SEPANG, SELANGOR – Kasus dugaan pembunuhan keji terhadap Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Aceh Tamiang, Putry Hensy Aprilda (22), beserta bayinya yang masih merah, menggemparkan warga. Peristiwa nahas ini terjadi di Sepang, Selangor, Malaysia. Pihak kepolisian setempat telah bergerak cepat dan menangkap seorang perempuan yang diduga sebagai pelaku.
Pelaku yang kini telah diamankan adalah Cin Sau Lan, yang diketahui merupakan majikan korban. Penangkapan ini dibenarkan oleh Ketua DPCLN Sarbumusi Malaysia, Farhan Rohim. Ia menyatakan bahwa informasi penangkapan pelaku telah diterima pihaknya.
“Terkait kasus itu pelaku sudah ditangkap, menurut informasi pelaku adalah majikan perempuannya,” ungkap Farhan Rohim saat dihubungi pada Minggu (5/7/2026).
Kasus ini mendapat perhatian serius dari berbagai pihak. Ormas-ormas di Aceh bersama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Malaysia tengah mengawal proses hukumnya. Jenazah Putry Hensy Aprilda dan bayinya telah berhasil dipulangkan ke tanah air, tepatnya di Kabupaten Aceh Tamiang.
Peristiwa tragis ini pertama kali terungkap berkat koordinasi antara Atase Kepolisian KBRI Kuala Lumpur dengan tim Gabungan Aceh Bersatu (GAB) di Malaysia. Mereka melakukan pencarian terhadap ahli waris korban berdasarkan hasil identifikasi jenazah oleh Pusident Bareskrim Polri.
Anggota DPD RI asal Aceh, Sudirman Haji Uma, turut serta berkoordinasi dengan aparat pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang. Tujuannya adalah untuk memastikan keluarga korban yang diduga tewas pada 3 Juni 2026 itu segera mendapatkan informasi dan penanganan.
Dugaan sementara, motif di balik aksi sadis ini adalah persoalan utang piutang. Kepolisian Malaysia (PDRM) disebut telah mengantongi bukti kuat yang mengarah pada tindak pidana.
Jika terbukti bersalah, pelaku Cin Sau Lan terancam hukuman maksimal yang berlaku di Malaysia. Hukuman tersebut bisa berupa hukuman mati atau penjara seumur hidup.
Putry Hensy Aprilda sendiri diketahui merupakan sosok yatim piatu. Ia selama ini hidup bersama neneknya dalam kondisi ekonomi yang sederhana. Ia telah bekerja di Malaysia selama kurang lebih tiga tahun untuk mencari nafkah. Peristiwa ini menjadi pengingat akan rentannya posisi pekerja migran di luar negeri.











