Tuesday, 14 July 2026
BREAKING
DUNIA

Trump Gencar Desak Sekutu: ‘Bayar Keamanan Selat Hormuz, AS Tak Bisa Sendirian!’

Oleh Heni Maulidya July 14, 2026 2 hours lalu 0 komentar

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan pernyataan kontroversial terkait peran Negeri Paman Sam dalam menjaga keamanan Selat Hormuz. Ia menegaskan bahwa AS adalah pelindung utama di jalur strategis tersebut.

Dalam sebuah pernyataan yang cukup tegas, Trump menuntut negara-negara lain yang turut diuntungkan dari kelancaran jalur pelayaran di Selat Hormuz untuk turut berkontribusi dalam pembiayaan keamanan. Menurutnya, AS tidak dapat terus-menerus menanggung beban finansial sendirian.

Trump berargumen bahwa stabilitas dan keamanan Selat Hormuz sangat krusial bagi perekonomian global. Jutaan barel minyak mentah melintasi perairan vital ini setiap harinya. Oleh karena itu, negara-negara yang bergantung pada pasokan energi dari kawasan ini sudah seharusnya ikut serta dalam menjaga keamanannya.

Pernyataan ini bukan kali pertama dilontarkan oleh Trump. Sejak awal masa kepresidenannya, ia kerap mengkritik sekutu-sekutu AS yang dianggapnya kurang berkontribusi dalam berbagai aspek pertahanan. Trump merasa AS telah mengeluarkan dana besar untuk menjaga perdamaian dan kebebasan navigasi di berbagai wilayah strategis dunia.

Selat Hormuz sendiri merupakan titik sempit antara Teluk Persia dan Teluk Oman. Lokasinya yang strategis menjadikannya salah satu jalur pelayaran paling penting di dunia, terutama untuk distribusi minyak mentah dari Timur Tengah.

Ancaman terhadap kelancaran pelayaran di selat ini kerap muncul, memicu kekhawatiran akan lonjakan harga minyak global. Kehadiran angkatan laut AS di kawasan ini secara historis berperan penting dalam mencegah gangguan dan memastikan aliran energi tetap lancar.

Trump berulang kali menekankan bahwa negara-negara lain harus lebih aktif mengambil peran dan tanggung jawab. Ia secara spesifik meminta negara-negara yang menikmati manfaat dari jalur pelayaran yang aman untuk membayar biaya yang telah dikeluarkan AS. Tuntutan ini menjadi bagian dari agenda ‘America First’ yang diusung oleh pemerintahannya.

Belum ada tanggapan resmi dari negara-negara yang menjadi sasaran tuntutan Trump. Namun, pernyataan ini diprediksi akan kembali memicu perdebatan sengit mengenai pembagian beban keamanan internasional. Sejumlah analis menilai, desakan Trump ini berpotensi mengubah dinamika hubungan diplomatik dan pertahanan AS dengan para sekutunya.

Langkah ini juga dapat diartikan sebagai upaya Trump untuk menekan sekutu agar lebih mandiri dalam menjaga keamanan regional mereka sendiri. Implikasinya bisa sangat luas, terutama bagi negara-negara yang sangat bergantung pada perlindungan AS.

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Artikel Terkait