Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan pernyataan kontroversial yang meremehkan kesedihan jutaan warga Iran yang berduka atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Trump bahkan menyiratkan ancaman serangan militer yang mengerikan di tengah prosesi pemakaman yang berlangsung Minggu (5/7) waktu setempat.
Dalam wawancara singkat melalui telepon dengan media Axios, Trump mengaku terkejut melihat ribuan warga Iran menangis histeris di pemakaman Khamenei. Ia mengaku sebelumnya mengira rakyat Iran membenci pemimpin mereka. Namun, Trump menduga kesedihan yang terlihat hanyalah sandiwara belaka. "Mungkin itu air mata palsu," ujar Trump pada Sabtu (4/7).
Tak berhenti di situ, Trump secara terang-terangan mengancam akan menghancurkan Iran dalam sekejap mata. "Satu tembakan saja, kami bisa menghabisi mereka semua," tegasnya. Namun, ia mengklaim tidak akan melakukannya demi menjaga jalur negosiasi dengan Iran tetap terbuka. Trump beralasan, Amerika Serikat masih membutuhkan pihak untuk diajak berunding di masa depan.
Prosesi pemakaman Khamenei sendiri dihadiri puluhan ribu warga Iran di kompleks salat terbuka Teheran. Sejak pagi, kerumunan pelayat memadati halaman luas Imam Khomeini Grand Mosalla. Mereka mengenakan pakaian serba hitam, membawa bendera Iran, serta mengibarkan potret Khamenei dan putranya, Mojtaba Khamenei.
Suasana duka terasa kental. Para pelayat memukul dada, meratap, dan meneriakkan yel-yel. Beberapa perempuan yang mengenakan cadar hitam dan pelindung wajah tampak berusaha menahan terik matahari. "Mari kita meratap!" seru seorang pembawa acara melalui pengeras suara. Teriakan "Mati untuk Amerika" menggema di seluruh penjuru.
Seorang pelayat, Arash Rahimi (40), menyatakan keinginan rakyat Iran untuk membalas dendam atas kematian pemimpin mereka. "Kami memiliki dendam darah terhadap Amerika Serikat. Hubungan kami dengan Amerika Serikat tidak akan pernah baik," ungkapnya kepada Reuters.
Acara pemakaman ini juga dihadiri oleh sejumlah tokoh penting Iran. Tiga putra Khamenei, yakni Masoud, Meysam, dan Mostafa, terlihat hadir dalam salat jenazah. Namun, Mojtaba Khamenei absen karena alasan keamanan di tengah ancaman dari Israel. Komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Ahmad Vahidi juga tampak dalam pantauan video yang disiarkan AP. Salat jenazah dipimpin oleh Ayatollah Jafar Sobhani, salah satu tokoh agama senior Iran.
Selain keluarga, pejabat tinggi yang hadir termasuk Presiden Masoud Pezeshkian, Ketua Majelis Permusyawaratan Mohammad Bagher Ghalibaf, Kepala Kehakiman Gholamhossein Mohseni Ejei, dan Komandan Pasukan Quds IRGC Esmail Qaani. Mereka semua turut mengantarkan jenazah Ayatollah Ali Khamenei ke peristirahatan terakhirnya.











