SURABAYA – Kota Surabaya kembali menegaskan komitmennya terhadap kelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat, khususnya di wilayah pesisir. Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Kota Surabaya telah mengembangkan sebuah inovasi signifikan melalui pemanfaatan teknologi pirolisis. Teknologi ini dirancang khusus untuk mengubah tumpukan sampah plastik yang mencemari kawasan hutan bakau menjadi bahan bakar alternatif yang sangat bermanfaat bagi para nelayan setempat.
Inisiatif ini hadir sebagai jawaban atas permasalahan serius pencemaran sampah plastik yang terus mengancam ekosistem vital hutan bakau di Surabaya. Kepala Brida Kota Surabaya, Agus Imam Sonhaji, menjelaskan bahwa persoalan sampah di kawasan bakau memiliki kompleksitas tersendiri. Sampah tidak hanya berasal dari aliran sungai yang membawa limbah dari daratan, tetapi juga diperparah oleh masuknya sampah dari laut saat terjadi fenomena pasang.
Menurut Agus, upaya pencegahan sebenarnya sudah dilakukan oleh Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya dengan memasang screen penyaring sampah di saluran Kebon Agung. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa sampah plastik masih banyak ditemukan menumpuk di area hutan bakau. Hal ini disebabkan oleh gelombang laut yang kuat saat pasang, membawa masuk sampah dan menyangkutkannya pada akar-akar napas mangrove yang sulit dijangkau. Kondisi ini menjadi tantangan besar dalam upaya pembersihan manual dan mengancam kelangsungan hidup ekosistem bakau.
Melihat kondisi tersebut, Brida menggagas sebuah solusi inovatif yang tidak hanya berfokus pada pembersihan, tetapi juga pada pemanfaatan limbah. Pendekatan yang diambil adalah dengan melibatkan berbagai pihak dalam pengumpulan sampah plastik. Mulai dari perguruan tinggi, pelajar, hingga masyarakat sekitar diajak untuk berpartisipasi aktif mengumpulkan sampah, khususnya jenis plastik yang tidak lagi memiliki nilai jual di pasaran.
Agus Imam Sonhaji menegaskan bahwa fokus utama mereka adalah pada sampah plastik "non-valuable", seperti kantong kresek yang sudah rusak atau sampah plastik lain yang tidak laku dijual kembali ke pengepul. "Kalau botol plastik masih ada harganya. Untuk sampah kresek yang rusak itu tidak ada nilainya, tetapi banyak mengambang dan nyantol di mangrove. Nah, yang non-valuable itu yang ingin kita kumpulkan," ujarnya pada Jumat, 26 Juni 2026. Sampah-sampah inilah yang selama ini menjadi biang kerok kerusakan lingkungan bakau dan sulit ditangani secara konvensional.
Setelah terkumpul, sampah plastik tersebut akan melalui proses pengolahan menggunakan teknologi pirolisis. Pirolisis adalah metode dekomposisi termal material organik, dalam hal ini sampah plastik, melalui pemanasan pada suhu tinggi tanpa kehadiran oksigen atau dengan kadar oksigen yang sangat minim. Proses ini memecah rantai molekul plastik menjadi senyawa yang lebih sederhana, menghasilkan produk berupa minyak, gas, dan arang. Minyak hasil pirolisis inilah yang kemudian dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif.
Pemanfaatan minyak bakar hasil olahan sampah plastik ini diharapkan dapat memberikan dampak positif ganda. Secara ekologis, inisiatif ini akan membantu mengurangi tumpukan sampah plastik di hutan bakau, memulihkan kesehatan ekosistem, dan menjaga fungsi vital bakau sebagai pelindung pesisir dari abrasi dan habitat alami bagi berbagai spesies laut. Secara ekonomi, bahan bakar alternatif ini akan sangat membantu meringankan beban operasional para nelayan di kawasan pesisir Surabaya.
Biaya bahan bakar merupakan salah satu komponen terbesar dalam operasional penangkapan ikan. Dengan adanya pasokan bahan bakar yang lebih terjangkau dan berasal dari sumber daur ulang, nelayan dapat menghemat pengeluaran mereka, meningkatkan profitabilitas, dan secara tidak langsung mendukung keberlanjutan mata pencarian mereka. Ini adalah contoh nyata bagaimana inovasi teknologi dapat menjembatani solusi lingkungan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Program Brida Kota Surabaya ini juga mencerminkan semangat kolaborasi pentahelix yang kuat, melibatkan pemerintah daerah, akademisi, masyarakat, dan sektor swasta (meskipun tidak disebutkan secara eksplisit, potensi keterlibatan industri daur ulang atau energi tetap terbuka) dalam memecahkan masalah lingkungan. Keterlibatan aktif perguruan tinggi dalam pengembangan teknologi dan pelajar serta masyarakat dalam pengumpulan sampah menunjukkan adanya upaya pembangunan kapasitas dan kesadaran kolektif terhadap isu lingkungan.
Hutan bakau di Surabaya, termasuk Kebun Raya Mangrove, merupakan aset lingkungan yang sangat berharga. Melindunginya dari pencemaran adalah prioritas. Dengan langkah inovatif Brida ini, Surabaya tidak hanya menunjukkan komitmennya terhadap lingkungan hijau, tetapi juga menjadi pionir dalam pengembangan ekonomi sirkular yang mengintegrasikan pengelolaan limbah dengan produksi energi. Diharapkan, keberhasilan proyek ini dapat menjadi model yang direplikasi di daerah pesisir lain di Indonesia, memberikan solusi nyata bagi masalah sampah plastik dan mendukung kemandirian energi komunitas nelayan. Transformasi sampah plastik menjadi sumber energi adalah bukti nyata bahwa inovasi dapat menjadi kunci untuk menciptakan masa depan yang lebih hijau dan sejahtera bagi masyarakat pesisir.











