Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuding Iran sebagai pihak yang kemungkinan besar bertanggung jawab atas serangan udara yang menghantam sistem pipa minyak utama Arab Saudi. Insiden ini terjadi pada Selasa, 6 Mei 2019, dan memicu kekhawatiran akan eskalasi ketegangan di Timur Tengah.
Dalam cuitan yang diunggahnya pada hari yang sama, Trump menyatakan bahwa serangan tersebut telah menyebabkan kerusakan signifikan pada infrastruktur energi vital Kerajaan Arab Saudi. Ia menekankan bahwa Iran kini menghadapi masalah yang sangat besar, menyiratkan bahwa Teheran mungkin akan menghadapi konsekuensi atas tindakan tersebut.
Pernyataan Trump datang menyusul laporan awal mengenai serangan drone yang menargetkan stasiun pompa di jalur pipa minyak Timur-Barat Arab Saudi. Jalur pipa ini merupakan salah satu infrastruktur krusial yang mengangkut minyak dari ladang minyak Teluk Persia ke pelabuhan di Laut Merah. Serangan ini sempat menghentikan sementara aliran minyak melalui jalur tersebut.
Meskipun belum ada pihak yang secara resmi mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut, Amerika Serikat dan sekutunya kerap menuding Iran atas berbagai insiden yang terjadi di kawasan tersebut. Tuduhan ini seringkali terkait dengan program rudal balistik Iran dan dukungannya terhadap kelompok milisi di berbagai negara Timur Tengah. Arab Saudi sendiri telah lama bersitegang dengan Iran, dengan persaingan geopolitik yang intens di kawasan tersebut.
Sebelumnya, Kementerian Energi Arab Saudi mengonfirmasi bahwa dua buah pompa di Stasiun Pompa Nomor 8 di jalur pipa minyak Timur-Barat telah menjadi sasaran serangan drone pada Selasa pagi. Serangan ini dilaporkan menyebabkan kerusakan ringan dan sempat menghentikan aliran minyak untuk sementara waktu. Namun, pihak berwenang menyatakan bahwa situasi telah terkendali dan aliran minyak akan segera pulih sepenuhnya.
Peristiwa ini menambah daftar panjang insiden yang meningkatkan ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, serta antara Iran dan Arab Saudi. Hubungan kedua negara semakin memburuk sejak Amerika Serikat menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran pada tahun 2018 dan menerapkan kembali sanksi ekonomi yang ketat terhadap Teheran.
