Polemik Larangan Front Start Device MotoGP: Pedro Acosta Anggap Lebih Berbahaya, Minta Aturan Ditinjau Ulang

Wibowo

Pembalap muda sensasional dari Red Bull KTM Factory Racing, Pedro Acosta, secara mengejutkan menyuarakan agar MotoGP mempertimbangkan kembali larangan penggunaan perangkat start depan (front start device). Menurut Acosta, aturan baru yang mulai berlaku sejak Grand Prix Belanda di Assen ini justru berpotensi meningkatkan risiko keselamatan bagi para pembalap di lintasan.

Keputusan untuk melarang perangkat ini diambil setelah serangkaian insiden serius di tikungan pertama beberapa balapan sebelumnya. Salah satu yang paling menonjol adalah kecelakaan parah yang menimpa Johann Zarco di Grand Prix Catalunya pada Mei lalu, mengakibatkan cedera lutut serius yang membuatnya harus absen lebih dari sebulan. Insiden seperti ini memicu kekhawatiran serius mengenai tingkat agresivitas dan risiko di awal balapan.

Federasi Balap Motor Internasional (FIM) dan Dorna Sports, sebagai penyelenggara MotoGP, berharap larangan ini dapat mengurangi tumpukan pembalap dan meningkatkan keselamatan, khususnya saat memasuki tikungan pertama yang seringkali menjadi titik rawan. Mereka beranggapan bahwa tanpa perangkat tersebut, kecepatan saat mendekati tikungan pertama akan sedikit berkurang, memberikan lebih banyak ruang bagi pembalap untuk bermanuver.

Sebelum larangan resmi diberlakukan, para pembalap sempat melakukan latihan start tanpa perangkat depan di Grand Prix Ceko di Sirkuit Brno pada 19-21 Juni. Sesi ini bertujuan untuk menilai kelayakan dan dampak dari larangan tersebut di tengah musim balap yang sedang berlangsung. Evaluasi dari sesi tersebut menjadi dasar bagi keputusan final.

Setelah evaluasi, MotoGP kemudian mengumumkan larangan penggunaan perangkat start depan berlaku efektif mulai Grand Prix Belanda di Sirkuit Assen pada 26-28 Juni. Ini menandai perubahan signifikan dalam prosedur start yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari strategi balap modern.

Namun, bagi Pedro Acosta, hasil dari latihan dan pengalaman awal di Assen justru menguatkan kekhawatirannya. Pada Jumat di Assen, ia telah menyatakan bahwa start tanpa perangkat tersebut terasa lebih berbahaya. Pendapat ini kembali ia tegaskan pada Sabtu, setelah menjalani start kompetitif pertama pasca-larangan dalam sesi Sprint Race.

Pembalap asal Spanyol itu menjelaskan, tanpa perangkat start depan, motor menjadi "sangat mudah melakukan wheelie" dan "sangat mudah untuk tetap tertahan di tengah lintasan" setelah start sprint race. Kondisi ini, menurutnya, menciptakan situasi yang lebih tidak terkendali dan berpotensi memicu kecelakaan.

Acosta, yang bernaung di tim Red Bull KTM Factory Racing, secara lugas menyampaikan, "Saya pikir sekarang bahkan lebih berbahaya dari sebelumnya, karena sangat mudah untuk melakukan wheelie, sangat mudah untuk tetap tertahan, seperti, di tengah lintasan." Ia menambahkan, "Mereka harus memikirkan untuk tidak menggunakannya, atau kembali memperkenalkan perangkat depan, karena menurut saya ini lebih buruk dari sebelumnya."

Perangkat start depan, atau dikenal juga sebagai ‘holeshot device’, adalah sistem hidrolik atau mekanis yang menekan suspensi depan motor ke bawah saat start. Tujuannya adalah untuk menurunkan pusat gravitasi motor, mengurangi potensi wheelie (ban depan terangkat), dan memungkinkan pembalap memaksimalkan akselerasi dari garis start. Dengan ban depan yang tetap menapak aspal, cengkeraman ban belakang dapat disalurkan secara optimal, menghasilkan start yang lebih cepat dan terkontrol. Perangkat ini berevolusi dari awalnya hanya untuk suspensi belakang menjadi juga melibatkan suspensi depan, menunjukkan upaya tim untuk mencari setiap keuntungan sepersekian detik di awal balapan.

Larangan ini memang menuai beragam respons di kalangan pembalap. Sebagian merasa bahwa tanpa perangkat tersebut, mereka akan mendapatkan feeling pengereman yang lebih baik saat mendekati tikungan pertama, sehingga berpotensi meningkatkan keselamatan. Namun, sebagian lainnya, termasuk Acosta, justru mengkhawatirkan risiko yang lebih besar. Mereka berpendapat bahwa tanpa penekan suspensi depan, motor akan lebih mudah terangkat di bagian depan, dan kemudian berpotensi ‘mengunci’ roda depan yang kurang berputar saat pembalap harus melakukan pengereman keras di tikungan pertama.

Berbeda dengan Acosta, pembalap Yamaha, Fabio Quartararo, justru merasa tidak ada masalah berarti dengan start tanpa perangkat depan. Setelah sprint race, Quartararo menyatakan bahwa start terasa baik-baik saja baginya, mengindikasikan bahwa ia tidak mengalami kesulitan signifikan dalam mengadaptasi gaya startnya.

Sementara itu, Marco Bezzecchi memilih untuk lebih berhati-hati dalam memberikan penilaian. Pembalap Mooney VR46 Racing Team ini ingin menunggu hingga balapan utama pada Minggu usai untuk bisa memberikan komentar yang lebih komprehensif. Bezzecchi mengatakan, "Startnya normal, tapi masih belum cukup waktu untuk menilai apakah ini lebih baik atau tidak. Pada akhirnya, dari sisi saya, berapa banyak start yang Anda lakukan dalam lima tahun? Banyak. Jadi ini semua [pengalaman] versus satu [start tanpa perangkat]."

Ia menambahkan, "Dalam hal feeling, tidak terlalu buruk tapi memang sangat sulit untuk memberikan komentar yang jelas atau mengatakan ya atau tidak. Saya ingin menunggu besok (Minggu), jadi maaf untuk ini, tapi saat ini, belum ada komentar besar." Pernyataan Bezzecchi menyoroti bahwa adaptasi terhadap perubahan fundamental seperti ini membutuhkan waktu dan pengalaman balapan yang lebih banyak.

Perdebatan mengenai perangkat start depan ini mencerminkan dilema yang kerap dihadapi MotoGP: bagaimana menyeimbangkan kecepatan dan performa maksimal dengan faktor keselamatan pembalap. Dengan motor-motor yang semakin bertenaga dan persaingan yang kian ketat, setiap detail teknis memiliki dampak signifikan terhadap hasil balapan dan, yang lebih penting, keamanan para rider.

Dengan adanya pandangan berbeda dari para pembalap kunci, masa depan penggunaan front start device di MotoGP masih menjadi topik hangat. Keputusan akhir kemungkinan akan sangat bergantung pada evaluasi lebih lanjut setelah beberapa seri balapan tanpa perangkat ini, serta masukan berkelanjutan dari para pembalap dan tim. Fokus utama akan tetap pada bagaimana memastikan balapan yang spektakuler sekaligus aman bagi semua yang terlibat.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All