PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) merayakan ulang tahun Jakarta ke-499 dengan menyoroti peran krusialnya dalam mentransformasi ibu kota menjadi pusat pemerintahan, bisnis, dan perekonomian nasional. Sejalan dengan ambisi Jakarta untuk menjadi kota global yang modern dan berkelanjutan, Waskita Karya terus berkontribusi melalui berbagai proyek infrastruktur monumental. Salah satu proyek teranyar yang menjadi fokus adalah penyelesaian Proyek Light Rail Transit (LRT) Jakarta Fase 1B Velodrome-Manggarai, yang diproyeksikan akan menjadi motor penggerak utama konektivitas perkotaan.
Proyek senilai Rp 4,1 triliun ini, yang dikerjakan untuk PT Jakarta Propertindo (Perseroda), dirancang untuk menghubungkan wilayah Jakarta Timur dan Jakarta Pusat. Lebih dari sekadar menghubungkan dua wilayah, jalur LRT ini akan memperkuat integrasi antarmoda di Stasiun Manggarai, yang dikenal sebagai simpul transportasi terbesar di Indonesia. Keberadaan jalur LRT ini diharapkan mampu mendorong peralihan masyarakat dari kendaraan pribadi ke transportasi publik, yang pada gilirannya akan mengurangi kemacetan, meningkatkan produktivitas, serta berkontribusi pada target penurunan emisi karbon di kawasan metropolitan Jakarta.
"Jakarta bukan hanya pusat pemerintahan dan bisnis, tetapi juga episentrum pertumbuhan ekonomi nasional yang terus bergerak dan bertransformasi. Di kota inilah jutaan orang datang membawa harapan, mimpi, dan semangat untuk membangun masa depan yang lebih baik. Maka Waskita Karya merasa terhormat dapat menjadi bagian dari perjalanan panjang pembangunan Jakarta melalui berbagai karya infrastruktur yang mendukung mobilitas, produktivitas, dan kualitas hidup masyarakat," ujar Corporate Secretary Waskita Karya, Ermy Puspa Yunita, dalam keterangan resminya pada Selasa, 23 Juni 2026.
Ermy menambahkan bahwa pembangunan infrastruktur tidak hanya berhenti pada penyediaan konektivitas fisik semata, melainkan juga menciptakan dampak ekonomi dan sosial yang berkelanjutan bagi masyarakat luas. Oleh karena itu, Waskita Karya terus berkomitmen untuk menghadirkan infrastruktur berkualitas tinggi yang tidak hanya memperkuat daya saing Jakarta sebagai kota global, tetapi juga memberikan manfaat nyata dan jangka panjang bagi seluruh lapisan masyarakat.
Sejak tahun 1973, Waskita Karya telah menorehkan jejak kontribusinya dalam pembangunan Jakarta. Selama lebih dari lima dekade, perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini telah menghadirkan berbagai infrastruktur yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari warga Jakarta. Jaringan infrastruktur ini mencakup sarana transportasi publik yang vital, gedung-gedung pencakar langit yang menjadi landmark, fasilitas kesehatan modern, pusat-pusat bisnis strategis, hingga bangunan bersejarah yang memiliki nilai penting bagi bangsa.
Salah satu karya Waskita Karya yang kini menjelma menjadi ikon baru ruang publik di Jakarta adalah Halte Transjakarta Tosari. Berlokasi strategis di kawasan Bundaran HI, desain halte yang menyerupai kapal pesiar ini tidak hanya berfungsi sebagai simpul transportasi yang modern, tetapi juga telah menjadi destinasi favorit bagi masyarakat untuk menikmati panorama pusat Kota Jakarta. Keberadaan halte ini menawarkan perspektif baru bagi warga untuk mengapresiasi lanskap ibu kota dan menyaksikan langsung wajah modern Jakarta.
"Halte Tosari menunjukkan bahwa infrastruktur saat ini tidak hanya harus fungsional, tetapi juga mampu menghadirkan pengalaman baru bagi masyarakat. Dari atas halte tersebut, warga dapat menikmati lanskap Jakarta dari perspektif yang berbeda sekaligus melihat langsung wajah modern ibu kota," jelas Ermy.
