Amerika Serikat dilaporkan melancarkan serangan militer terhadap Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di Selat Hormuz pada hari Kamis (20/6/2024). Insiden ini sontak memicu respons keras dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang mengancam akan memberikan “bencana” kepada Iran. Ketegangan di kawasan Timur Tengah pun dilaporkan meningkat drastis, berimbas pada lonjakan harga minyak dunia.
Serangan yang dilancarkan oleh pasukan AS ini menyasar sejumlah fasilitas milik IRGC di wilayah strategis Selat Hormuz. Detail spesifik mengenai jenis serangan dan tingkat kerusakan belum sepenuhnya terkonfirmasi. Namun, langkah militer ini jelas menandai eskalasi signifikan dalam hubungan bilateral antara AS dan Iran, yang telah memburuk dalam beberapa waktu terakhir.
Menyikapi serangan tersebut, Presiden Trump tidak tinggal diam. Melalui pernyataan resminya, orang nomor satu di Gedung Putih itu menegaskan bahwa Iran akan menghadapi konsekuensi berat. “Kami akan menurunkan bencana ke Iran,” tegas Trump, mengisyaratkan adanya respons lanjutan yang lebih masif dari pihak AS. Ancaman ini menambah kekhawatiran akan potensi konflik terbuka di kawasan.
Dampak langsung dari ketegangan yang memuncak ini terlihat pada pasar energi global. Harga minyak mentah dilaporkan melonjak tajam pasca-berita serangan dan ancaman Trump menyebar. Kekhawatiran akan terganggunya pasokan minyak dari salah satu jalur laut terpenting di dunia, Selat Hormuz, mendorong para pelaku pasar untuk melakukan aksi beli, sehingga menaikkan harga komoditas vital ini.
Insiden ini terjadi di tengah situasi regional yang memang sudah rentan. Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran vital yang dilalui sebagian besar pasokan minyak mentah dunia. Setiap gangguan di kawasan ini memiliki implikasi ekonomi global yang luas. Amerika Serikat telah berulang kali menyuarakan kekhawatiran mengenai aktivitas Iran di kawasan tersebut, termasuk dugaan pelanggaran sanksi dan ancaman terhadap kebebasan navigasi.
