Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan pada Selasa (20/12/2022) dengan tren pelemahan. Indeks acuan bursa saham Indonesia ini tercatat merosot 36,55 poin, membawanya bertengger di level 6.552,79. Pelemahan serupa juga dialami oleh Indeks LQ45, yang mencakup 45 saham unggulan, dengan koreksi 3,28 poin ke posisi 652,70.
Kondisi pasar yang negatif ini dipicu oleh dua faktor utama yang berasal dari dinamika pasar global. Pertama, kenaikan harga minyak dunia memberikan tekanan pada sentimen investor. Lonjakan harga komoditas energi ini seringkali diartikan sebagai sinyal inflasi yang meningkat, yang dapat menggerus daya beli dan profitabilitas perusahaan.
Faktor kedua yang tak kalah penting adalah ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat. The Federal Reserve (The Fed) diprediksi akan melanjutkan sikap ‘hawkish’ atau pengetatan kebijakan moneter. Sikap ini biasanya diwujudkan dengan kenaikan suku bunga acuan yang lebih agresif untuk mengendalikan inflasi. Kenaikan suku bunga The Fed berpotensi menarik dana investor dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, menuju aset yang dianggap lebih aman di AS.
Analis pasar modal, Hans Khoe, menggarisbawahi kekhawatiran investor terhadap kebijakan The Fed. “Yang paling diperhatikan pasar adalah sikap ‘hawkish’ dari The Fed. Ini memang membuat investor global menjadi lebih berhati-hati dalam menempatkan dananya di negara-negara berkembang,” jelas Hans Khoe.
Lebih lanjut, Hans Khoe menambahkan bahwa pasar saham Indonesia juga dipengaruhi oleh kondisi global yang kurang kondusif. “Sentimen yang beredar di pasar global saat ini memang kurang baik, sehingga turut memberikan tekanan terhadap pergerakan IHSG,” ujarnya.
Dalam situasi seperti ini, investor disarankan untuk tetap waspada dan mencermati perkembangan data ekonomi serta kebijakan moneter global. Potensi volatilitas pasar diperkirakan masih akan berlanjut seiring dengan ketidakpastian ekonomi dan arah kebijakan bank sentral utama dunia.