Dalam upaya mendukung transformasi transportasi perkotaan yang lebih baik, Waskita Karya juga turut serta dalam revitalisasi sejumlah halte strategis lainnya. Halte Dukuh Atas 1 dan Cikoko, misalnya, telah direvitalisasi dan kini terintegrasi penuh dengan jaringan LRT Jabodebek. Revitalisasi ini mencakup penambahan fasilitas yang ramah disabilitas, area komersial yang fungsional, serta ruang publik yang lebih nyaman, semuanya bertujuan untuk menciptakan sistem transportasi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Kontribusi signifikan Waskita Karya terhadap peningkatan konektivitas di Jakarta juga terlihat jelas melalui pembangunan Stasiun BNI City. Stasiun ini telah menjadi salah satu gerbang utama bagi mobilitas masyarakat yang melakukan perjalanan menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Infrastruktur ini tidak hanya memperkuat integrasi antarmoda, tetapi juga sangat mendukung mobilitas jutaan warga dan pelaku usaha yang melintasi Jakarta setiap tahunnya.
Selain memfokuskan pada konektivitas, Waskita Karya juga berperan penting dalam membangun sejumlah landmark yang kini menghiasi cakrawala Jakarta. Salah satu yang paling ikonik adalah Wisma 46, yang hingga kini tetap berdiri sebagai salah satu gedung tertinggi dan paling dikenal di Indonesia. Dengan desain arsitektur yang khas dan ketinggian mencapai 262 meter, bangunan ini menjadi simbol modernisasi Jakarta sekaligus pusat aktivitas bisnis nasional yang vital.
Lebih lanjut, Perseroan juga terlibat dalam pembangunan Plaza Mandiri, yang kini telah bertransformasi menjadi Wisma Danantara Indonesia. Gedung ini kini menjadi kantor Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPDN) dan menjadi simbol baru dalam pengelolaan investasi strategis nasional Indonesia. "Kami bangga karena berbagai karya yang dibangun Waskita tidak hanya menjadi aset fisik, tetapi juga terus dimanfaatkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, pelayanan publik, dan agenda strategis pemerintah," ungkap Ermy.
Jejak pembangunan Waskita Karya juga terbentang di kawasan Kompleks Bank Indonesia, di mana perusahaan ini membangun sejumlah menara dan fasilitas pendukung yang hingga kini memegang peranan penting dalam operasional bank sentral. Konsistensi dalam menjaga kualitas konstruksi telah memastikan berbagai bangunan tersebut tetap berfungsi optimal selama bertahun-tahun.
Tidak hanya proyek berskala besar, Waskita Karya juga berkontribusi dalam pembangunan berbagai fasilitas yang setiap hari dimanfaatkan oleh masyarakat luas. Ini mencakup pusat perbelanjaan modern, hotel, rumah ibadah, perpustakaan nasional, hingga berbagai fasilitas kesehatan yang krusial.
"Tidak banyak yang mengetahui bahwa sejumlah ikon Jakarta seperti Senayan City, Kota Kasablanka, Perpustakaan Nasional, Masjid Istiqlal, Terowongan Silaturahmi, hingga berbagai fasilitas kesehatan strategis merupakan bagian dari jejak karya Waskita. Ini menjadi bukti bahwa pembangunan bukan hanya soal konstruksi, tetapi juga tentang menghadirkan manfaat sosial dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat," ujar Ermy.
Dalam sektor kesehatan, Perseroan telah berkontribusi dalam pembangunan dan pengembangan sejumlah fasilitas kesehatan vital. Di antaranya adalah Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Fatmawati, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pasar Minggu, serta Rumah Sakit Darurat COVID-19 di Kemayoran yang memegang peranan krusial selama masa pandemi.
Saat ini, Waskita Karya tengah menyelesaikan pembangunan Kantor Kedutaan Besar India di Jakarta Selatan. Proyek ini diharapkan tidak hanya akan memperkuat posisi Jakarta sebagai pusat diplomasi internasional, tetapi juga menunjukkan kepercayaan global terhadap kemampuan konstruksi nasional Indonesia.
"Selama lebih dari setengah abad, Waskita bertumbuh bersama Jakarta. Kami tidak hanya membangun gedung dan infrastruktur, tetapi juga ikut membangun konektivitas, produktivitas, dan masa depan kota yang menjadi pusat aktivitas ekonomi Indonesia. Komitmen itu akan terus kami lanjutkan untuk mendukung Jakarta menuju usia 500 tahun dan seterusnya," pungkas Ermy.











