Friday, 4 September 2026
BREAKING
BERITA

Ekonom Peringatkan Indonesia: Lonjakan Imbal Hasil Obligasi Global Picu Risiko Krisis

Oleh Emanuel September 4, 2026 2 hours lalu 0 komentar

Kondisi ekonomi global saat ini tengah diliputi kekhawatiran serius. Lonjakan tajam pada imbal hasil (yield) obligasi pemerintah di sejumlah negara telah memicu peringatan dari para ekonom mengenai potensi terjadinya krisis ekonomi yang bisa merembet ke Indonesia.

Peristiwa ini menjadi sorotan utama mengingat imbal hasil obligasi yang tinggi seringkali menjadi indikator meningkatnya biaya pinjaman bagi pemerintah dan perusahaan. Hal ini dapat berdampak pada stabilitas keuangan secara luas.

Salah satu kekhawatiran utama yang diungkapkan adalah kemungkinan terjadinya ‘krisis obligasi’ jika tren kenaikan imbal hasil ini terus berlanjut tanpa terkendali. Fenomena ini, menurut para ahli, patut dicermati oleh Indonesia sebagai salah satu pemain dalam pasar keuangan global.

“Ada potensi krisis karena lonjakan yield obligasi pemerintah di beberapa negara. Ini perlu diwaspadai,” ujar Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Josua Pardede, seperti dikutip dari CNN Indonesia pada Selasa (23/1/2024).

Josua menjelaskan lebih lanjut bahwa kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah di pasar global dapat memberikan tekanan pada likuiditas global. Ketika investor beralih mencari aset dengan imbal hasil yang lebih tinggi, dana-dana tersebut akan keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Implikasinya, nilai tukar rupiah berpotensi melemah dan biaya pinjaman negara menjadi lebih mahal.

“Jika ini terjadi, aliran dana asing akan keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia. Dampaknya, nilai tukar rupiah kita akan tertekan dan biaya pinjaman pemerintah menjadi lebih mahal,” terangnya.

Lebih lanjut, Josua menekankan bahwa situasi ini juga dapat memicu kenaikan biaya bunga pada surat utang yang diterbitkan oleh korporasi di Indonesia. Hal ini tentu akan memberatkan sektor bisnis dan berpotensi menghambat investasi.

“Kondisi ini juga bisa membuat biaya bunga pada surat utang korporasi naik, yang berpotensi memberatkan dunia usaha dan menghambat investasi,” tambahnya.

Menanggapi potensi risiko ini, Josua menyarankan agar pemerintah Indonesia tetap berhati-hati dalam mengelola utang negara. Pengelolaan yang prudent dan transparan menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan investor dan memitigasi dampak negatif dari fluktuasi pasar global.

“Pemerintah perlu tetap berhati-hati dalam mengelola utang negara agar tidak menimbulkan kekhawatiran pada investor,” pungkasnya.

Bagikan: Facebook X WhatsApp