Friday, 4 September 2026
BREAKING
SEPAKBOLA

Liga Primer Inggris Gencar Buru Talenta Muda, Pasar Transfer Internal Bergeliat

Oleh Herfansyah September 4, 2026 2 hours lalu 0 komentar

Liga Primer Inggris kini menjadi destinasi utama bagi para pemain belia di Eropa. Musim panas ini, Newcastle United misalnya, berhasil memboyong Sean Steur, seorang pemain berusia 18 tahun, dari Ajax Amsterdam dengan mahar mencapai 27 juta dolar AS atau setara 20 juta poundsterling. Angka fantastis ini, yang berarti lebih dari satu juta dolar AS per penampilan senior, menunjukkan betapa tingginya nilai yang diberikan klub-klub Inggris pada potensi muda.

Steur, yang digadang-gadang sebagai ‘Frenkie de Jong berikutnya’, baru mencatatkan 20 penampilan bersama tim utama Ajax di Eredivisie sebelum memutuskan hijrah ke St. James’ Park. Keputusan ini pun tak terhindarkan bagi Ajax, meskipun mereka adalah klub empat kali juara Eropa. Minat dari klub Liga Primer yang kredibel membuat talenta muda tersebut lebih memilih bermain untuk jawara Inter-Cities Fairs Cup 1968-69 tersebut.

Perbandingan dengan Frenkie de Jong sendiri menunjukkan perbedaan usia pemain yang dilepas Ajax. De Jong telah menjadi pemain reguler di tim utama Ajax selama dua tahun sebelum pindah ke Barcelona pada usia 22 tahun. Sementara Steur, meski potensinya besar, baru mengumpulkan sedikit pengalaman di level senior.

Perburuan pemain muda ini bukan fenomena yang terisolasi. Liga Primer Inggris secara konsisten membeli pemain berusia di bawah 19 tahun lebih banyak dibandingkan liga-liga top Eropa lainnya. Fenomena ini menciptakan pasar transfer internal yang unik di dalam kompetisi itu sendiri, di mana klub-klub bersaing ketat untuk mendapatkan talenta paling menjanjikan.

Taktik ini didorong oleh berbagai faktor, termasuk potensi keuntungan finansial jangka panjang, kebutuhan untuk membangun skuad masa depan yang kuat, dan bahkan tekanan untuk terus berinovasi agar tidak tertinggal dari rival. Klub-klub kaya di Liga Primer memiliki kekuatan finansial untuk menawarkan paket yang sulit ditolak oleh akademi-akademi di negara lain, baik dalam bentuk biaya transfer maupun gaji.

Dampak dari tren ini tidak hanya terasa pada klub-klub yang membeli, tetapi juga pada klub-klub yang menjual. Akademi-akademi di negara lain kini melihat Liga Primer sebagai ‘pintu keluar’ yang menguntungkan bagi talenta terbaik mereka. Hal ini dapat memicu perdebatan mengenai keberlanjutan pengembangan pemain lokal dan potensi ‘kebocoran’ talenta dari liga-liga lain.

Bagikan: Facebook X WhatsApp