Saturday, 5 September 2026
BREAKING
KESEHATAN

Tezepelumab Beri Harapan Baru Pasien Esofagitis Eosinofilik: Uji Klinis Fase 3 Tunjukkan Perbaikan Signifikan

Oleh Rini Widiyarti September 5, 2026 2 hours lalu 0 komentar

Uji klinis fase 3 bernama CROSSING menunjukkan bahwa tezepelumab, obat yang dikenal dengan nama Tezspire, mampu secara signifikan memperbaiki frekuensi dan tingkat keparahan disfagia (kesulitan menelan) pada pasien remaja dan dewasa dengan kondisi esofagitis eosinofilik (EoE). Selain itu, lebih banyak pasien yang berhasil mencapai remisi histologis setelah 24 minggu pengobatan dibandingkan dengan kelompok plasebo.

Temuan ini membuka jalan bagi Tezspire sebagai opsi pengobatan baru yang menjanjikan bagi penderita EoE. Profesor Evan S. Dellon, MD, MPH, dari Center for Esophageal Diseases and Swallowing, yang juga merupakan seorang profesor kedokteran, menyatakan optimismenya terhadap hasil uji coba ini. “Uji coba fase 3 CROSSING yang positif ini mendemonstrasikan bahwa Tezspire dapat memberikan pendekatan baru dalam mengobati EoE, membantu lebih banyak pasien mencapai remisi histologis dan peredaan gejala yang bermakna dengan jadwal dosis setiap empat minggu,” ujar Dellon.

Esofagitis eosinofilik adalah penyakit kronis yang ditandai dengan peradangan pada esofagus akibat penumpukan eosinofil, sebuah jenis sel darah putih. Kondisi ini seringkali menimbulkan gejala yang mengganggu aktivitas sehari-hari, terutama kesulitan dalam menelan makanan. Penyakit ini dapat memengaruhi kualitas hidup penderitanya secara signifikan.

Hasil uji klinis CROSSING memberikan bukti kuat mengenai efektivitas tezepelumab dalam mengatasi gejala disfagia yang menjadi ciri khas EoE. Perbaikan tidak hanya terlihat pada seberapa sering pasien mengalami kesulitan menelan, tetapi juga pada seberapa parah gejala tersebut dirasakan. Kemampuan obat ini untuk memfasilitasi remisi histologis, yang berarti penurunan signifikan jumlah eosinofil di esofagus, juga menjadi poin penting yang patut digarisbawahi.

Dengan demikian, Tezspire berpotensi menjadi pilihan terapi yang efektif, menawarkan harapan baru bagi pasien EoE untuk kembali menikmati hidup tanpa dibayangi oleh ketidaknyamanan akibat kesulitan menelan. Jadwal pemberian dosis setiap empat minggu juga dinilai memberikan kemudahan bagi pasien dalam menjalani terapi jangka panjang.

Bagikan: Facebook X WhatsApp