Fenomena wanita yang memilih untuk tidak memiliki anak, atau dikenal dengan istilah "childfree," semakin menunjukkan peningkatannya di berbagai belahan dunia, termasuk Inggris. Pilihan hidup ini tidak lagi dianggap anomali, melainkan sebuah jalur yang diambil oleh banyak perempuan modern dengan berbagai pertimbangan kompleks. Kisah Jess King, seorang content creator berusia 32 tahun, menjadi cerminan nyata dari perubahan paradigma ini.
Jess awalnya berasumsi bahwa memiliki anak adalah jalur alami yang akan diikuti oleh setiap wanita. Namun, seiring bertambahnya usia, ia merasakan keraguan yang terus-menerus dan mulai mempertanyakan apakah ia memang tidak menginginkannya. Berbeda dengan banyak orang tua yang ia ajak bicara yang merasakan dorongan naluriah untuk memiliki anak, Jess tidak merasakannya, memicu pertanyaan mendalam dalam dirinya.
Penelitian dari Centre for Social Justice (CSJ) di Inggris menunjukkan bahwa sekitar tiga juta wanita berusia 16 hingga 45 tahun kemungkinan besar akan memilih hidup tanpa anak. Angka ini menandai pergeseran demografi yang signifikan; jika wanita pada kelompok usia ini memiliki anak pada tingkat yang sama dengan nenek mereka, akan ada 600.000 kelahiran lebih banyak. Data dari Office for National Statistics (ONS) juga mengkonfirmasi tren ini, melaporkan bahwa angka kelahiran di Inggris dan Wales telah menurun selama empat tahun berturut-turut, mencapai level terendah dalam hampir setengah abad.
Laporan CSJ mengidentifikasi serangkaian tekanan sosial dan ekonomi sebagai pendorong utama di balik pilihan childfree ini. Faktor-faktor tersebut meliputi kenaikan biaya perumahan yang melonjak, kemandirian finansial yang tertunda, pernikahan yang semakin larut, dan ketidakpastian karier yang kian meningkat. Tekanan finansial juga menjadi pertimbangan penting bagi Jess, yang tinggal di London barat bersama pasangannya, Ollie.
Sebagai pekerja lepas, pendapatan Jess bersifat fluktuatif, kondisi yang membuatnya khawatir jika harus membesarkan anak. Ia menyoroti kesulitan banyak orang untuk memenuhi kebutuhan hidup, bahkan dirinya sendiri dan pasangannya seringkali harus berhemat. Beberapa wanita lain yang diwawancarai juga mengidentifikasi kendala finansial sebagai faktor pembatas utama dalam keputusan mereka.
Selain tekanan ekonomi, wanita childfree juga mempertimbangkan isu-isu yang lebih luas. Kekhawatiran akan perubahan iklim, komitmen kuat terhadap karier, keinginan untuk bepergian, dan perasaan bahwa dunia modern menawarkan kebebasan memilih yang lebih besar, semuanya turut membentuk keputusan mereka. Pilihan hidup tanpa anak ini didukung pula oleh komunitas online yang berkembang pesat.
Jess dan Chy (33), seorang account manager dari Midlands, menemukan dukungan besar dalam komunitas daring yang berisi orang-orang dengan kehidupan childfree yang bahagia. Tagar #childfree di TikTok memiliki lebih dari 127.900 video, sementara #childfreebychoice memiliki lebih dari 68.100 video. Ribuan wanita berbagi alasan dan pengalaman mereka untuk tidak menjadi seorang ibu, memberikan validasi dan rasa nyaman bagi Jess untuk mengungkapkan pemikirannya.
Meski dukungan online meluas, tekanan sosial masih menjadi tantangan di kehidupan nyata. Chy, yang berasal dari latar belakang Afrika, menjelaskan bahwa banyak kerabatnya menganut budaya di mana wanita diharapkan memiliki anak. Keputusannya untuk childfree disambut dengan keterkejutan dan ketidakpercayaan dari keluarga besarnya.
