Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed) secara resmi mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50-3,75%. Keputusan yang diambil setelah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) selama dua hari ini, memberikan sinyal kuat bahwa potensi kenaikan suku bunga pada akhir tahun 2026 semakin menguat. Hal ini didorong oleh kekhawatiran yang terus meningkat mengenai inflasi yang masih bertahan di atas target 2% yang ditetapkan oleh The Fed.
Keputusan The Fed ini tertuang dalam pernyataan resmi yang dirilis pada Rabu waktu Amerika Serikat atau Kamis dini hari waktu Indonesia. Dalam pernyataannya, The Fed mengonfirmasi bahwa aktivitas ekonomi Amerika Serikat masih menunjukkan pertumbuhan yang solid. Namun, di sisi lain, inflasi tetap menjadi perhatian utama karena belum kembali ke level target 2%.
"Aktivitas ekonomi terus tumbuh dengan laju yang solid meskipun ketidakpastian masih tinggi, yang sebagian disebabkan oleh konflik di Timur Tengah. Pertumbuhan produktivitas dan investasi modal tetap kuat. Pertambahan lapangan kerja berjalan seiring dengan pertumbuhan angkatan kerja, sementara tingkat pengangguran relatif tidak banyak berubah," demikian bunyi pernyataan The Fed.
Situasi inflasi yang masih tinggi menjadi dasar The Fed menegaskan kembali komitmennya untuk mengembalikan stabilitas harga. Gangguan pasokan yang terus berlanjut, termasuk lonjakan harga di sektor energi, turut berkontribusi terhadap kenaikan inflasi yang melampaui target. Dalam pernyataannya, The Fed juga menekankan bahwa mereka akan mempertahankan kebijakan cadangan likuiditas yang memadai di sistem perbankan. Ini mengindikasikan belum ada rencana dalam waktu dekat untuk mengurangi kepemilikan obligasi pada neraca The Fed yang mencapai sekitar US$6,7 triliun.
Keputusan mempertahankan suku bunga kali ini diambil secara bulat, berbeda dengan rapat sebelumnya di bulan April yang sempat memicu perdebatan sengit mengenai arah kebijakan moneter di masa depan atau forward guidance. Saat itu, beberapa presiden bank sentral regional menginginkan The Fed tetap membuka opsi untuk kenaikan maupun penurunan suku bunga.
Salah satu perubahan mencolok dalam pernyataan terbaru The Fed adalah penyederhanaan bahasa dan penekanan pada isu-isu krusial. Pernyataan kali ini jauh lebih ringkas, hanya terdiri dari 130 kata, dibandingkan dengan 341 kata pada rapat April lalu. Isinya difokuskan pada rangkuman kondisi ekonomi terkini dan penegasan komitmen dalam mengendalikan inflasi. Lebih signifikan lagi, The Fed secara eksplisit menghapus seluruh panduan forward guidance dari pernyataannya. Perubahan ini dianggap sebagai indikasi awal pergeseran strategi di bawah kepemimpinan Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh.
Ketua The Fed, Kevin Warsh, dalam konferensi pers pasca-pertemuan, menegaskan kembali bahwa target inflasi 2% tidak akan berubah. Menurutnya, pembahasan mengenai penyesuaian target baru akan relevan setelah The Fed berhasil membawa inflasi kembali ke sasaran tersebut. "Komitmen untuk mencapai target itu kuat, bulat, dan tidak ambigu," ujar Warsh, mengutip CNBC International. Pernyataan ini disampaikan di tengah data inflasi konsumen AS pada Mei 2026 yang tercatat sebesar 4,2% secara tahunan, sementara inflasi berdasarkan indeks PCE pada April mencapai 3,8%, masih jauh dari target.
Warsh mengakui adanya kegagalan The Fed dalam menyampaikan secara efektif komitmennya memerangi inflasi selama beberapa tahun terakhir. Oleh karena itu, salah satu gugus tugas (task force) yang dibentuk akan secara khusus mengevaluasi strategi komunikasi bank sentral. Menanggapi pertanyaan mengenai hubungannya dengan Presiden Donald Trump, Warsh memilih untuk tidak berkomentar, namun posisinya dinilai berbeda dibandingkan Jerome Powell yang kerap menjadi sasaran kritik Trump. Warsh memulai masa jabatannya dengan dukungan dari Gedung Putih, namun tetap menghadapi tantangan dalam menjaga independensi The Fed di tengah tekanan politik untuk segera menurunkan suku bunga.
