Tragedi Ganda Deportan Venezuela: Baru Tiba dari AS, Langsung Terjebak Gempa Dahsyat

Yohanes

Harapan hidup Abelardo Rincón pupus dalam sekejap setelah dipulangkan paksa oleh otoritas Amerika Serikat ke Venezuela. Pria berusia 23 tahun ini dideportasi tepat sebelum bencana gempa bumi kembar mengguncang tanah kelahirannya.

Rincón sebelumnya menetap selama enam tahun di Georgia, AS, dan menanti kelahiran anak pertamanya. Namun, kebijakan imigrasi ketat membuatnya ditahan dan diterbangkan kembali ke Venezuela pada 24 Juni lalu.

Bersama 140 orang lainnya, ia ditempatkan di Hotel Santuario La Llanada, La Guaira. Lokasi itu menjadi tempat penampungan sementara sebelum bencana alam besar meluluhlantakkan wilayah tersebut.

Beberapa jam setelah tiba, gempa dahsyat menghantam Venezuela dan menewaskan setidaknya 2.200 orang. Puluhan ribu orang lainnya dinyatakan hilang, termasuk Rincón dan para deportan lainnya.

Keluarga korban kini terjebak dalam keputusasaan yang mendalam. Mereka harus menghadapi kenyataan pahit setelah proses penangkapan, deportasi, hingga musibah bencana alam dalam waktu singkat.

Kakek Rincón, Jose Rincón, mengaku telah mencari cucunya ke berbagai kamar mayat di Caracas. Upayanya mengunjungi reruntuhan hotel pun terhalang oleh otoritas setempat yang menyatakan tidak ada kehidupan lagi di sana.

Situasi serupa dialami keluarga Darwin Eliecer Serrano Lopez. Sebelum gempa terjadi, Lopez sempat menghubungi sepupunya untuk mengabarkan bahwa ia telah kembali ke tanah air.

Keluarga Lopez kini hanya bisa pasrah menunggu kabar, meski harapan untuk menemukannya dalam keadaan selamat kian menipis. Mereka bersikeras mencari hingga jenazah ditemukan untuk dibawa pulang.

Di sisi lain, Departemen Keamanan Dalam Negeri AS menolak memberikan rincian mendalam terkait kasus ini. Mereka menyatakan tanggung jawab mereka berakhir saat individu tersebut tidak lagi berada dalam tahanan imigrasi.

Di balik tragedi ini, segelintir deportan berhasil selamat dari reruntuhan bangunan. Salah satunya adalah Lisbeth Portillo yang mengaku selamat setelah terjepit di antara puing-puing hotel.

Nasib berbeda dialami Anderson Daniel Salcedo yang ditemukan di rumah sakit dalam kondisi kritis. Pria berusia 22 tahun itu harus merelakan kedua kakinya diamputasi akibat terjebak reruntuhan selama 40 jam.

Hingga kini, keluarga para korban masih berjuang mencari kejelasan nasib orang-orang terkasih mereka. Pencarian di tengah reruntuhan menjadi simbol duka bagi mereka yang terusir dari AS lalu diterjang bencana.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All