Jakarta – Kabar duka menyelimuti program pelatihan calon manajer koperasi merah putih yang diselenggarakan oleh Kementerian Pertahanan (Kemenhan). Novia Rahmadhani Sihotang, salah seorang peserta, meninggal dunia pada Selasa, 23 Juni 2026, setelah didiagnosis mengidap tuberkulosis (TBC). Peristiwa tragis ini, ditambah dengan terungkapnya empat kematian peserta lain dalam pelatihan militer yang sama, telah memicu perintah evaluasi kesehatan menyeluruh dari Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin.
Novia Rahmadhani Sihotang mengikuti pelatihan di Pusat Bahasa Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan, dan Latihan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara, Jakarta. Kematiannya menjadi sorotan tajam setelah ada dugaan bahwa kondisi TBC yang dideritanya tidak terdeteksi pada pemeriksaan kesehatan awal, meskipun TBC merupakan penyakit yang seharusnya menggugurkan kelulusan.
Letnan Kolonel Ichsan, Anggota Corp Kesehatan Militer, dalam konferensi pers di Kementerian Pertahanan, Jakarta, Sabtu, 27 Juni 2026, menjelaskan bahwa Novia telah menjalani prosedur pemeriksaan medis yang ketat. Menurutnya, hasil pemeriksaan rontgen pada tahap awal seleksi tidak menunjukkan adanya TBC, melainkan hanya indikasi pneumonia atau infeksi paru-paru.
"Pada saat pemeriksaan rontgen itu tidak terdapat TBC ya. Sedangkan yang terakhir pada saat pemeriksaan kedua adalah dari diagnosa rumah sakit adalah TBC," ungkap Letkol Ichsan, membandingkan hasil pemeriksaan awal dengan diagnosis final. Ia menegaskan bahwa TBC merupakan kondisi yang tidak memenuhi syarat kesehatan bagi calon manajer koperasi desa merah putih. Namun, hasil medis Novia pada awalnya hanya mengindikasikan infeksi paru-paru akibat virus, sehingga ia dinyatakan lolos seleksi.
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Pertahanan, Mayor Jenderal Ketut Gede Wetan Pastia, mengakui adanya sejumlah jenis penyakit yang mungkin tidak terdeteksi secara langsung dalam pemeriksaan kesehatan yang dilakukan oleh Panitia Seleksi Nasional. Ini menjadi tantangan tersendiri dalam proses skrining peserta dalam skala besar.
Menyikapi temuan TBC, penyelenggara pelatihan segera mengambil langkah antisipasi untuk mencegah penularan lebih lanjut. Pelacakan kontak intensif dilakukan terhadap seluruh peserta dan panitia latihan yang berada di Halim Perdanakusuma.
Hasil pelacakan tersebut, kata Ketut, memang menunjukkan adanya penularan TBC terhadap beberapa peserta lain. Mereka yang terindikasi telah diisolasi untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut. "Saya sampaikan sampai saat ini ada pemisahan, memang beberapa orang yang terindikasi ya kena virus (bakteri) itu, tetapi kondisinya masih dalam kondisi aman dan terkendali," ujar Ketut, memastikan situasi tetap terkontrol.
Penyebaran bakteri TBC yang terdeteksi ini turut melibatkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dalam upaya pelacakan dan mitigasi. Kemenkes memberikan asistensi medis, khususnya dalam penanganan penyakit paru dan penyakit menular, untuk memastikan langkah-langkah yang diambil efektif dan sesuai standar kesehatan.
Tragedi ini menjadi semakin serius setelah Mayor Jenderal Ketut Gede Wetan Pastia mengungkapkan bahwa Novia Rahmadhani Sihotang bukanlah satu-satunya korban jiwa. Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin telah memerintahkan evaluasi kesehatan komprehensif setelah total lima calon manajer koperasi meninggal dunia selama pelatihan militer yang masih berlangsung.
Evaluasi ini akan mencakup beberapa aspek krusial, mulai dari pengawasan medis yang lebih ketat, profiling kesehatan peserta secara mendalam, penyesuaian intensitas kegiatan fisik, pengaturan sistem rujukan yang lebih efisien, hingga penerapan mekanisme deteksi dini bagi peserta yang memiliki faktor risiko kesehatan tertentu. Langkah-langkah ini diharapkan dapat mencegah terulangnya insiden serupa di masa mendatang.
Ketut Gede Wetan Pastia juga menekankan bahwa fokus utama latihan militer ini bukanlah pada kemampuan fisik yang berlebihan, melainkan pada pembentukan mental, karakter, kerja sama tim, dan kemampuan memecahkan masalah. Ia mengklaim bahwa kurikulum latihan disusun secara terukur dan hati-hati, dengan mempertimbangkan latar belakang peserta yang berasal dari kalangan sipil.
"Perlu kami tegaskan bahwa kegiatan ini bukan bertujuan membentuk peserta menjadi prajurit atau anggota militer. Para peserta tetap berada pada profesi dan penugasan sipilnya," tegasnya, meredakan kekhawatiran tentang sifat pelatihan yang terlalu berat bagi warga sipil. Pelatihan ini dirancang untuk membekali calon manajer koperasi desa dengan kedisiplinan dan kepemimpinan, bukan keahlian tempur.
Kronologi meninggalnya Novia Rahmadhani Sihotang dijelaskan secara rinci oleh Ketut. Pada Senin, 22 Juni 2026, pukul 14.30 WIB, Novia datang ke Unit Kesehatan Sekolah (UKS) dengan keluhan batuk berdahak, sesak napas, dan demam. Tim kesehatan segera melakukan pemeriksaan dan memantau kondisinya. Namun, keesokan paginya, kondisi Novia semakin melemah.
Ia kemudian dirujuk ke RSAU dr. Esnawan Antariksa. Di rumah sakit tersebut, melalui foto toraks, ditemukan adanya TB paru aktif. Novia segera dirawat di ruang ICU isolasi untuk penanganan intensif. Sayangnya, pada pukul 15.00 WIB, kondisi Novia mengalami penurunan kesadaran yang drastis, memaksa tim medis melakukan resusitasi jantung paru. Namun, upaya penyelamatan tidak berhasil. Pada pukul 15.13 WIB, dokter menyatakan Novia meninggal dunia akibat tuberkulosis.
Kematian Novia dan empat peserta lainnya menjadi pengingat penting akan urgensi skrining kesehatan yang komprehensif dan berkelanjutan dalam setiap program pelatihan berskala besar, terutama yang melibatkan aktivitas fisik. Kementerian Pertahanan bersama Kementerian Kesehatan berkomitmen penuh untuk memastikan keamanan dan kesehatan seluruh peserta, serta mengevaluasi ulang semua prosedur agar insiden tragis ini tidak terulang di masa depan demi keberlanjutan program pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas.