Chy merasa tidak nyaman memikul tanggung jawab atas orang lain, meyakini bahwa ia tidak dapat memberikan kasih sayang yang melimpah kepada seorang anak. Prioritas utamanya adalah mengejar karier dan bepergian, hal-hal yang ia yakini akan jauh lebih sulit dilakukan jika memiliki anak. Keinginan untuk fokus pada karier memang menjadi salah satu alasan utama wanita memilih untuk tidak memiliki anak, seperti yang disebutkan dalam laporan CSJ.
Survei terhadap lebih dari 1.500 wanita berusia 18-35 tahun di Inggris pada tahun 2023, yang ditugaskan oleh New Social Covenant Unit, menemukan bahwa 38% wanita yang tidak ingin menjadi ibu menyebut alasan karier. Hampir separuh responden juga menyoroti tingginya biaya penitipan anak, dan 41% menyatakan ingin pindah ke rumah yang lebih besar jika memiliki anak. Chy berpendapat bahwa para ibu tidak mendapatkan dukungan yang memadai.
Ia mengkritik biaya penitipan anak yang mahal dan sistem cuti orang tua saat ini, yang menurutnya membuat wanita sulit menjalani hidup di luar peran sebagai ibu. Chy mencontohkan temannya yang harus mengurangi jam kerja demi mengantar dan menjemput anak sekolah. Ia menambahkan, jika sistem-sistem tersebut berubah, keputusannya mungkin bisa berbeda.
Laporan CSJ juga berargumen bahwa di Inggris, peran seorang ibu perlu diberikan nilai yang lebih tinggi, baik secara sosial maupun dalam kebijakan publik. Laporan tersebut menyebutkan bahwa status keibuan "dihargai lebih tinggi" pada abad ke-20. Namun, bagi sebagian wanita, tekanan untuk memiliki anak justru terasa berat.
Sasha (28), asisten manajer bar koktail yang tinggal di sebuah desa kecil di Wales, merasakan pengawasan ketat dari lingkungannya. "Semua orang punya anak, punya pacar, menikah," ujarnya, mengakui bahwa ia sering mendapatkan reaksi negatif dari orang-orang. Sasha dan pasangannya, Tom (31), lebih memilih menghabiskan uang mereka untuk menjelajahi dunia. "Tahun ini kami akan ke Maladewa, kami jelas tidak akan mampu jika punya anak," ungkapnya.
Meskipun ada resistensi dari beberapa pihak, banyak wanita childfree merasa bahwa memiliki anak tidak lagi harus menjadi pilihan standar. Sian Lawley-Rudd (37), seorang pelatih anjing dari Staffordshire, tumbuh dengan pemikiran bahwa memiliki anak adalah "hal yang harus dilakukan," meskipun ia tidak pernah memiliki keinginan mendalam untuk menjadi seorang ibu. Kini, ia mantap dengan keputusannya untuk hidup childfree.
Konflik di Rusia dan Timur Tengah, serta perubahan iklim, juga menjadi faktor dalam pilihan Sian. "Apakah saya ingin membawa anak ke dunia yang keadaannya seperti sekarang? Tidak. Itu jawabannya dan saya tidak berubah pikiran," tegasnya. Jess King juga sependapat, mempertanyakan apakah akan ada banyak dunia di masa depan secara lingkungan.
Jess meyakinkan dirinya, "Saya lebih suka menyesal tidak punya anak, daripada punya anak dan menyesalinya." Ia juga berpendapat bahwa jika ia lahir di generasi yang berbeda, ia mungkin akan memiliki anak karena tekanan dan ekspektasi yang lebih besar. Bagi Sian, kebahagiaan dan pemenuhan emosional ia temukan pada dua anjing lurchernya, Bonnie dan Oliver, serta dalam pekerjaannya sebagai pelatih anjing.
Pergeseran ini mencerminkan evolusi nilai-nilai dan prioritas dalam masyarakat modern. Pilihan untuk childfree bukan sekadar keputusan pribadi, melainkan sebuah respons terhadap realitas ekonomi, sosial, dan lingkungan yang semakin kompleks. Semakin banyak wanita yang menyadari bahwa kebahagiaan dan pemenuhan diri dapat ditemukan dalam berbagai bentuk, di luar peran tradisional sebagai seorang ibu.











