Kelompok milisi Houthi di Yaman baru-baru ini mengeluarkan peringatan keras kepada Turki dan Pakistan, mendesak kedua negara tersebut untuk tidak terlibat dalam konflik yang sedang berlangsung di Yaman, khususnya dalam upaya membela Arab Saudi. Ancaman ini muncul di tengah eskalasi ketegangan regional yang dipicu oleh perang di Yaman.
Juru bicara militer Houthi, Brigadir Jenderal Yahya Sare’e, secara tegas menyatakan bahwa setiap upaya campur tangan dari Ankara maupun Islamabad akan disambut dengan respons yang setimpal. “Setiap negara yang mencoba ikut campur dalam urusan Yaman demi membela Arab Saudi akan menghadapi konsekuensi yang berat,” ujar Sare’e dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada hari Selasa, 12 Januari 2021. Ia menambahkan bahwa milisi Houthi memiliki kapasitas untuk menghadapi ancaman tersebut.
Peringatan ini dilontarkan setelah munculnya laporan mengenai kemungkinan Turki dan Pakistan akan memberikan dukungan lebih besar kepada Arab Saudi. Meskipun belum ada konfirmasi resmi dari kedua negara mengenai keterlibatan langsung, retorika Houthi menunjukkan kekhawatiran mereka terhadap potensi perluasan konflik. Sare’e menekankan bahwa Houthi siap mempertahankan kedaulatan Yaman dan tidak akan gentar menghadapi kekuatan eksternal.
Lebih lanjut, Sare’e mengklaim bahwa Houthi telah berhasil menggagalkan sejumlah serangan yang dilancarkan oleh koalisi pimpinan Arab Saudi di berbagai front di Yaman. Ia juga menyebutkan bahwa milisi Houthi memiliki persenjataan yang memadai untuk menghadapi agresi, termasuk penggunaan drone dan rudal balistik. “Kami memiliki kemampuan pertahanan yang kuat dan siap untuk merespons setiap agresi yang menargetkan negara kami,” tegasnya.
Ancaman ini juga menandakan semakin kompleksnya lanskap politik dan militer di Yaman. Keterlibatan aktor regional dan potensi intervensi dari negara-negara lain dapat semakin memperpanjang penderitaan rakyat Yaman dan menghambat upaya pencarian solusi damai untuk konflik yang telah berlangsung bertahun-tahun.
