Film thriller aksi asal Hong Kong, The Furious, sukses besar menggemparkan box office global sejak dirilis pada akhir pekan pertengahan Juni 2026. Film yang disutradarai oleh Kenji Tanigaki ini berhasil menduduki puncak tangga pendapatan, membuktikan daya tarik sinema aksi berkualitas tinggi di pasar internasional. Distribusi di Amerika Serikat ditangani oleh Lionsgate, yang turut berperan dalam memuluskan jalan film ini ke berbagai layar lebar.
Mengangkat tema perdagangan manusia yang berlatar di kawasan Asia Tenggara, The Furious menawarkan premis cerita yang mungkin terasa familiar bagi penggemar genre aksi. Beberapa kritikus menyamakannya dengan alur cerita film Taken, namun keunggulan film ini terletak pada eksekusi koreografi laga yang memukau. Intensitas dan detail setiap adegan pertarungan menjadi magnet utama yang berhasil menarik perhatian penonton dari berbagai belahan dunia.
Inti cerita The Furious berpusat pada sosok Wang Wei, seorang pekerja lepas tunawicara yang diperankan dengan apik oleh Xie Miao. Kehidupan Wang Wei bergejolak ketika putrinya diculik. Dalam upaya heroik untuk menyelamatkan sang anak, Wang Wei harus berhadapan dengan jaringan kriminal yang kejam. Dalam perjalanannya, ia menemukan sekutu tak terduga dalam diri Navin, seorang jurnalis pemberani yang diperankan oleh aktor laga kebanggaan Indonesia, Joe Taslim. Kolaborasi tak biasa ini menjadi salah satu daya tarik utama yang menambah kedalaman narasi film.
Kehebatan The Furious tidak lepas dari tangan dingin koreografer laga Kensuke Sonomura. Ia meramu berbagai disiplin bela diri seperti wushu, judo, taekwondo, dan muay thai menjadi rangkaian aksi yang agresif dan memanjakan mata. Setiap gerakan dirancang dengan presisi, menciptakan pertarungan yang brutal namun artistik. Visualisasi pertarungan yang dinamis ini menjadi elemen krusial yang membedakan The Furious dari film aksi lainnya.
Namun, dalam versi internasionalnya, The Furious tidak luput dari kritik. Penggunaan dialog berbahasa Inggris yang disematkan dalam film ini dinilai terdengar kaku dan kurang natural oleh sebagian penonton maupun kritikus. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai proses penggarapan dialog dan dubbing untuk pasar global, yang terkadang menjadi tantangan tersendiri bagi film-film produksi Asia.
Selain penampilan memukau dari Joe Taslim, The Furious juga turut diramaikan oleh kehadiran aktor laga senior Indonesia lainnya, Yayan Ruhian. Yayan Ruhian mengambil peran sebagai tangan kanan dari pemimpin gerombolan penjahat bernama Paklung. Kehadiran kedua aktor Indonesia ini semakin memperkuat nuansa laga yang mengingatkan para penikmat film pada karya-karya ikonik seperti The Raid. Kombinasi talenta akting dan bela diri dari Indonesia memberikan dimensi autentik pada film ini.
Para kritikus film mencatat adanya perbedaan signifikan antara versi rilis di China dengan versi internasional. Dalam versi China, porsi karakter Wang Wei mendapatkan porsi cerita yang lebih besar, memberikan ruang lebih luas bagi perkembangan karakternya. Selain itu, versi China juga diduga menyisipkan petunjuk-petunjuk halus yang mengarah pada potensi sekuel film, sebuah strategi yang umum digunakan untuk membangun antisipasi penggemar.
Popularitas The Furious di pasar global tidak hanya mencerminkan kualitas produksi filmnya, tetapi juga tren peningkatan apresiasi terhadap sinema aksi Asia di kancah internasional. Keberhasilan film ini membuka peluang lebih luas bagi sineas dan aktor dari Asia untuk menunjukkan bakat mereka kepada audiens dunia. Kolaborasi lintas negara seperti yang terjadi dalam The Furious menjadi formula yang semakin umum dan terbukti efektif dalam meraih kesuksesan komersial.
Kisah Wang Wei yang penuh aksi dan perjuangan, ditambah dengan kolaborasi bintang internasional seperti Joe Taslim dan Yayan Ruhian, tampaknya menjadi resep jitu yang berhasil memikat hati penonton global. Pendorongan batas-batas genre aksi melalui koreografi yang inovatif dan cerita yang menggugah membuat The Furious layak mendapatkan predikat sebagai salah satu film aksi paling sukses di tahun 2026. Perjalanan film ini di box office diprediksi akan terus berlanjut, seiring dengan ulasan positif yang mulai bermunculan dari berbagai media internasional. Keberhasilan ini juga menjadi bukti nyata bahwa kualitas cerita dan aksi yang kuat mampu menembus batas bahasa dan budaya.











