikan kedua tim tersebut melaju ke fase gugur, sekaligus menyingkirkan tim nasional Iran. Hasil pertandingan ini, yang diwarnai dua gol di masa injury time, sontak memicu gelombang teori konspirasi di kalangan penggemar, menyeret kembali memori ‘Aib Gijon’ tahun 1982.

Pertandingan yang berlangsung di Kansas City Stadium, Missouri, Amerika Serikat, ini memiliki taruhan tinggi. Baik Aljazair maupun Austria mengetahui bahwa hasil imbang akan cukup untuk meloloskan mereka dari fase grup. Austria akan mengamankan posisi runner-up, sementara Aljazair berhak melaju sebagai salah satu tim peringkat ketiga terbaik, format yang memungkinkan karena perluasan peserta Piala Dunia menjadi 48 tim. Sayangnya, skenario ini secara otomatis mengakhiri perjalanan Iran di turnamen akbar empat tahunan tersebut.

Bagi banyak pengamat dan penggemar sepak bola, khususnya dari Iran, jalannya pertandingan antara Aljazair dan Austria memunculkan deja vu yang kuat terhadap ‘Skandal Gijon’ pada Piala Dunia 1982 di Spanyol. Kala itu, Jerman Barat dan Austria bertemu di laga terakhir fase grup. Jerman Barat hanya membutuhkan kemenangan tipis 1-0 atau 2-0 untuk lolos bersama Austria, sementara hasil tersebut akan menyingkirkan Aljazair. Jerman Barat mencetak gol di menit ke-10, dan setelah itu, kedua tim tampak bermain tanpa motivasi menyerang, hanya mengoper bola di lini tengah untuk menghabiskan waktu, tanpa menunjukkan keinginan untuk mengubah skor.

Insiden di Gijon tersebut tidak hanya mencoreng sportivitas, tetapi juga memicu kemarahan publik internasional dan mengubah aturan FIFA. Sejak saat itu, semua pertandingan terakhir fase grup di Piala Dunia harus dimainkan secara serentak untuk mencegah potensi kolusi serupa. Kenangan pahit ini masih membayangi Aljazair, yang menjadi korban pada tahun 1982, dan Austria, salah satu pihak yang terlibat. Spanduk bertuliskan "Ingat 1982, Aib Gijón" bahkan terlihat dibentangkan oleh suporter Aljazair di Kansas City, menegaskan betapa dalam luka sejarah itu masih terasa.

Meskipun hasil imbang 3-3 di Piala Dunia 2026 ini secara teknis tidak melibatkan match-fixing dalam artian skor 1-0 seperti di Gijon, drama dua gol di masa injury time Aljazair-Austria memicu kecurigaan. Para penganut teori konspirasi berpendapat bahwa akhir pertandingan yang kacau dan skor yang ‘terlalu sempurna’ untuk meloloskan kedua tim itu terasa seperti sudah ditakdirkan. Di media sosial, banyak penggemar Iran menyuarakan kekecewaan dan mendesak FIFA untuk melakukan penyelidikan, menyoroti sejumlah momen yang mereka anggap mencurigakan. Beberapa bahkan menuduh pemain Austria "bermain santai" di babak kedua, memungkinkan Aljazair menyamakan kedudukan.

Berbagai label pun disematkan pada pertandingan ini. Ada yang menyebutnya "memalukan," "laga paling terasa seperti sudah diatur yang pernah saya lihat," hingga "skandal." Namun, baik tim Aljazair maupun Austria dengan tegas membantah tuduhan bermain mata atau adanya kesepakatan untuk mengatur hasil. Mereka bersikukuh bahwa laga di Kansas City adalah pertarungan sejati yang penuh gairah dan persaingan.

Pelatih Austria, Ralf Rangnick, secara blak-blakan menyebut anggapan adanya kesepakatan itu sebagai "tidak masuk akal." Ia menegaskan bahwa jalannya 15 menit terakhir pertandingan yang sulit diprediksi, dengan skor yang saling kejar-mengejar dan berubah dramatis, justru menjadi bukti kuat bahwa tidak ada pihak yang berupaya mengulang ‘Aib Gijon’. "Dalam pertandingan seperti ini, dengan skor 3-3, tidak ada yang bisa berasumsi bahwa itu hasil kesepakatan, terutama setelah apa yang kita lihat dalam 90 detik terakhir," kata Rangnick dengan nada geram.

Rangnick melanjutkan penjelasannya dengan perumpamaan yang kuat. "Jika tiga menit sebelum laga berakhir seseorang mengatakan ini akan terjadi, Anda pasti akan menganggap mereka gila. Saya sudah menjadi pelatih selama sekitar 40 tahun dan bahkan saya tidak ingat pernah melihat pertandingan dengan alur sedramatis dan se-tak terduga ini," ujarnya, menekankan intensitas dan kejutan di lapangan. "Kebanyakan orang memperkirakan hasilnya 0-0 atau 1-1, tetapi sekarang menjadi 3-3. Ini luar biasa—ruang ganti penuh kegilaan. Jika Alfred Hitchcock yang menulis drama seperti ini, saya mungkin akan mengatakan dia benar-benar gila."

Senada dengan Rangnick, pelatih Aljazair, Vladimir Petkovic, juga menepis spekulasi tentang pengaturan hasil pertandingan. "Saya sangat senang karena pada akhirnya sepak bola yang menang, yang berbicara—skor 3-3 mengatakan segalanya," ucap Petkovic, menggarisbawahi semangat kompetitif yang terlihat di lapangan. Pernyataan kedua pelatih ini mencoba meredam gelombang kekecewaan dan tuduhan yang mengalir deras, terutama dari penggemar Iran.

Meskipun bantahan telah dilayangkan, bayangan ‘Aib Gijon’ tampaknya akan terus membayangi diskusi seputar pertandingan ini, setidaknya untuk sementara waktu. Terlepas dari kontroversi, Austria dan Aljazair kini harus mengalihkan fokus mereka ke babak 32 besar. Austria dijadwalkan akan menghadapi raksasa Eropa, Spanyol, di Los Angeles pada Kamis, 2 Juli 2026. Sementara itu, Aljazair akan terbang ke Vancouver untuk berhadapan dengan Swiss pada Jumat, 3 Juli 2026. Kedua tim akan berjuang membuktikan bahwa kelolosan mereka murni hasil dari perjuangan di lapangan hijau.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All