Venezuela Luluh Lantak: Pertaruhan Nyawa di Balik Puing Gempa Dahsyat, Ribuan Orang Hilang

Yohanes

Negara Venezuela dilanda duka mendalam setelah serangkaian gempa bumi dahsyat mengguncang pada Rabu lalu, meninggalkan jejak kehancuran parah, terutama di negara bagian pesisir La Guaira. Dengan tangan kosong dan sekop, warga bersama tim penyelamat berpacu melawan waktu, mengais reruntuhan demi mencari tanda-tanda kehidupan di tengah tumpukan beton dan kawat baja. Drone-drone terbang di atas, menjadi mata harapan di daerah-daerah yang sulit dijangkau, sementara jeritan keputusasaan dan doa menggema di setiap sudut.

Dua gempa bumi berturut-turut, dengan kekuatan Magnitudo 7,2 dan 7,5, menghantam Venezuela. Gempa yang kedua disebut sebagai salah satu guncangan terkuat yang pernah tercatat di negara itu dalam seabad terakhir. Dampak gempa ini sangat masif, mengubah lanskap La Guaira—wilayah yang berbatasan langsung dengan distrik ibu kota Caracas—menjadi lautan puing. Bangunan-bangunan bertingkat runtuh, menelan ribuan warga Venezuela di bawahnya.

Hingga saat ini, pihak berwenang telah mengonfirmasi setidaknya 1.430 korban jiwa, namun angka ini terus bertambah setiap jam seiring upaya pencarian yang terus berlangsung. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahkan memperkirakan sekitar 50.000 orang masih dinyatakan hilang, menimbulkan kekhawatiran besar akan skala tragedi ini. Korban luka-luka juga terus bertambah, membebani fasilitas medis yang ada.

Tim penyelamat nasional di Venezuela dilaporkan terbatas, sehingga bantuan internasional menjadi sangat krusial. Tim penyelamat dari berbagai negara seperti Meksiko, Spanyol, Amerika Serikat, Inggris, El Salvador, Swiss, dan Kolombia telah tiba untuk bergabung dalam upaya pencarian dan penyelamatan. Pada Jumat, dilaporkan ada 861 sukarelawan internasional yang sudah berada di lapangan, dengan lebih banyak lagi yang dijadwalkan datang.

Meski demikian, jumlah tim penyelamat yang ada masih dirasa belum mencukupi untuk menangani skala bencana yang begitu besar. Operasi pencarian seringkali terhambat oleh lalu lintas dan kerumunan warga yang memadati area bencana. Para tentara dan sukarelawan Meksiko berulang kali menyerukan keheningan total agar mereka bisa mendengarkan suara-suara samar dari bawah reruntuhan, yang mungkin menandakan adanya korban yang masih hidup.

Warga setempat turut membantu dengan segala cara yang mereka bisa. Mereka yang memiliki drone menggunakannya untuk menyisir area yang sulit dijangkau, mencari korban selamat atau jenazah. Keluarga-keluarga berkumpul mengelilingi layar video drone, dengan mata nanar mencari-cari sesuatu yang familiar: sehelai pakaian, seuntai rambut, atau barang pribadi lain yang bisa memberikan petunjuk tentang keberadaan orang yang mereka cintai.

Seiring waktu berlalu, kekhawatiran baru muncul. Glendys Delgado, seorang warga, mengungkapkan keprihatinannya. "Ada bau… orang-orang yang meninggal sudah mulai tercium. Itu akan membuat kami dan anak-anak sakit," ujarnya. Dua bangunan di dekat tempat tinggal Delgado runtuh, namun ia merasa belum ada bantuan resmi dari pemerintah. "Tidak ada seorang pun dari pemerintah yang datang ke sini, tapi saya bersyukur kepada Tuhan bahwa orang-orang dari Caracas telah datang untuk mendukung kami dengan makanan," tambahnya.

Deiyer Gabril (27) juga merasakan dampak serupa. "Setiap daerah telah terpengaruh, Macuto, Caribe… semuanya di sana buruk. Dan kami semua bisa merasakan baunya," tuturnya, menggambarkan betapa luasnya area yang terdampak bencana. Aroma kematian yang mulai menyebar di antara puing-puing menjadi pengingat pahit akan realitas yang mengerikan dan potensi ancaman kesehatan baru.

Di tengah kekacauan ini, banyak keluarga kehilangan segalanya. Sebuah keluarga, yang kehilangan tempat tinggalnya, kini terpaksa tidur di kendaraan mereka di tempat parkir Bandara Internasional Simón Bolívar di Maiquetía. Bandara itu sendiri ditutup akibat kerusakan, namun setidaknya menawarkan tempat terbuka yang datar dan aman dari bangunan yang berisiko runtuh. Sang suami, dengan segala risiko, berusaha mencapai apartemen mereka di lantai lima belas yang tidak stabil hanya untuk mengambil barang-barang dan dokumen penting. "Hanya yang penting," katanya, menyadari bahaya besar untuk mengambil terlalu banyak.

Wanita dalam keluarga tersebut mengungkapkan rasa sakitnya yang mendalam. "Sangat menyakitkan untuk tidak punya apa-apa lagi. Ibu saya kehilangan rumahnya, kami kehilangan rumah kami, kami tidak punya apa-apa. Anda berusaha tetap kuat untuk anak-anak Anda," tuturnya dengan suara bergetar. Ia menambahkan sentimen yang dirasakan banyak orang: "Semua orang bilang yang penting Anda hidup – dan memang benar, tapi semua yang Anda alami ini menyakitkan: melihat orang menderita, mendengar orang menjerit, melihat anak-anak terjebak, dan ketidakberdayaan karena tidak bisa melakukan apa-apa karena Anda harus tetap di sini dan menjaga anak-anak Anda sendiri. Anda berusaha kuat, tapi itu menyakitkan."

Meskipun tim penyelamat nasional terbatas, pemerintah Venezuela tetap menjalin komunikasi dengan komunitas internasional. Presiden Interim Rodríguez menyatakan bahwa ia telah berbicara dengan Presiden AS Donald Trump dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Jumat. Kedua pemimpin AS tersebut menegaskan kembali komitmen mereka untuk mengirimkan tim penyelamat tambahan dan pasokan bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan.

Tragedi gempa ini tidak hanya menguji ketahanan fisik dan mental warga Venezuela, tetapi juga solidaritas kemanusiaan global. Dengan puluhan ribu orang masih hilang dan proses pencarian yang penuh tantangan, setiap menit menjadi penentu antara hidup dan mati. Upaya pemulihan akan menjadi perjalanan panjang dan berat, namun harapan akan bantuan dan dukungan terus menyala di tengah puing-puing La Guaira.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All