Saturday, 12 September 2026
BREAKING
EKONOMI

Penurunan Tajam IHSG Sepekan: Kapitalisasi Pasar Hilang Rp167 Triliun

Oleh Yohanes September 12, 2026 2 hours lalu 0 komentar

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri pekan perdagangan dengan catatan suram, terperosok 1,43%. Penurunan signifikan ini membuat IHSG bercokol di level 6.541,377 pada penutupan perdagangan. Akibatnya, nilai kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI) ikut terkikis drastis.

Dalam sepekan terakhir, total kapitalisasi pasar saham di BEI susut sebesar Rp167 triliun. Nilai pasar yang sebelumnya bertengger di angka Rp11.613 triliun kini menyusut menjadi Rp11.446 triliun. Angka ini mencerminkan sentimen negatif yang tengah melanda pasar modal domestik.

Kinerja negatif IHSG ini tidak terlepas dari pergerakan mayoritas indeks sektoral yang ikut merosot. Tercatat, sebanyak 9 dari 11 indeks sektoral mengalami pelemahan. Sektor energi menjadi yang paling tertekan, diikuti oleh sektor transportasi dan logistik, serta sektor kesehatan yang juga mencatatkan penurunan.

Sementara itu, hanya ada dua sektor yang berhasil bertahan di zona hijau. Sektor properti dan real estat serta sektor teknologi menjadi penopang minor di tengah badai pelemahan yang terjadi. Namun, penguatan kedua sektor ini belum mampu menahan laju penurunan IHSG secara keseluruhan.

Analis pasar modal, Hans Kwee, menilai bahwa sentimen global menjadi salah satu pemicu utama pelemahan IHSG. Ia mengutip pernyataan dari Bank Indonesia (BI) yang mengindikasikan adanya potensi kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve. “The Fed diperkirakan akan menaikkan suku bunga lagi, ini menjadi sentimen negatif bagi pasar emerging market seperti Indonesia,” ujar Hans Kwee.

Lebih lanjut, Hans Kwee juga menyoroti dampak penguatan dolar Amerika Serikat terhadap mata uang negara berkembang. “Dolar menguat, ini membuat investor cenderung menarik dananya dari negara berkembang,” jelasnya. Situasi ini diperparah dengan kekhawatiran pasar terhadap inflasi yang masih tinggi di Amerika Serikat, yang berpotensi mendorong The Fed untuk kembali menaikkan suku bunganya.

Bagikan: Facebook X WhatsApp