Nilai tukar Rupiah berhasil ditutup menguat atas Dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Jumat (4/9/2026). Mata uang Garuda mencatat kenaikan 37 poin, menempatkannya di posisi Rp17.642 per Dolar AS. Penguatan ini ditopang oleh sentimen positif yang muncul dari kebijakan Bank Sentral AS, The Fed.
Keputusan The Fed yang mengindikasikan kebijakan moneter yang lebih akomodatif menjadi katalis utama di balik penguatan Rupiah. Pernyataan tersebut memberikan angin segar bagi pasar keuangan global, termasuk Indonesia. Analis pasar memperkirakan bahwa langkah The Fed ini akan mendorong aliran dana masuk ke negara-negara berkembang, di mana Indonesia menjadi salah satu destinasi utamanya.
Sebelumnya, pasar sempat diliputi kekhawatiran mengenai potensi kenaikan suku bunga The Fed yang dapat menarik investasi keluar dari pasar emerging. Namun, sinyal pelonggaran kebijakan justru membalikkan sentimen tersebut. “Pasar merespons positif terhadap sinyal dari The Fed,” ujar seorang analis yang enggan disebutkan namanya. “Ini menciptakan optimisme bahwa likuiditas global akan tetap terjaga.”
Penguatan Rupiah ini juga sejalan dengan ekspektasi para pelaku pasar terhadap stabilitas ekonomi Indonesia. Data-data ekonomi domestik yang dirilis sebelumnya menunjukkan performa yang cukup baik, memberikan kepercayaan diri bagi investor untuk menempatkan dananya di tanah air. Kenaikan nilai tukar ini diharapkan dapat membantu meredam inflasi dan menjaga daya beli masyarakat.
Secara rinci, pergerakan Rupiah pada Jumat lalu menunjukkan tren positif sejak pembukaan perdagangan. Intervensi dari Bank Indonesia (BI) juga turut berperan dalam menjaga volatilitas nilai tukar agar tetap stabil dan sesuai dengan fundamental ekonomi. BI terus memantau pergerakan pasar dan siap mengambil langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas Rupiah.