Pernyataan kebijakan terbaru The Fed yang menghapus kalimat-kalimat yang sebelumnya mengindikasikan kemungkinan penurunan suku bunga lebih lanjut tahun ini, semakin memperkuat sinyal hawkish. Warsh menyatakan bahwa The Fed sengaja tidak memberikan forward guidance karena dianggap tidak sesuai dengan kondisi ekonomi saat ini. "Mengenai prospek kebijakan moneter, saya tidak bisa memberikan panduan tentang apa yang akan kami lakukan selanjutnya. Kabar baiknya, kami akan kembali bertemu dalam enam minggu," kata Warsh, seperti dikutip Reuters.
Pembentukan sejumlah gugus tugas baru oleh Warsh menjadi perhatian. Gugus tugas ini akan meninjau berbagai aspek operasional The Fed, mulai dari strategi komunikasi, penggunaan neraca keuangan (balance sheet), sumber data yang digunakan, hingga kerangka kerja pengendalian inflasi.
Dalam dokumen "dot plot" yang dirilis, 18 dari 19 pembuat kebijakan The Fed menyerahkan proyeksi suku bunga mereka. Proyeksi median suku bunga federal funds pada akhir 2026 mengalami kenaikan menjadi 3,8%, dari sebelumnya 3,4% pada proyeksi Maret. Angka ini mengindikasikan mayoritas pejabat The Fed melihat kenaikan suku bunga setidaknya satu kali tahun ini sebagai langkah yang diperlukan. Namun, pandangan para pejabat masih terbelah; delapan pejabat memperkirakan suku bunga tidak berubah, satu pejabat masih melihat peluang pemangkasan, sementara sembilan lainnya memperkirakan setidaknya satu kali kenaikan.
Perubahan proyeksi kebijakan ke depan juga terlihat jelas. Indikasi pemangkasan suku bunga pada tahun ini telah dihapus dari dot plot terbaru. Pemangkasan baru diperkirakan baru akan terjadi pada 2027 dan 2028, seiring pejabat The Fed mengevaluasi apakah lonjakan inflasi akibat konflik geopolitik bersifat sementara atau permanen. Proyeksi median suku bunga pada akhir tahun ini di level 3,8% mengindikasikan peluang kenaikan suku bunga kini semakin nyata.
Dari sisi proyeksi ekonomi, The Fed merevisi naik perkiraan inflasi 2026 menjadi 3,6% untuk inflasi umum dan 3,3% untuk inflasi inti, meningkat signifikan dari perkiraan 2,7% pada proyeksi Maret. Sebaliknya, proyeksi pertumbuhan ekonomi sedikit diturunkan menjadi 2,2%, namun proyeksi tingkat pengangguran direvisi turun menjadi 4,3%.
Lonjakan inflasi terkini menempatkan para pembuat kebijakan The Fed dalam posisi dilematis. Secara teori, guncangan pasokan jangka pendek seperti kenaikan harga energi akibat konflik biasanya diabaikan. Namun, kali ini inflasi kembali meningkat ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, dengan inflasi AS pada Mei mencapai 4,2% secara tahunan, tertinggi sejak 2023. Inflasi inti berada di level 2,9%.
Sementara itu, pasar tenaga kerja Amerika Serikat tetap tangguh, menambah kerumitan prospek pemangkasan suku bunga. Data nonfarm payrolls pada Mei menunjukkan penambahan 172.000 lapangan kerja, jauh melampaui ekspektasi pasar, sementara tingkat pengangguran bertahan di 4,3%. Sebelum keputusan ini diumumkan, pelaku pasar memang tidak lagi banyak memperkirakan adanya pemangkasan suku bunga pada 2026. Sinyal hawkish dari The Fed ini membuat pelaku pasar menggeser ekspektasi kenaikan suku bunga lebih cepat. Peluang kenaikan suku bunga pada Oktober 2026 kini mencapai 60,7%, naik signifikan dibandingkan perkiraan sebelumnya yang mengarah pada Desember.











