Jepang dan Rusia kembali memanas akibat kontroversi sebuah monumen. Sebuah patung yang menampilkan prajurit Uni Soviet sedang menghancurkan patok batu berukir lambang Bunga Krisan, simbol kebanggaan dan kekaisaran Jepang, telah memicu kemarahan dari pihak Tokyo.
Insiden ini terjadi di kota Yuzhno-Sakhalinsk, wilayah Oblast Sakhalin, yang diperebutkan oleh kedua negara sejak akhir Perang Dunia II. Patung tersebut, yang didirikan di Taman Kemenangan, menggambarkan adegan kemenangan Soviet atas Jepang. Bunga Krisan, yang merupakan lambang kekaisaran Jepang dan memiliki makna mendalam bagi rakyatnya, digambarkan hancur di bawah kaki tentara Soviet, menyimbolkan kekalahan Jepang.
Kementerian Luar Negeri Jepang secara tegas menyuarakan protesnya terhadap pembangunan patung tersebut. Melalui juru bicaranya, Tomoyuki Yoshida, Jepang menyatakan bahwa monumen tersebut tidak dapat diterima karena dianggap menyinggung perasaan rakyat Jepang. “Tindakan seperti itu tidak dapat dibenarkan dan kami telah menyampaikan keberatan kami kepada pihak Rusia,” ujar Yoshida dalam sebuah pernyataan.
Lebih lanjut, Jepang menekankan bahwa pembangunan patung semacam itu bertentangan dengan semangat rekonsiliasi dan perdamaian yang seharusnya diupayakan oleh kedua negara. Meskipun Rusia mengklaim patung tersebut hanya menggambarkan peristiwa sejarah kemenangan mereka, Jepang melihatnya sebagai provokasi yang mengabaikan nilai-nilai sejarah dan budaya Jepang.
Kementerian Luar Negeri Rusia, di sisi lain, belum memberikan tanggapan resmi terkait protes Jepang. Namun, perdebatan mengenai kepemilikan dan interpretasi sejarah Kepulauan Kuril (yang oleh Jepang disebut Wilayah Utara) terus menjadi duri dalam hubungan bilateral kedua negara. Insiden patung ini menambah daftar panjang ketegangan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun, memperumit upaya normalisasi hubungan antara Tokyo dan Moskow.
