Sekelompok migran asal Afghanistan mengalami nasib memilukan saat mencoba menembus wilayah Eropa melalui Turki. Sebanyak 12 orang pria dan remaja melaporkan tindakan kekerasan brutal oleh petugas perbatasan Turki pada Januari lalu. Mereka mengaku dipukuli dengan batang besi sebelum akhirnya dibiarkan kedinginan di tengah badai salju.
Para korban merupakan bagian dari kelompok beranggotakan 50 orang yang ditangkap di kota Van. Saat suhu udara anjlok hingga minus 15 derajat Celcius, mereka dipaksa bekerja kasar. Setelah itu, mereka dipukuli hingga terluka parah dan dilucuti pakaiannya oleh aparat setempat.
Shahsawar, salah satu migran berusia 21 tahun, menceritakan kengerian saat harus merangkak di salju dengan tangan terikat. Ia kemudian sadar di rumah sakit Kabul dengan kondisi tangan dan kakinya telah diamputasi. Selain dirinya, 10 rekan lainnya juga harus kehilangan anggota tubuh akibat radang dingin ekstrem.
Kisah kelam ini diperkuat dengan temuan jenazah rekan mereka, Danial, yang tewas membeku di gunung. Asim, remaja berusia 13 tahun, berhasil selamat berkat petunjuk yang ia berikan saat ditemukan tim pencari. Namun, mayoritas dari mereka tetap mengalami cacat permanen karena keterlambatan penanganan medis yang memadai.
Aktivis hak asasi manusia di Van menyebut praktik penolakan migran atau push-back sering terjadi di wilayah tersebut. Peningkatan pengawasan perbatasan Turki pasca-pengambilalihan kekuasaan Taliban di Afghanistan memicu penggunaan jalur yang lebih berbahaya. Para migran terpaksa menempuh medan pegunungan yang ekstrem demi mencari kehidupan yang lebih baik.
Menanggapi tuduhan tersebut, Kementerian Luar Negeri Turki membantah keras segala bentuk penganiayaan terhadap migran. Pihak kementerian mengklaim telah menjalankan tugas sesuai hukum nasional maupun internasional. Mereka menegaskan bahwa Turki selalu menyediakan bantuan medis serta kebutuhan dasar bagi para pendatang ilegal.
Pemerintah Turki juga menyatakan bahwa langkah-langkah keamanan yang diambil bertujuan untuk menekan migrasi ilegal secara manusiawi. Meski demikian, laporan mengenai perlakuan buruk terhadap pencari suaka di perbatasan terus bermunculan dari berbagai organisasi kemanusiaan.
Saat ini, para korban yang selamat masih menjalani masa pemulihan di Afghanistan setelah dipulangkan oleh Bulan Sabit Merah. Tragedi ini menjadi catatan kelam bagi krisis kemanusiaan yang menimpa warga Afghanistan di jalur migrasi menuju Eropa. Kasus ini sekaligus menyoroti risiko mematikan yang harus dihadapi para pencari suaka di tengah ketegangan geopolitik kawasan.











